FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 129 "Dua Perkara Penting"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Sebenarnya aku ingin menyinggung yang lain. Setelah melihat kecanggungannya dan sedikit kalimat yang keluar dari mulutnya, kusimpan lagi pertanyaanku. Meski Ratna mengatakan dirinya baik-baik saja, raut mukanya bersendu. Jika sedang tidak diajak bicara, pandangannya kosong. Tapi, sekilas seperti memikirkan sesuatu. Aku tidak memperhatikan dirinya begitu jeli. Aku khawatir dia menangkap maksudku, lalu dia justru bertambah enggan dan tak mau menjawab pertanyaan yang akan aku ajukan.


"Tapi, ada yang ingin aku tanyakan."


Dia kembali menatapku.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Bukannya Pak Nizam sudah tahu tadi?"


"Memang ada beberapa hal, tapi yang terpenting itu. Apa yang sebetulnya telah terjadi pada kalian? Siapa dua lelaki itu?"


"Apa Fizah udah cerita?"


"Ratna, dia tidak mungkin cerita. Dia hanya memberitahuku apa yang terjadi pada kalian, sebetulnya itu bukan kehendak kalian berdua. Benar begitu?"


Dia mengangguk.


"Apa kamu nggak ingin cerita? Sedikit lebih jelas saja agar aku tahu."


"Tapi, Fizah marah dengan Pak Nizam. Aku nggak berani cerita jika Fizah saja enggan, Pak."


"Siapa yang tahu masalah ini? Hanya kamu, Yazeed, dan Fizah bukan?"


Tatapannya melurus padaku. Dia urung menjawab.


"Fizah dan Yazeed pasti enggan. Harapanku adalah kamu, Ratna. Kamu pasti tahu, kan, kronologis kejadiannya? Aku yakin kamu tahu persis."


Aku hanya ingin memastikan bahwa dugaanku benar. Mungkin dia dipaksa oleh seseorang.


"Aku ke sana sebentar." Pak Iman menyisih. Dia mengerti Ratna enggan berbicara karena ada dirinya.

__ADS_1


"Aku atau pun Fizah dipaksa." Ratna mulai bicara.


"Lalu?"


"Satu hal yang harus Pak Nizam pegang. Fizah perempuan baik-baik. Bahkan, dia masih saja beribadah dan menjaga hafalannya di tempat busuk itu. Di saat orang-orang sudah tidak peduli lagi. Dan, Fizah gadis yang masih suci. Tidak sepertiku." Perlahan kepalanya menunduk.


"Lalu?"


"Fizahlah yang berusaha mati-matian keluar dari sana. Karena ketika kita sudah jatuh ke sana, akan sangat sulit. Sangat sulit. Di mana saja diawasi. Tapi, Fizah perempuan yang sangat berani. Dia rela dipukuli. Sampai akhirnya, malam itu Pak Nizam menjadi penyelamat kami. Tapi, Pak, posisi kami sekarang belum aman. Mereka berdua akan terus mengejar kami." Mukanya berubah cemas. Tatapannya memohon ingin dikasihi.


"Tempat itu sekarang sudah dibubarkan. Tapi, aku nggak tahu apakah suatu saat akan kembali ada. Dulu juga seperti itu. Pelakunya ditangkap, lalu ada pemilik baru yang mendirikan bangunan itu. Sekarang, penghuni tempat itu menjadi buronan."


"Laki-laki yang mengejar kami, pasti punya kelompok, Pak. Bagaimana jika mereka sebetulnya adalah mafia?"


Dadaku terasa seperti dipukul. Sebegitu berat perjuangan dua manusia yang pernah kuhina ini? Aku yang telanjur kecewa pada saat itu, pun telanjur mengatakan Fizah sebagai perempuan rendahan. Dan, itu akan selamanya diingat. Buktinya, sampai sekarang dia belum bisa memaafkanku sepenuhnya.


"Oke sebentar. Ini kalau kamu mau menjawab saja. Jika enggak, tidak masalah. Lalu, apa hubunganmu dengan Yazeed?"


"Yazeed hanya berusaha melindungiku. Demi menutupi apa pun yang terjadi pada kami, dia mengaku sebagai suamiku. Sudah. Hanya itu yang bisa aku ceritakan. Tapi, aku minta Pak Nizam nggak akan ceritakan ini pada Fizah. Pak Nizam harus bersikap seakan-akan tidak tahu."


"Iya. Aku paham."


*Wardah Mustika Rahayu


Ya. Aku kini sadar aku siapa. Aku adalah pengantin baru. Suamiku bernama Darya. Bukan pria lain yang dulu pernah kuharapkan. Beda pandangan menjadi bentang terjauh dan gerbang tertinggi di antara kami. Juga perasaan yang tumbuh hanya pada satu hati. Dan, kini aku sudah tak menjadi seorang gadis lagi. Kang Darya, mantu kesayangan bapak itu telah menyemaikan cintanya. Diam-diam terbersit doa, semoga benih itu tak akan tumbuh dengan cepat. Atau, bapak akan mengiraku aku sudah pasrah dengan pernikahan ini dan sudah mencintai Kang Darya. Dan, harapanku dia tidak memintaku lagi malam ini.


