FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 14 “Aku Ingin Pergi”


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Sembari menunggu panggilan dan menunggu demam Ratna sedikit turun, aku merapalkan ayat yang masih kuingat. Hancur sudah. Hafalan itu telah berkeping-keping. Lagipula tidak ada penghafal yang bertempat di kolong sampah. Sudah bau busuk badan dan kotor pikiranku. Terlalu banyak energi negatif yang telah kuserap. Kenapa aku ditakdirkan mencecap kepahitan ini? Aku tak mampu membendung suasana hati yang tiba-tiba mendadak kacau balau.


Aku ingin pergi.


Dua butir mengayun perlahan. Lalu, kini menetesi surat dari surga yang kupegang. Surat itu adalah penenang. Kalimat demi kalimat yang ditata menjanjikan surga. Kubayangkan sosok lelaki penuh iman di dada. Seolah-olah dia benar-benar nyata di depanku, lalu memberikan penawar dengan berkata, “Mari pergi bersamaku!”


Tapi, surat itu belum datang lagi. Entah sudah datang, tapi disimpan Mas Hakim, atau Si Pengirim tak mau mengirim karena balasanku tak pernah sampai. Aku berharap surat itu datang lagi. Tapi, apalah aku bukan orang seperti yang dijelaskan kalimatnya. Tapi, sekali lagi firasatku mengatakan pengirim surat itu bukan orang biasa. Dia orang baik-baik. Dan, kapan-kapan lagi dia akan mengirimiku kembali sambil menanyakan kenapa suratku tidak sampai kepadanya.


“Fizah, kamu jadi keluar?” tanya Ratna.


Aku menoleh. “Aku akan mencobanya sekarang.”


Ratna melirik. “Apa itu?” Menatap sesuatu yang kupegang.


“Bukan apa-apa.” Kulipat dan kumasukkan dalam saku bajuku. Aku bangkit.


Aku menunggu pegawai lain keluar. Mereka yang keluar hanyalah mereka yang mendapatkan jadwal. Lima orang keluar bersamaan. Setelah guide itu pergi mengantar dan mengunci pintu depan dari luar, aku pergi lewat pintu belakang. Hanya akulah yang sering keluar lewat sana. Satu pintunya memang digembok dan dirantai, tapi pintu lainnya yang sudah tua itu gemboknya sudah rusak. Tapi, para guide tidak pernah sadar. Dan, anehnya tidak ada yang pernah berani berkeliaran di belakang kolong sampah ini. Cerita hantu-hantu yang diceritakan Pak Su dan Mas Hakim telah membuat semua orang ketakutan. Selain itu, kejadian-kejadian aneh juga pernah menimpa beberapa pegawai.


Pintu itu kubuka pelan-pelan. Meskipun pintu tua, pintu itu tidak menimbulkan bunyi apa-apa jika dibuka.


“Tapi, bukankah kabur sekarang lebih baik?” pikirku kemudian.


Aku kembali ke kamar.


“Ratna ayo kita keluar sekarang. Kamar mandi dan dapur sepi. Guide juga tidak ada. Kita akan ke gedung tua itu dulu,” bisikku.


“Kamu berani?”


“Tidak ada pilihan lain. Kita harus berani jika ingin selamat.”


“Setelah itu ke mana?”


“Aku juga bingung.” Di sekitar gedung kosong itu dibangun tembok setinggi tiga meter. Sulit dijangkau seorang perempuan.


“Kamu yakin kita akan aman?”


“Entahlah. Hatiku mengatakan apa pun yang terjadi malam ini, kita harus pergi. Tapi, kamu harus janji tetap kuat ke manapun kita pergi.”


“Aku percaya kamu.”


Kulihat nyala semangat di mata Ratna.


“Kamu bawa ini.”


Aku meringkasi surat dari surga, mukena dan sajadah, juga Alquranku.


“Kamu menyuruhku pakai jilbab?”

__ADS_1


“Kamu pakai nanti. Sekarang ganti pakaianmu dengan ini.”


Dia menurut kuperintah mengganti pakaiannya dengan lengan panjang.


“Bismillah.” Kugandeng telapak tangan Ratna.


“Kita tidak usah pakai sandal.”


Kumasukkan alas kakiku dan Ratna ke kresek satunya.


“Kamu nggak takut dimarahi Pak Su dan Mas Hakim? Kamu waktu itu sudah ditolong Mas Hakim.”


“Itu urusan mereka, Ratna. Dia bukannya menolongku. Nanti kuberitahu siapa Mas Hakim sebenarnya.”


“Maksudnya?”


Kuabaikan pertanyaannya.


“Pelan-pelan keluarnya.” Aku menyuruhnya keluar lebih dulu.


