FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 49 "Tawaran"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


"Jika aku mengembalikan surat itu padanya, Pak Nizam akan semakin penasaran. Kelihatannya juga tidak sopan. Beliau siapa dan aku siapa," batinku. Aku tidak jadi mengambil surat itu dari rokku.


Aku menatap Pak Nizam tetap menunggu jawabanku.


"Ratna punya trauma. Dia tidak mudah percaya pada sembarangan orang, Pak. Malam itu kami baru membeli martabak. Lalu, kami dikejar beberapa orang." Aku berharap semoga tidak masih terdengar logis di telinganya.


"Martabak? Tutup jam berapa? Bukannya waktu itu sudah malam banget? Setahu saya jam sebelas sudah tutup. Ya jam setengah sebelas jam sebelaslah bakul martabak itu sudah tidak ada."


"Saya memang baru membeli martabak."


"Di mana martabakmu waktu itu?"


"Ehmm..jatuh saat kami saling kejar-kejaran. Njenengan tahu, kan, bagaimana sikap Ratna yang agak aneh? Seperti barusan, Pak. Dia trauma. Tapi, maaf saya tidak bisa cerita. Itu privasinya yang harus saya jaga."


"Begitu rupanya."


Tetapi, kelihatannya Pak Nizam masih kurang yakin dengan pernyataanku.


"Lalu, kamu kerja di mana?"


"Pabrik." Untungnya aku memang tahu. Jarak satu kiloan dari kolong sampah itu ada pabrik rumahan. Aku tahu itu ketika pernah kabur dari sana dan akhirnya tertangkap.


"Satu pertanyaan lagi. Kenapa surat saya tidak kamu balas?"


"Saya pikir terlalu aneh. Saya tidak kenal njenengan. Itu terlalu tiba-tiba, Pak. Bagaimana jika itu hanya kerjaan orang iseng?" Lagi-lagi aku tidak sepenuhnya menjawab jujur.


"Ya sudah. Tidak apa-apa. Saya terima itu."


"Maaf, Pak Nizam. Sejujurnya saya juga penasaran. Akhirnya kita dipertemukan di rumahku sendiri. Alhamdulillah, Ya Rabb," batinku.


"Bagaimana hafalanmu? Saya bisa mengirimkan guru privat ke sini kalau kamu mau."


Aku bingung. Aku belum bisa fokus hafalan lagi selagi aku masih berurusan dengan masalah. Dan, mungkin aku sudah tidak pantas lagi disebut sebagai penghafal Alquran setelah apa yang kualami sebelumnya. Aku malu pada diriku sendiri, apakah sebaiknya berhenti sampai di sini atau melanjutkan sampai khatam.


"Saya belum berniat untuk melanjutkan, Pak. Mungkin saya harus fokus murajaah dulu saja." Aku menjawabnya setelah beberapa detik berpikir.


"Saran saya lebih baik kamu mondok. Dengan senang hati saya akan bantu kamu."


"Mondok? Apa itu ide yang bagus? Kedengarannya itu akan menyelamatkan posisiku sekarang dan Ratna," batinku. Sayangnya, aku ingat Ratna tengah hamil. Dua bulan lagi saja perutnya pasti akan kelihatan membuncit.


"Ya Allah ini gimana?" batinku.


"Kamu masih muda, Dek. Maaf, ya. Kayaknya lebih enak jika saya memanggilmu begitu." Pak Nizam tersenyum tipis.


"Apakah aku harus berbohong lagi dengan mengatakan Ratna ditelantarkan oleh suaminya, sedangkan kedua orang tua dan mertuanya sudah meninggal. Aku nggak sepenuhnya bohong, kan?" Aku menanyakan itu pada diriku sendiri.

__ADS_1


"Njenengan tidak terlalu formal dengan saya pun kedengarannya akan sangat lebih baik, Pak." Aku melirihkan suara. Aku benar-benar tidak percaya diri berhadapan dengan beliau.


"Oke. Aku akan menuruti maumu. Begini lebih baik, kan?" Pak Nizam tersenyum.


Aku mengangguk.


"Kalau kamu bersedia mondok, aku yang akan carikan tempatnya. Biaya tidak usah kamu pikirkan. Aku akan bantu semuanya. Deal?"


"Pak, tapi..."


"Tapi?" Beliau memperbaiki posisi duduk.


"Tapi, Ratna belum tentu mau."


