
*Ibban Nizami
Ibuk mencandaiku. Tangannya terus memijat-mijat pahaku. Lalu, meminta tanganku supaya kuluruskan. Ibuk menekan-nekannya. Merambat sampai ke siku. Aku meringis sakit.
"Karena ndak pernah dipijati ya begini. Sakit semua. Besok kalau sudah punya istri, yang baik yo, Le. Sing gemati tenan (yang sayang). Ayem kalau istrimu nanti bisa mijitin kamu. Istrimu yang pijit-pijit, kamu yang salawatan."
"Ya Allah, Buk njenengan kok romantis."
"Loh lha yo harus, Zam. Ayahmu dulu seperti itu. Kata Ayahmu, Ayahmu itu paling seneng kalau Ibuk pijit. Cuman Ayahmu ndak punya suara bagus. Jadi yang salawatan Ibuk."
"Buk, cobi njenengan salawatan. Agih, Buk! Dulu Ibuk katanya mantan penyanyi balasik."
Tawa ibuk seketika pecah. Memukul keras-keras pahaku. Aku meringis lirih. Menghalau tangan ibuk yang hendak memukul lagi.
Aku merebah. Telentang. Berbantalkan paha ibuk. Kupejamkan mataku. Aku siap mendengarkan ibuk melantunkan nyanyian, salawat yang sudah tidak pernah kudengar dalam suasana seperti ini.
Pelan kudengar suara ibuk menyenandungkan nasamatu hawak. Meski sudah terdengar sedikit renta, tapi suara bening ibuk masih sangat khas. Walaupun, sekarang hanya terlatih dengan kegiatan rutinan diba' di rumah tetangga-tetangga.
"Pas rutinan barzanji, Ibuk tetap jadi rawinya?"
"Iya, Zam. Ibuk sebetulnya pengen yang lain saja. Yang muda-muda suaranya lebih cling dan fashih."
"Kadung cocok. Selain Ibuk sudah menjadi kepercayaan, ibuk jadi senior, suara Ibuk itu juga khas. Tidak berubah."
"Alah alah, Zam. Kok ngrayu Ibuk, luwe opo (lapar apa) gimana kamu ini hemm?"
Tawaku menyembur ke udara.
"Sudah malam, Buk. Njenengan istirahat saja sekarang. Ingat Ibuk harus jaga kesehatan. Ibuk harus berumur panjang sampai aku menikah nanti, nggeh, Buk."
"Aamiin. Semoga Ibuk bisa mendampingi kamu, Le."
Ibuk membelai kepalaku. Meraba rambutku yang kumal sudah empat hari tidak aku kerasami.
"Buk, rambutku bau, kan? Empat hari nggak keramas."
"Le, kelihatan jomblomu. Masih perjaka kalau tampil mbok yang primpen (rapi)."
"Enggeh nggeh, Buk."
Kegiatanku bersama ibuk saat aku berada di rumah kadang memang seperti ini. Berhubung ibuk hanya memiliki dua anak laki-laki, aku anak ragil yang diperlakukan seperti anak perempuan. Mendengar ibuk terus melantun tanpa putus, aku terbuai. Kelopak mataku terasa berat digerakkan.
__ADS_1
*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen
Kami berangkat ke Tulungagung. Sudah setengah perjalanan. Tapi, Iza menolak diajak walau sangat lebih baik jika dia memang ikut bersama kami. Saat semua orang tidak sabar menantikan perihal status Iza yang sebenarnya, aku cemas sejak tadi. Tetapi, aku tidak pantas mengkhawatirkannya karena apa yang hendak kami tuju sekarang ini adalah sesuatu yang paling dinanti-nanti. Hendaknya jika aku turut mendoakan yang terbaik.
Aku lihat abah dan ummik terus-terusan bersalawat.
"Bayi itu dulu saya kasih nama Shanna Zazlyn," kata Mbak Syawa.
"Mbak, Anda yakin?"
"Dengan kita menemui orang tua Iza, itu justru memudahkan langkah kita, Mas Fakhar. Karena kita sudah tahu Iza punya tanda lahir yang sama. Kebetulan dia juga beralamat di Tulungagung. Siapa tahu saja. Saya juga ingin sekali memastikan daripada saya juga terus merasa bersalah telah menelantarkan anak itu."
"Fakhar, sampeyan kudu trimo kenyataan yen misale Iza tenan Adikmu."