"Sibukkanlah saja dirimu dengan kisah-kisah jawa yang tiap malam bapak ceritakan padamu," batinku. Kutatap dia dari kamar. Pintu kamarku masih terbuka. Kudengar bapak sibuk tertawa, menjelaskan dengan bangga masa-masa kecilku yang kemungkinan akan semakin menambah gairah dan pemikat Kang Darya. Usah begitu, Pak. Ingin kubilang begitu. Tapi, mikul dhuwur mendem jero, seperti yang dikatakan Mas Nizam waktu itu, masih teringat sangat jelas dalam benakku. Nasihat itu terasa sakral di kepalaku. Jika tiba-tiba aku mengingatnya, ia bisa menjadi mani' yang membuatku tak jadi membantah perintah bapak ataupun suamiku. Sebegitu hebatnya Mas Nizam di hatiku. Bahkan, sampai sekarang namanya menindih begitu cepat. Termasuk saat aku ingat peristiwa risih yang kualami di malam pertama pernikahanku.


Bagaimana dengan patrem yang pernah kuberikan waktu itu? Apakah dia sudah menemukan cinta sejatinya? Patrem itu adalah benda kesayanganku. Aku sering membawanya saat tarianku harus ditunjukkan. Kata bapak, aku tidak tahu persis dan juga tidak terlalu mempercayainya, patrem itu konon katanya bisa mengeluarkan aura dan menjaga pemiliknya. Dulu, hanya wanita yang punya status sosial tinggi dan berwibawalah yang memiliki pusaka tersebut. Tapi, sedikit hal lain yang aku tahu bahwa patrem itu dapat digunakan sebagai pusaka pertahanan diri. Dulu, prajurit wanita keraton Yogyakarta menyelipkan patrem di pinggangnya saat akan menghadapi perang. Patrem bukanlah patrem pemikat pria. Hanya pada orang yang sangat kusayangilah patrem itu kutitipkan. Sebetulnya bapak melarangku memberikannya kepada siapa pun. Karena patrem itu diberikan khusus kepadaku. Dibuat oleh seorang empu bernama Mpu Durna Wiyoso, salah seorang empu tersohor di bumi etan Jawa Timur. Keris kecil atau patrem itu dimulai dengan tirakatan, bertapaan selama 40 hari empat puluh malam. Tidak sembarang orang bisa membuatnya. Juga tidak sembarangan orang dapat memiliki. Hanya itu pesan bapak semasa pertama memberikannya padaku dulu. Tapi, aku yakin di tangan Pak Nizam, semuanya akan aman. Karena dia orang yang sangat baik. Siapa tahu, lantaran pusaka itu, dia mendapatkan keselamatan.


Masih kudengar percakapan yang sama di ruang tengah. Malam ini, aku sangat enggan bersolek. Seandainya boleh, aku hanya ingin berpenampilan seperti biasanya. Tapi, Kang Darya kerap memintaku sedikit membubuhkan lipstik dan warna merah di pipiku. Katanya, akulah satu-satunya bidadari yang telah ia lihat lebih dulu di dunia. Dia juga pernah bilang, tak perlu pergi ke surga untuk menemui pusat keindahan semesta. Karena akulah semesta itu. Batinku hanya memasabodohkan gombalannya itu. Bahkan, membaca perasaanku saja dia tidak bisa.


Kepala Kang Darya tiba-tiba menyembul dari celah pintu. "Sudah cantik?"

__ADS_1


"Dari dulu," jawabku ketus.


Dia membuka celahnya, masuk. Lalu menutupnya.


"Kata Bapak kaupunya patrem. Mana tunjukkan! Aku pengen tahu bentukannya. Bapak bilang itu spesial. Patrem yang dibuat khusus oleh tangan ahli."


"Aku ngantuk, Kang."


"Loo aku cuman pengen lihat. Sebentar aja."


"Aku tidur dulu." Aku berpura-pura menguap. Mengendurkan pandangan.


Belum juga merebah, dia menarik tangan kananku.


"Aku penyuka barang antik. Dilihat dari antuasnya Bapak cerita, patrem itu mungkin lebih antik dari yang kukira."


"Enggak." Aku menegaskan. "Itu patrem biasa. Hadiah aku pas SD, Kang."


"Sekali saja. Please, Bidadariku yang cantik!"


Aku tidak mungkin memberitahunya kalau patrem itu malah kuberikan pada seorang laki-laki. Akan jadi prahara besar di rumah ini. Bapak juga akan marah besar. Bapak begitu sentimentil mendengar nama Mas Nizam. Apalagi, jika bapak tahu apa yang sudah kulakukan.


"Kang?" Aku memandangnya lekat-lekat.


Dia tersenyum. Menyentuh daguku. Lalu, memagutku. Mengajakku merebah.


Aku hanya tidak ingin mereka tahu.


Dan...


"Sial!! Justru aku yang terjebak lagi."


Selamat membaca. Maaf nggeh kemarin tidak bisa up. šŸ™šŸ™šŸ˜… Semoga selalu dalam kemudahan dan keberkahan.ā¤ļø

__ADS_1


__ADS_2