FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 32 "Di mana?"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Saat aku duduk di meja yang kebetulan kursinya masih kosong, meja kursi yang tadi diduduki pria yang menolongku, seseorang datang meminta permisi untuk duduk. Aku tidak begitu merespons apa yang dikatakannya. Selain suara gaduh yang menyadap suara pria di sampingku, aku tidak dapat mendengar jelas suaranya yang singkat. Aku fokus menunduk. Menepis kekhawatiran yang membisiki telingaku.


Lantas, aku berjingkatan ketika pria itu menyentuh lenganku. Dadaku naik turun. Kutatap dia dengan mata melotot. Napasku kembang kempis.


"Minta tolong ambilkan tissue di meja depanmu, Mbak." Dia melanjutkan makan.


Kupikir kenapa. Aku bangkit meminta satu kotak tissue di meja tepat di depanku. Aku meminta permisi.


Yang menduduki kursi bangkit seraya menjawab, "Ambil aja. Kita sudah selesai."


Aku mengangguk. Lalu, kuletakkan tissue itu tanpa melepaskan sepatah kata.


"Sendirian aja, Neng?"


Seketika bergidik bulu kudukku. Kepingan wajah Pak Su, Mas Hakim, dan pria yang malam demi malam pernah meminta air dariku merangsek tanpa permisi. Ingin kusumpal telingaku.


"Cantik kok sendiri. Atau, jangan-jangan masih jomblo, ya, Mbaknya ini?"


Aku membisu. Kuanggap dia tidak sedang berbicara padaku.


"Perempuan jual mahal. Bisu kali."


Bibirku kontan melontarkan balasan, "Rupanya kamu suka yang murahan," kataku sebelum aku bangkit pindah kursi. Risih kupingku.


"Kenapa pindah?"


"Tidak, Pak."


"Ini aku bungkuskan dua nasi dan es teh."


Kuterima sembari menganggukkan kepala.


"Di mana temanmu Rinai?"


"Rinai?"


"Nama kawanmu Rinai, kan?"


"Njenengan masih ingat namanya? Dia di luar."


"Iya. Ya sudah kalau begitu aku ke masjid dulu."


"Terima kasih."


Dia mengangguk.


Dalam hati, ingin aku bertanya siapa namanya dan kenapa dia bisa di sini. Tapi, pertanyaanku kembali masuk kerongkongan. Aku mencoba berpikir ulang. Bukankah dia pria yang dingin? Bahkan, dia saja tidak kepikiran bertanya kenapa kami bisa bertemu tidak sengaja di sini. Aku menatapnya sampai dia keluar melewati garis pintu.


Aku beranjak.


"Di mana Ratna?" gumamku.


Dari seberang jalan, dia melambaikan tangan. Dia berlari ke arahku. Lantas, menyerangku dengan satu pertanyaan.

__ADS_1


"Apa kamu tadi ketemu dengan lelaki yang kemarin menolong kita?"


Aku menunjukkan kresek yang kutenteng.


"Ini darinya."


"Kenapa bisa kebetulan begini?"


"Entahlah, Ratna. Kuasa Allah tidak ada yang tahu. Ayok kita cari tempat untuk makan."


"Di sana, Fizah. Kita aman di sana. Jauh dari gangguan para pria."


Dia menggamit tanganku.


Sekarang kita ada di taman alun-alun kota. Langit melukiskan senja. Kata orang, senja itu keindahan. Bagiku, senja itu kesakitan. Setiap melihat senja, maka di situlah hidupku seperti sedang dipertaruhkan. Mati dengan memilih iman atau tetap hidup dalam kekufuran.


Nyatanya, kisah Sumayyah lebih hebat daripada kisah itu sendiri. Refleksi yang timbul kemudian menjadi basis-basis keteladanan bagi seluruh umat perempuan yang pernah dihadapkan pada pilihan yang sama. Sayangnya, aku tidaklah sesempurna manusia yang pernah hidup pada zaman itu, Sumayyah binti Khayyat. Sumayyah wafat, tapi aku memilih hidup dalam bayang-bayang masa yang telah lalu.


Ada ketakutan yang tidak akan pernah orang lain ketahui kecuali diriku sendiri. Bahwa setiap kemerahan mulai menggarisi lembaran langit, aku memikirkan cara bagaimana aku tetap bisa hidup dalam gurun sahara yang begitu menyengat panasnya. Apakah aku akan mampu bertahan dalam seonggok keberanian yang seringkali runtuh tiba-tiba. Maka, kemarin sore adalah hari terakhir di mana aku menyaksikan senja tidak lebih menyakitkan daripada yang kulihat sekarang.


*Ibban Nizami


Kutatap layar handphone yang berdering. Pesan masuk.