Terjemah: (Fakhar, kamu harus menerima kenyataan jika misalnya Iza beneran Adikmu)
"Nikahanmu karo Nduk Ulya iso ndang dilaksanakne."
Terjemah: (Pernikahanmu dengan Nduk Ulya bisa segera dilaksanakan)
"Insyaallah."
Aku memberi aba supaya mobil berjalan mengikuti langkahku. Ada salah seorang anak remaja masuk halaman itu dengan mengendarai bentor butut. Aku memanggil anak itu.
"Assalamu'alaikum. Dek, betul ini rumahnya Iza. Ranaa Hafizah?"
"Ho.oh. Dia Mbakku. Siapa kamu?"
"Ngomong sama siapa lu?" tanya gadis muda di seberang pintu.
"Nggak tahu. Dia nyari Mbak Fizah. Au ah."
Remaja itu tak acuh.
"Siapa, Nduk?"
Aku menyeringai begitu mengenali wanita yang terakhir bertanya. Aku menoleh ke belakang. Kuberi isyarat dengan anggukan. Mereka yang di dalam mobil pun turun. Ummik menuntun abah. Pintu mobil ditutup bersamaan. Aku mendahului jalan.
"Ibu Mini yang ke rumah bulan lalu?"
"Ini yang anu to...itu yang namanya Gus Faf...fafar. Iya Fafar nggeh?"
__ADS_1
"Fakhar."
"Owalah nggeh. Monggo, Gus! Ya Allah, ngapunten banget. Ngapunten." Dia berjingkat-jingkat mempersilakan kami masuk.
Bu Mini menyuruh gadis dan remaja itu supaya cepat menyingkirkan kursi dan supaya menggantikannya dengan kloso (sejenis karpet anyaman).
Aku menahan langkah. Kubiadkan mereka menyiapkan apa yang akan mereka siapkan. Bu Mini terlihat begitu gupuh. Mondar-mandir ke sana ke mari sembari memarahi dua orang itu karena tidak bersegera mematuhi perintahnya. Lalu, gadis itu mempersilakan kami masuk tanpa sambutan wajah yang semringah. Perkiraan dia adalah saudara Iza. Gadis itu menyalakan lampu. Remaja laki-laki itu melepaskan kaus oblongnya, lalu memasuki ruangan. Satu-satunya yang menyita perhatianku adalah lemari kaca yang berisi piala dan sertifikat penghargaan. Meski tidak banyak, tapi ruangan yang pemandangannya kelam ini tampak lebih hidup.
"Palingan kae pialane Iza." Umi yang berkata.
Terjemah: (Paling itu pialanya Iza)
Bu Mini keluar. Membawakan teh dan kopi yang jumlahnya melebihi kami.
"Kok banyak, Bu. Matur sembah nuwun," kataku.
"Nggeh, Gus. Lha ketimbang mangke mboten purun ngunjuk (nanti tidak mau meminum). Monggo Pak Kiai, Bu Nyai, Mbak, Mas, diminum. Seadanya."
"Bu, maaf saya tidak paham bahasanya. Pakai bahasa Indonesia saja, okey. Saya Syawa dari Madura. Ini suami."
Bu Mini langsung mengiyakan.
"Sebentar." Bangkit dengan tergesa-gesa.
Lima menit kembali. Ada buah salak, pisang, dan jambu.
"Panenan sendiri. Silakan diicip." Bu Mini menawarkan dengan sangat ramah. Khas orang pegunungan yang kalau kata orang desa, itu sebutannya blater.
"Asrep nggeh mriki," kata abah.
Terjemah: (Dingin ya di sini)
"Alhamdulillah. Udaranya memang begini, Pak Kiai. Pegunungan. Kalau malam lebih dingin. Seperti buah-buahan ini, Pak Kiai, dingin. Tidak usah pakai kulkas."
Abah dan ummik tersenyum.
"Piala itu milik siapa?" tanya ummik.
"Itu milik Fizah, Bu Nyai. Alhamdulillaaaaah Fizah bisa berprestasi di sekolahannya."
Mohon maaf yang sebesar-besarnya up beberapa hari ini masih tersendat-sendat. Terima kasih dan selalu terima kasih untuk dukungan, doa, dan rentetan komentar yang hanya sy baca, tapi tidak pasti sy balas semuanya. Love you all... 🌷❤️🙏🌹Semoga Tuhan berkahi semua niat baik kita dan cita-cita yang hendak dilaksanakan..
__ADS_1