
*Ranaa Hafizah
Masih dalam suasana penuh getar dan debar. Kalimat panjang yang disampaikan bu nyai terakhir kali seketika mengendap dalam benakku. Aku tidak boleh melupakan itu. Dugaanku sebelumnya sudah jelas benar bahwa Gus Fakhar diam-diam mempunyai maksud tertentu.
"Bene mboten kedadean sing aneh-aneh maneh, mulai mbenjing pun sampeyan babuke teng kamar santri ae, yo, Nduk Iz. Mengko lek Ummik butuh sesuatu, sampeyan mrikio."
Terjemah: (Supaya tidak terjadi yang aneh-aneh lagi, mulai besok sudah kamu tidurnya di kamar santri saja, ya, Nduk Iz. Nanti kalau Ummik butuh sesuatu, kamu ke sini saja)
"Mik, nanti kalau ditanya santri-santri lainnya Iza harus menjawab apa?" tanya Gus Fakhar.
"Yo diutus Ummine pindah kamar. Nduk Iza paham to?"
"Paham, Bu Nyai."
"Sampeyan wis jaluk sepuro neng Mbak Ulya?"
Terjemah: (Kamu sudah minta maaf ke Mbak Ulya?)
"Biar aku saja, Mik, yang minta maaf."
Aku menyahut, "Nggeh, Bu Nyai. Saya akan minta maaf lagi." Suaraku semakin pelan. Maluku di ujung tanduk.
Ketika Bu Nyai Ridhaa hendak berdiri, aku seketika melompat dari kursi, menyahut tangan beliau. Aku menyucup punggung tangannya.
"Ngapunten ingkang kathah, Bu Nyai." (Minta maaf yang sebesar-besarnya, Bu Nyai)
Aku menjatuhkan lutut ke lantai. Menundukkan kepala. Sebelum bu nyai legowo atas kesalahanku yang tidak kusengaja itu, aku tidak berani berdiri dan menatap wajah beliau.
"Ngapunten, Bu Nyai. Ngapunten."
"Za, sudah, Za," ucap Gus Fakhar yang seketika pun berdiri.
"Ummik yo ngapurane, Nduk. Bene mboten dadi angen-angen. Iki nggo pelajaran kita bareng-bareng."
Terjemah: (Ummik juga minta maaf, Nduk. Supaya tidak jadi pikiran. Ini menjadi pelajaran bersama)
Aku tidak masalah bila harus berpindah kamar. Tapi, bila kuingat sendiri apa penyabab keputusan itu, aku malu sekali terbayang-bayangi kesalahan sendiri. Bu nyai ada benarnya. Aku tidak seharusnya di ndalem. Dan, mungkin suasananya akan lebih baik tanpa aku di sini. Tapi, aku belum terbiasa bercengkrama dengan banyak santri. Aku belum bisa mengendalikan diri dari prasangka-prasangkaku sendiri. Tapi, jika masih diberikan kesempatan, aku ingin tetap memilih di sini. Aku damai berdekatan dengan keluarga ndalem.
"Mik, Iza mungkin masih ingin di sini."
Kudengar suara itu memperdengarkan rasa khawatir.
__ADS_1
Ummik berlalu. Membiarkan aku tetap bersimpuh.
Gus Fakhar mendekatiku. Bercongkang di depanku. Menyuruhku menatapnya. Tapi, aku enggan. Aku menjauhkan diriku pelan-pelan.
"Za, aku minta maaf. Kamu tidak usah mikir Ummik. Aku yang akan minta maaf ke Mbak Ulya. Stay positive thingking okey. Ummik itu tidak marah. Ummik hanya menengahi masalah. Aku nanti akan bicara sama Ummik biar kamu tetap di sini."
"Tidak perlu, Gus." Akhirnya aku juga harus bisa menegaskan diri.
"Iz?" panggilannya membujuk supaya aku mau menerimanya.
Aku menjauhkan diri.
"Iz, kenapa kamu jadi gini?"
"Gus, jangan pernah njenengan menaruh perasaan apa pun pada saya. Saya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa." Air mataku menggelinding di pipi.
*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen
"Iz, apa aku keterlaluan jika diatas ketidakmampuanku menolak takdir, aku masih ingin memberimu sesuatu yang ingin aku beri?"
"Gus, njenengan terlalu jauh. Sangat kejauhan, Gus," kataku. Aku masih menunduk. Suaraku agak parau.
Dulu aku berpikir tidak akan punya perasaan seperti ini padanya. Tapi, ketika aku semakin memiliki peluang menunjukkan perhatian dan lainnya, hatiku semakin terperosok ke dalam. Mengalahkan rasa yang seharusnya kuberikan pelan-pelan kepada Mbak Ulya.