"Apa Pak Nizam bisa bertemu dengan saya nanti malam?"


^^^"Dalam rangka acara apa ini?"^^^


"Saya ulang tahun, Pak. Pak Iman sudah saya undang dan dia bisa hadir kok. Pasti bersedia, kan? Iya, kan, Pak Ibban?"


^^^"Oke. Insyaallah aku datang. Aku nggak perlu bawa kado, ya?" 🤭^^^


^^^"Aman. Pak Iman pasti sudah membawakan kado paling spesial." 👍👍^^^


"😏😏😏".


^^^"Aku persiapan salat magrib dulu, Mbak."^^^


"Nggeh. Siap, Pak."


^^^"Lain kali undangannya jangan mendadak." 🤬^^^


"😅😂🙏🙏".


Begitu handphone masuk saku, kelihatan dari sini, dua gadis itu sedang makan dengan lahapnya. Dua bungkus nasi itu mungkin kelihatan sangat berharga. Tidak terasa hatiku memberikan belas.


Tatkala dia masuk warung makan, wajah ketakutannya menyita perhatianku. Aku kira dia sedang bersama Ratna, tapi dia terus berjalan sendirian menuju kerumunan orang. Kulihat di belakangnya nihil yang membuntuti. Maka dari itu, tadi aku menawarkan dia makan karena aku tahu dia sedang tidak membawa uang. Gelagatnya tidak seperti orang yang ingin membeli. Aku ingat namanya Zahratusy Syifa.


Aku memperhatikan keduanya yang tidak sengaja menoleh ke arahku. Hanya beberapa detik pandangan mereka dibuang ke arah lain. Lalu, mereka tampak risih ingin segera pergi ketika ada tiga pria mendekati mereka. Salah satunya mencoba untuk menyentuh lengan Rinai. Wajah cantiknya menyita tiga pria itu lebih dulu. Lantas, Zahra beranjak mengancam dengan kepalan tangan. Dia berusaha melindungi Rinai.


Aku berjingkat-jingkat ke sana. Naluriku menyuruhku agar aku menolong mereka. Kenapa dia bisa sampai datang ke rumahku kemarin, itu juga karena dia pernah dikejar-kejar oleh seseorang. Aku mendekati mereka.


"Mereka berdua saudaraku. Jangan diganggu. Mending kalian pergi saja." Aku menegaskan. Aku mendekatkan langkah. Kutepuk pundak salah satunya.


"Oooet. Yuk, kita cabut saja."

__ADS_1


Mereka pun pergi.


"Mereka tidak akan mengganggu. Mendingan kalian ke masjid. Itu lebih aman. Sebetulnya kalian mau ke mana?"


"Kami akan pulang." Zahra yang menjawab.


"Pulang ke?"


"Maaf." Justru itu yang terucap dari mulutnya.


"Aku bisa mengantarkan kalian."


Mereka saling menatap. Lalu, menggeleng bersamaan.


"Ya sudah. Sebentar lagi azan. Ayo ke masjid."


Mereka berjalan pelan-pelan di belakangku.


Handphone berbunyi. Panggilan dadi ibuk.


"Assalamu'alaikum, Buk?"


"Wa'alaikumussalam."


"Ada apa, Buk?"


"Tadi Ibuk ditelfon Mbak Rubia. Katanya dia minta izin mau ngundang kamu makan, Zam? Bener begitu?"


"Enggeh. Bener, Buk."


"Jangan lupa bawa kado."


"Undangannya barusan, Buk. Aku juga tidak tahu mau ngado apa."


"Cocok kalau begitu. Ibuk usul kamu ngado jilbab saja, Le. Mbak Rubia itu cantik sekali kalau pakai jilbab warna merah jambon." Merah muda maksudnya.


"Dan, Ibuk juga nitip kado sendiri, yo, Zam. Ibuk belikan baju atasan. Nanti uangnya Ibuk ganti."


"Kadonya untuk berdua saja lo, Buk."


"Ibuk pengen ngado sendiri. Sudah kamu belikan gamis. Kasih tahu itu kado dari Ibuk."


"Enggeh."


"Jangan lupa kerudung dan gamisnya yang cocok. Yang serasi. Jangan yang kelihatan ndeso, Le. Mbak Rubia orangnya cantik."


"Enggeh, Buk. Apa lagi?"


"Sudah itu saja. Kalau ada kabar baik soal kalian, Ibuk cepat dikabari."


"Kabar apa juga, Ya Allah," batinku.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullah."

__ADS_1


Kuteloh mereka berdua masih mematung di belakangku.


Di mana kamu sekarang? Bila diizinkan aku ingin dipertemukan denganmu.


__ADS_2