FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 165 "Tiga Sekaligus"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Bagaimana aku tidak berdebar mendengarkan kalimat yang baru saja aku dengar? Tanda bahwa Pak Nizam setuju menerima permintaanku. Kenapa dia terburu-buru? Kenapa dia menyuruhku berkata soal keadaanku yang sebenarnya? Adakah sesuatu yang sedang terjadi, sedangkan aku tidak tahu? Semua pertanyaanku, sayangnya hanya tersimpan di mulutku. Dia memperlihatkan wajah seriusnya dengan sangat jelas. Dia sanggup melakoni semuanya bila ingin segera menikah denganku.


Aku tahu. Kita dianjurkan menyegerakan sesuatu yang baik. Tapi, bukan berarti harus seperti itu. Apa yang akan terjadi padaku dan Pak Nizam? Tidak akan ada apa-apa, melainkan masa yang kugunakan untuk mempersiapkan diri sebelum adanya pernikahan. Namun, malam ini dadaku berdegup lebih kencang. Yang dikatakan Pak Nizam itu benar. Abah kembali membicarakan soal pernikahan denganku. Juga dengan ummik di ruang tengah.


Kupeluk Alquran yang baru saja kudaras satu juz. Belum sempat aku mengganti mukena, abah sudah menyuruhku merapat. Aku segera turun dari tempat tidur depan televisi. Duduk meleseh di bawah seperti abah dan ummik.


"Niya, upamane sampeyan dinikahne cepet-cepetan opo yo gelem?"


Terjemah: (Niya, seandainya kamu segera dinikahkan apa bersedia?)


Di lain hal aku mengerti. Abah tak sepenuhnya mengutamakan kehendaknya. Di sini, abah memberiku peluang untuk bicara. Padahal, abah sebagai wali mujbir diperbolehkan menentukan semuanya tanpa harus mendengar apa yang ingin aku sampaikan. Tapi, aku. Bingung harus memulai dari mana. Jika aku menceritakan soal yang pernah aku mintakan pada Pak Nizam, aku khawatir abah dan ummik marah.


"Apa harus secepatnya, Bah? Ummik mengatakan Niya harus fokus sama Alquran." Keberanian itu muncul entah dari mana. Desakan itu terasa sangat kuat. Aku harus berani menyampaikan apa yang kukehendaki. Aku tidak bisa hanya menutup mulut.


"Piye, Mik?"


"Sakjane lerese ngoten, Bah. Lha mangke malah Alqurane mboten rampung goro-goro ngurusi lintune."


Terjemah: (Sebetulnya bener seperti itu, Bah. Lha nanti malah Alqurannya tidak khatam gara-gara mengurusi lainnya)


"Nggeh, Bah." Aku menyahut segera.


"Yen ngono ndak usah kuliah. Kuliah biasane luweh abot. Nggarap tugas sak tumpuk-tumpuk."


Terjemah: (Kalau begitu tidak usah kuliah. Kuliah biasanya lebih berat. Mengerjakan tugas setumpuk-tumpuk)


Mungkinkah aku bisa menyelesaikan hafalan dalam satu setengah tahun dibarengi dengan kuliah? Hafalan sambil kuliah, atau hafalan sambil menikah. Atau, menangguhkan kuliah dan pernikahan sebelum hafalanku rampung. Tapi, aku sudah menawarkan sesuatu pada Pak Nizam. Aku diam sejenak menekuri itu. Yazeed telah melamar Mbak Ufi. Aku berharap dia sudah legowo melepaskan semua perasaannya padaku. Aku tidak membebaninya lagi jika dia telah menemukan wanita pengganti. Aku akan meneruskan mimpiku dengan pria lain. Aku harus mengambil tekat seperti yang kulakukan di kolong sampah itu.

__ADS_1


"Niya sanggup tiga-tiganya, Bah." Aku getar-getir mendengarnya. Kemantapan itu terlepas tiba-tiba. Walau aku tak sepenuhnya yakin, bolehlah aku melakoninya terlebih dahulu.


"Kabeh, Nduk?" Ummik agak terjekut.


"Insyaallah. Kalau tidak dicoba, nanti tidak tahu, Mik." Nadaku tetap kurang begitu yakin. Tapi, bisik lain mengatakan aku harus menjalaninya.


Lagipula bila memang benar Pak Nizam sanggup melaksanakannya dengan sepenuh hati, apa yang aku mintakan tidak akan menjadi masalah dan aku masih bisa fokus pada diriku sendiri. Masalah keturunan, abah dan ummik pasti tidak akan menyuruhku menyegerakannya nanti. Ada Kak Ulya yang semestinya akan memberikan cucu lebih dulu kepada mereka berdua.


