FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 160 "Seperti yang Tertukar"


__ADS_3

Alhamdulillah tidak terasa sudah eps 160, ya. Mohon doanya walaupun sekarang peminatnya masih sangat sedikit, semoga ke depannya akan bertambah sedikit demi sedikit. 🙏🙏


Check it out....


*Ufi Yasmina Madah


Alhamdulillah...


Begitulah kalimat terakhir yang masih terngiang-ngiang di kepalaku. Bapak dan mamak yang hanya orang biasa pasti merasa sangat tersanjung ketika putrinya dilamar oleh anak kiai. Bukan karena gila dengan kehormatan. Tapi memang ini kali pertamanya ada yang datang melamar dan pelamarnya bukan kalangan biasa saja. Terlepas dari latar belakangnya yang cukup membuatku getar-getir, bapak dan mamak akhirnya tetap menerima lamaran itu. Katanya, askutu tadullu 'ala na'am. Diam tandanya setuju.


Diamku karena aku berpikir. Apa seperti ini rasanya dilamar? Aku terbengong-bengong. Mungkin karena aku sudah tahu siapa pria itu, dari mana asalnya, bagaimana latar belakangnya, dan siapa perempuan yang pernah dia lamar sebelumnya. Sebetulnya aku tidak menangis. Tak bersedih juga. Karena dalam jangka sekian waktu yang tidak dapat aku perkirakan, aku telah mendapatkan cincin peningset yang sekarang telah melingkar di jari manis tangan kiriku. Cincin yang harganya tidak dapat kuperkirakan. Dari bentuknya saja sudah terlihat itu emas dengan berlian mahal. Yang tak akan mampu terbeli oleh orang serba cukup seperti keluargaku.


Semudah inikah perjalanan awal cintaku? Tak muluk-mulukkah seperti yang telah dialami Ning Tabriz? Justru tak akan ada kesan pahit manisnya. Justru tawar rasanya. Benarkah aku sudah mempunyai calon suami? Bukan dari kalangan orang biasa? Semendadak ini? Segampang inikah perjodohanku?


Kuhitung sisa hafalan yang harus kuhafalkan kebut-kebutan nanti. Masih banyak. Belum juga tabarukan selama empat puluh hari yang kuimpikan sejak aku masuk ke pesantren ini. Bisa tidak bisa, aku sudah berniat akan mengejar target tabarukan itu.


Aku kembali ke pesantren usai azan isya. Sebetulnya mamak menyuruh esok saja. Tapi, aku telanjur akan kembali hari ini. Keperluanku sudah selesai. Juga sudah dipastikan aku akan menikah dengannya meski soal tanggal belum dapat dipastikan.


Ingin kulepas saja cincin itu. Tapi, aku takut hilang. Aku diberi amanah agar memakainya dan jangan sampai menjatuhkannya.


"Sudah dapat calon bojo kok gak semringah?" tanya paklik.


"Mosok aku harus cengengesan to, Paklik, Paklik."


"Biasanya arek wedok kalau lagi girang, mesti senyum-senyum sendiri."


"Emang kalau laki-laki nggak to, Paklik?"


"Paklik lagi bahas awakmu (kamu) itu lo. Malah nanya gimana kalau yang laki-laki."


"Aku nggak percaya aja, Lek. Mondok belum rampung, hafalan masih kurang banyak, eh jodoh sudah nunggu."


"Soale jodomu lagi kok tunggu. Iyo to?"


"Hehe. Dulu cuman pengen tahu rasanya, Lek. Kok kejadian beneran, ya."


"Takdir manusia nggak ada yang sama. Banyak banget manusia yang masih harus menunggu lama permintaannya diACC Gusti Allah. Ada yang baru meminta, itu pun gak sungguh-sungguh, tapi langsung dikabulkan. Contone yo awakmu (kamu)."


"Bener juga, Lek."


Gerbang belum ditutup. Ada kang-kang santri yang masih nyantai sambil ngobrol dan menghafalkan bait nazaman alfiyah di saung.


Aku turun dari mobil. Aku hampir saja berjingkat karena dipanggil Pak Nizam dari belakang.


"Pak Nizam dari mana?"


"Nggak. Dari sana aja." Sambil menunjuk arah yang tak jelas dari sebelah mana. Seperti asal mengarahkan telunjuk.

__ADS_1


"Oooh."


"Mbak Ufi bisa kita ngobrol bentar, Mbak?"


"Bisa, Pak. Soal apa?"


"Ngobrolnya di mana, ya, biar enak? Kamu nyaman atau nggak kalau dilihat santri putra di teras kamar dan di saung itu?"


"Ya kalau memang penting, kita ngobrol depan dapur aja, Pak."


"Oh, iya."