Lantas, aku menyusul kemudian. Gembok rusak itu tetap dalam keadaan seperti semula.


“Aku takut, Fizah.”


“Sama. Tapi, keadaan kita seperti ini. Kita harus keluar. Harus. Kita akan cari pekerjaan di luar.” Sembari mendekati gedung tua yang menyeramkan itu.


“Kita ke ruangan itu dulu.”


“Gelap banget.” Kepala Ratna memutar. Mengerling sekeliling. Dia memastikan di sekitarnya tidak ada makhluk apa pun.


“Apa pun yang terjadi, kita tidak boleh berteriak. Oke?”


Dia mengangguk ragu.


“Sejak kapan bangunan ini tidak dihuni?”


“Jangan keras-keras. Bangunan ini bisa memantulkan suaramu,” pintaku.


Kubisikkan ke telinganya, “Jangan lupa berdoa dalam hati.”


“Iya, Zah.”


Ketika kami hendak masuk ruangan itu, sontak kami dibuat kaget. Jantung ini seakan-akan sudah melompat entah ke mana. Kini degupnya berantakan.


“Apa itu?” tanya Ratna.


Ada putih-putih yang ada di pojokan ruangan itu. Sekilas seperti tampak orang berdiri dengan kepala menunduk.


“Jangan masuk, Fizah.” Tangan Ratna mencengkram lenganku.

__ADS_1


Dan, tiba-tiba putih-putih itu bergerak. Gerak langkah kami refleks mundur. Ratna segera menyumpal mulutnya dengan jari-jarinya. Kakinya bergetar. Tangannya dingin. Sedangkan, aku menahan langkah dan memegangi tangan Ratna supaya dia tidak berlari. Muncullah dua tikus dari putih-putih itu. Seketika aku dapat meloloskan napas setelah beberapa saat menahannya.


“Alhamdulillah.”


Aku menarik lengan Ratna. Tapi, kaki Ratna tertahan di tempat. Kutoleh dia. Dia menggeleng-geleng.


“Ratna, percaya denganku, ya. Tidak akan ada apa-apa.”


Ratna yang pemberani akhirnya menjadi seperti ini. Dia menatap dunia dengan raut ketakutan. Dan, semua itu gara-gara ulah Pak Su.


Hanya selang sekitar lima belas menit, kami yang memosisikan diri di lantai, beralaskan tempat kotor penuh debu, kami berjingkat karena para guide berteriak-teriak. Aku yang masih terjaga dan Ratna yang agak terkantuk di bahuku pun mengangkat kepalanya.


“Apa mereka mencari kita?”


“Mungkin saja. Malam ini jadwal kita. Pembeli pasti sudah tidak sabar.”


Kami berusaha menahan khawatir. Kami saling menggenggam tangan.


“Apa aku harus memakai jilbabnya sekarang? Kamu juga pakai, Zah.”


Aku menatapnya. Serius.


“Ada apa?” tanyanya.


Kutarik sesuatu yang menempel di kepalaku. Dia terkejut.


“Jadi?”


“Iya, Ratna. Selama ini aku masih seperti ini.”


“Kamu beruntung, Fizah. Beruntung. Andai aku pandai seperti kamu. Tapi, aku tidak pernah kepikiran untuk memakai iket lalu menutupinya dengan rambut palsu. Ini diluar dugaanku.” Dia berkaca-kaca. Dia memelukku.


“Hanya sebatas itu yang bisa aku usahakan untuk menyelamatkan diri,” kataku.


“Sejak kita bertemu, aku sudah feeling kamu beda.”


“Aku pun begitu, Ratna. Kamu perempuan paling cantik yang pernah aku temui. Dan, selamanya kamu akan tetap menjadi cantik.”


“Kita doa, Zah.”


Aku menganggukinya.


Teriakan itu semakin kencang. Semakin mendekati arah gedung. Ada yang menahan langkah, lalu berkata jangan ke sana. Di sana banyak demitnya. Yang lainnya berseru memungkinkan kami tidak mungkin ada di sini karena kami perempuan, pasti ketakutan. Namun, suara Pak Su menyela. Dia tetap menyuruh anak buahnya masuk ke dalam gedung. Di situlah kedua tangan kami berkeringat dingin.


“Ratna, tidak perlu memungkin apa-apa. Tolong, tahan semua.” Aku segera menahan mulut Ratna yang kelihatan ingin berkata-kata.


Kenyataannya kemungkinan itu berputar-putar di kepalaku. Mau tidak mau, dalam keadaan genting begini aku harus mencari cara secepatnya.


Ada dua POV yang belum saya tampilkan. 😊🙏 Saya suka sekali dengan novel yang banyak teka-teki. Suka juga dengan plot ajaib.

__ADS_1


__ADS_2