Namun, yang terjadi ialah Iza yang malah makin menjauhkan diri. Sikapnya mendadak dingin seperti pertemuan awal dulu.
"Jangan pernah menginginkan saya. Jangan." Dia tergugu.
"Apa yang sebetulnya kamu pikirkan? Kenapa kamu tidak menyalahkanku? Yang keluar hanya larangan yang tidak kumengerti," batinku.
Iza bangkit. Menyembunyikan wajahnya seraya berlari ke kamarnya. Aku melenguhkan napas panjang.
Dia kembali. Menunjukkan sesuatu di tangannya.
"Nggak harus kamu kembalikan. Baju itu sudah menjadi milikmu, Iz."
Dia meletakkannya begitu saja di lantai. Lantas kembali ke kamarnya.
Mbak Ufi yang biasanya suka penasaran buru-buru mendekat padaku.
"Ngapunten saya mau bilang sesuatu juga, Gus. Punten banget. Estu punten (beneran maaf), Gus. Mbak Ulya sebetulnya juga sudah tahu, Gus."
__ADS_1
"Tahu apa? Gamis?"
"Bukan. Bukan, Gus. Ehm...punteeeen banget, nggeh. Perasaan perempuan itu peka banget, Gus. Ngapunten, Gus. Pokok saya punten lo, Gus."
"Iya iya. Kebanyakan bilang punten, kamu lapar apa gimana?" Kalimatnya bertele-tele.
"Hehehe...takut salah bicara, Gus. Mbak Ulya itu cemburu karena njenengan dekat dengan Mbak Iza. Dia lihat sendiri saat njenengan masak bersama."
"Ya Allaaaaah..." Aku menghela napas.
"Oke akan aku selesaikan nanti. Tapi, soal gamis biar aku sendiri saja yang ngomong. Kamu nggak usah ikutan, Mbak Fi."
"Enggeh, Gus. Insyaallah saya tutup mulut."
Aku menyusul ummik di kamar. Kamar tidak dikunci. Aku tetap masuk walaupun kudengar ummik sedang murajaah hafalan. Aku menggeser kursi plastik. Posisi ummik duduk menghadap kiblat. Tidak peduli aku berada di sampingnya.
"Mik?"
Ummik masih mendiamkanku. Aku tahu caranya meluluhkan hati ummik.
"Ummikku yang masyaallah." Aku memeluknya dari belakang.
"Mik, aku jangan dicuekin dong."
Ummik masih terpejam dengan terus melafalkan ayat panjang surat Al-Baqarah yang panjangnya sampai satu halaman penuh. Sedangkan, aku menyadarkan kepalaku di pundaknya. Meresapi lantunan ummik yang indah.
"Bertahun-tahun dengar Ummik ngaji kok rasanya tidak bosan, ya. Padahal, aku dengarnya sejak masih di perut Ummik."
Ayat masih belum rampung hingga akhir kaca.
"Mik, aku minta maaf. Juga atas nama Iza, aku memintakan maaf. Ummik maafkan, nggeh?"
Ummik mengucap tasdiq. Meletakkan Alquran di atas bantal dua tumpuk.
"Ummik wis janji karo Bu Nyai Ammar bakal ngrekso Mbak Ulya kanthi bener. Pengarepane mereka iku gedhe, Mbak Ulya digedhekne neng pesantren iki, Le."
Terjemah: (Ummik sudah berjanji pada Bu Nyai Ammar akan menjaga Mbak Ulya dengan baik. Besar harapan mereka Mbak Ulya dibesarkan di pesantren ini, Le)
"Sebagai gurunya, Ummik nggak perlu merasa sungkan."
"Ummik wis ngroso dadi Ibune, Fakhar. Wiwit iseh cilik Mbak Ulya kerasan tinggal neng kene. Diutus nyantri neng panggenan liyane yo ndak purun. Padahal, pesantren Abahnya luweh gedhe lan apik. Pengene deweke neng kene. Kiai Ammar pasrah bene Mbak Ulya iso nuprih ilmu sing barakah lan Bu Nyai Ammar pesen bener apalane Mbak Ulya tambah apik."
__ADS_1
Terjemah: (Ummik sudah merasa menjadi Ibunya, Fakhar. Dari kecil Mbak Ulya kerasan tinggal di sini. Disuruh nyantri di tempat yang jauh tidak mau. Padahal pesantren Abahnya lebih besar dan bagus. Maunya dia di sini. Kiai Ammar pasrah agar Mbak Ulya mendapatkan ilmu yang barakah dan Bu Nyai Ammar pesan supaya hafalan Mbak Ulya tambah bagus)
Selamat membaca, nggeh. Big love. Terima kasih atas dukungan dan doanya njenengan semua. 💋💗💗🌷🌷🌷🌷