"Gini, ya. Aku akan mengusahakan kalian ikut di ndalem Bu Nyai. Kalian tetap bisa ngaji, tapi tidak terlalu sering berbaur dengan para santri."


"Ikut di ndalem itu maksudnya pripun?"


"Jadi abdi ndalem Kiai dan Bu Nyai."


"Maaf, Pak. Saya akan bicarakan dulu dengan Ratna." Sebenarnya aku ingin sekaligus memberitahukan keadaan Ratna yang sebenarnya. Tetapi, aku khawatir Ratna akan marah padaku.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Ibuku dan dua saudaraku pulang.


*Ibban Nizami


Terdengar salam dari luar. Bu Mini dan dua saudara Fizah sudah pulang.


"Wa'alaikumussalam warahmatullah."


"Tadi mau bicara apa, Mas Nizam?"


"Bisa kita di luar saja, Bu?"


"Bisa. Kita di belakang rumah saja yo. Monggo, Mas!"


Aku membuntut Bu Mini. Lalu, duduk di lincak begitu dipersilakan.


"Pripun?" (Bagaimana?)


"Soal Fizah, Bu."


Bu Mini sejurus tersenyum.


"Mas Nizam terus terang saja. Fizah sudah tahu kalau yang mengirim surat itu sampeyan, Mas."


"Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya tidak menyangka kalau ternyata saya dulu pernah menolongnya."

__ADS_1


"Sudah pernah bertemu anak Ibu?"


"Waktu itu saya pulang ke rumah. Saya ditugaskan menjaga pos ronda sampai larut malam. Saya mendapati mereka berdua lari-lari. Katanya mereka dijekar banyak orang. Pertemuan keduanya, kami bertemu di alun-alun Tulungagung. Pagi, saya mengantarkan mereka ke terminal. Ternyata tujuan kami sama. Bertemu di alun-alun tadi, Bu. Sayangnya, mereka berdua menolak saya antarkan pulang ke rumah. Andaikata saya tahu salah satu dari mereka itu Fizah, akan saya antarkan selamat sampai pulang. Saya minta maaf."


"Howalah. Sampeyan ki cuma mau ngomong itu to. Iya ndak apa-apa, Mas Nizam. Ibu matur nuwun sampeyan sudah menolong mereka."


"Sama-sama, Bu. Barusan saya bicara dengan Fizah, saya tawarkan dia supaya mondok saja. Dia dan Ratna. Kasihan, Bu. Mereka perempuan. Mereka perlu terdidik dengan ilmu keagamaan lebih dalam."


"Bagus itu. Ibu setuju saja kalau Fizahnya mau. Sembarang wis." Bu Mini antusias sekali.


"Apa Sulung harus ikut juga?"


"Monggo, Bu. Tapi, harapan saya tidak ada paksaan apa pun. Dan, minta tolong supaya Ibu membujuk Ratna dan Fizah. Pesantren dan biayanya, nanti saya yang mengurus. Kita cari jalan keluarnya."


"Akan Ibu coba, yo. Mas Nizam bisa ke sini lagi besok atau lusa."


"Nggeh, Bu."


"Kenapa Mas Nizam baik sekali pada Ibu?"


"Anggap saja saya sedang memperlakukan Ibu saya sendiri."


Bu Mini menyentuh lenganku.


"Beruntung sekali orang tuamu." Mata Bu Mini berkaca-kaca.


Aku memeluknya. Terlintas wajah ibuk jauh di sana.


"Lalu, kenapa Mas Nizam bisa menyukai anak Ibu, Fizah?"


"Bila cerita saja bisa membuat saya mencintai sesuatu, maka Fizah lebih dari cerita itu, Bu."


"Bagi Ibu Fizah memang istimewa. Tapi, ada sesuatu yang harus sampeyan ketahui. Ibu sudah berkali-kali menceritakan Fizah padamu. Masa kecil dan remajanya. Tapi, ada yang belum kisahkan."


"Apa, Bu?"


Bu Mini terdiam.


"Jika saya tidak berhak untuk mendengarkan cerita itu, sebaiknya tidak perlu diceritakan, Bu. Tidak apa-apa."


"Yang jelas Ibu matur nuwun sekali lagi yo."


"Sama-sama, Bu. Selagi saya mampu, saya akan bantu. Saya hanya minta doa Ibu untuk almarhum Ayah saya."


"Ayah Mas Nizam pasti bahagia di sisi Allah."


"Aamiin ya rabbal alamin."

__ADS_1


__ADS_2