Pak Nizam menutup gerbangnya. Sebelum dia membuntutiku, dia seperti sedang mengawasi depan pesantren.


"Pak Nizam lagi apa?"


"Nggak nggak. Kita ngobrol aja langsung. Kamu taruh dulu tasmu di kamar."


"Mungkin Ning Tabriz belum tidur. Kalau saya masuk, nanti pasti saya diajak ngobrol panjang. Monggo langsung duduk di depan dapur saja, Pak."


Melihat Pak Nizam beberapa kali melihat lurus, jauh ke arah depan gerbang pesantren, aku mencurigai sesuatu. Teringat serangan ninja tahun 2004 silam. Sangat mengerikan. Jangan sampai ada kejadian buruk seperti itu lagi di pesantren ini. Aku tidak mau pesantren ini viral bukan karena predikat dan prestasi.


"Pak Nizam mau ngobrol apa, Pak? Njenengan bilang saja."


"Apa yang kamu ketahui soal Fizah?"


"Saya harus jawab mulai yang mana ini, Pak?"


"Mmmm...sebetulnya tidak banyak yang aku tahu, Pak. Ning emang terbuka, tapi untuk masalah yang dia merasa itu sangat rahasia, dia nggak pernah cerita. Kalau aku mendesak dia gitu, mungkin dia akan bicara, tapi ndak semuanya."


Pak Nizam kelihatan agak gelisah. Dia memikirkan sesuatu.


"Apa selama ini dia pernah merasa terancam?"


"Terancam gimana, Pak, maksudnya?"


"Diganggu orang misalnya."


"Eng-gak." Kujawab sembari menggeleng.


"Ya sudah. Makasih. Kamu bisa istirahat. Aku duluan."


Bila dilihat dari dekat, ternyata Pak Nizam memang tampan. Pembawaannya yang tidak banyak berbicara, santun, dan khas suara bicaranya yang sudah terdengar merdu meski tidak sedang berlagu. Rambut jenggot yang tak lebat, tapi memesona. Caranya menatap pun punya daya pemikat. Kuraba jariku sudah bercincin peningset. Masih saja aku mengagumi orang yang telah dijodohkan dengan ningku sendiri.


Pintu sudah dikunci. Aku beranjak menuju pintu depan. Kuketuk sangat pelan. Barangkali ada yang berjaga di ruang tamu. Kutunggu beberapa menit sampai ada yang membukakannya.


"Mbak Fi? Udah lama?" celetuk Ning Tabriz.

__ADS_1


Aku beranjak. "Hehe. Enggak. Masih sepuluh menitan."


Dia langsung meraih jariku. Mau langsung kutarik dan kusembunyikan tidak bisa. Berlian cincin peningset itu terlalu mencolok. Terlalu mewah di jariku. Sungkan rasanya. Ning Tabriz sudah jelas akan kaget jika mendengar siapa yang telah melamarku.


"Fix sudah diterima, ya?" Dia menatapku.


"Masuk dululah. Aku tadi nunggu di kamarmu, Mbak, sampai ketiduran."


Pintu kukunci lagi.


Kami duduk di bibir tempat tidur.


"Selamat, Mbak. Akhirnya dilamar juga."


"Ning, tapi kamu jangan marah yo."


"Marah kenapa? Aku senang, Mbak."


"Tolong jangan marah."


"Apa yang harus aku kesalkan? Masalahnya aja nggak ada."


"Aku dikamar Gus Yazeed."


Matanya membelalak. "Dilamar Yaz?"


"Maaaf." Aku menelungkupkan tangan.


Ning Tabriz melepaskan gelang di tangan kirinya. Lalu, memakaikannya padaku.


"Loh?"


"Nggak. Ini memang buat kamu. Kamu yang pantas mendapatkannya." Dia tersenyum kaku.


"Nggak. Ini punyamu. Aku nggak bisa nerima."


Aku berusaha melepaskannya. Tapi, tatapannya membujuk rayu. Dia mengendalikanku dari sana. "Tapi, nggak perlu begini, Ning."


"Sudah. Pokoknya kamu harus terima gelang itu. Jangan hilang dan jangan dilepas. Dengan begitu, semuanya akan lebih baik."


"Ning, percayalah bahwa Pak Nizam itu pria yang baik. Aku bisa lihat itu dari matanya."


"Kamu juga harus bisa menerima dan jangan memandang masa lalunya. Yaz juga laki-laki yang baik," katanya.


"Ning, aku pasrah wis. Enaknya sekarang aku harus bagaimana?"


"Kamu lanjutkan semuanya, Mbak."

__ADS_1


"Maaf. Aku sendiri juga nggak nyangka.


Selamat membaca dan semoga selalu suka.. 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹💕💕💕💕💕💕❤️❤️❤️


__ADS_2