"Tapi, Bah, Ummik, Niya mohon diperkenankan untuk fokus pada masalah Niya sendiri. Selama setahun setengah itu, atau kalau pun molor selama dua tahun, Niya ingin tidak diminta mengaji dan menyimak mbak-mbak di pondok."


"Sampeyan opo wis bener yakin?"


"Insyaallah, Mik. Abah, Ummik, doakan Niya. Niya juga akan memberitahu Ibuk soal ini."


"Yowis sembarang. Pokoke sampeyan sanggup. Abah mung melu-melu dongo lo yo iki."


Esok hari Bang Fakhar berangkat bulan madu dengan Kak Ulya ke Bali. Tidak jadi ke Raja Ampat. Dia berkelakar takut nyasar dan tidak bisa pulang.


"Bang, oleh-olehnya, ya. Nitip buat Ibuk juga. Mau aku kasih kalau kapan-kapan kita bisa ketemu lagi."


"Oke anak manja." Tangan Bang Fakhar mengoyak jilbabku yang sudah terpasang rapi.


"Kak Ulya, aku minta sesuatu juga boleh?"


"Hmm?" Dia mengangkat alis. Mendekatkan telinganya.


"Kak, cepetan dibuatin ponakan." Aku bercanda sekaligus benar-benar mengharapkan sepulang dari Bali, beberapa minggu kemudian keluarga ini dianugerahi berita bahagia kehamilan Kak Ulya.


"Serius apa bercanda?"

__ADS_1


"Ngomong apa dia?" tanya Bang Fakhar. Lalu, menatapku jahat. Dia usil menarik ujung jilbabku.


"Hiiuh, Abang. Sudah rapi, Ya Allooooooh." Kupasang muka cemberut.


"Yang di sini cemburu ini looo. Hmm hmm hmmmmm." Kak Ulya menyedekapkan tangan. Membuang muka.


"Mau nyanyi ni kayaknya." Bang Fakhar ganti mengusili Kak Ulya. Dia melanjutkan senandung Nissa Sabyan. Merangkul punggung kiri Kak Ulya kemudian.


Abah dan ummik tersenyum bahagia.


"Bang, Bang dulu katamu mau ninggalin Kak Ulya habis nikah. Ternyata sekarang kaya lem uhu." Aku mencebik.


"Huuuuuu." Bang Fakhar lagi-lagi merusak tatanan jilbabku. "Cieee yang mau nikah juga. Habis ini suit-suitan juga. Lihat aja nanti. Awas kalau kamu lebih parah dari Abang, Dek. Tak totok kamu." Kepalaku dijitak.


Aku mencebikinya. "Nggaklah, Bang. Sudah sudah. Abang berangkat saja sana. Pokoknya harus bawa oleh-oleh."


Bang Fakhar dan Kak Ulya bersalaman dengan ummik, lalu abah. Tiga kali menyucup punggung tangan hingga bersuara.


Kudengar ummik berbisik, "Mugo-mugo kasel (semoga membuahkan hasil)." Tangan ummik menyentuh perut Kak Ulya. "Iki gek ndang isi. Mugo-mugo berkah yo, Nduk." (Ini cepetan isi. Semoga barakah ya, Nduk)


Kak Ulya kembali menyucup punggung tangan itu. "Doanya nggeh, Mi."


Ummik mengangguk.


Mobil sudah dicuci bersih oleh Kang Bimo. Tapi, abang hanya ingin menyetirnya sendiri. Menolak saat abah menyuruh Kang Bimo menemani. Dia beralasan takut merepotkan Kang Bimo sekaligus berkelakar khawatir hati jomblonya Kang Bimo menangis malang. Padahal, aku tahu sebetulnya abang hanya tidak ingin kebersamaannya dengan Kak Ulya diganggu oleh siapa pun.


Langkah mereka menjauh. Bayangannya semakin panjang. Abang melambaikan tangannya sebelum memutar stir ke arah kiri.


Jika sesuai rencana, katanya abang akan menghabiskan bulan madu sampai lima hari di sana. Otomatis selama itu, Pak Nizamlah yang mendapatkan mandat untuk menggantikan jadwal menyimak dan mengajikan kitab di pondok putra dan putri. Entah sampai kapan dia akan di sini. Dan, semua orang di pesantren ini sudah tahu siapa dirinya. Beberapa santri malah menyebutnya sebagai pria idaman. Tampan, mapan, dan beriman. Tapi, entah sekarang dia ada di mana. Biasanya pagi-pagi dia akan terlihat duduk bersantai di saung.

__ADS_1


__ADS_2