
"Anak papa lagi ngapain disini?" Raf mengelus perut sang istri yang sudah mulai membuncit.
"Aku lagi, mainan paa" jawab Menta dengan suara khas anak kecil.
"Mainnya yang baik ya, jangan bikin mama kesakitan oke?" sambil mengecup perut itu.
"Wah dia merespon papa" Menta terlonjak saat sang bayi bergerak sesaat setelah dikecup oleh papanya.
"Benarkah?" Raf menatap intens perut sang istri.
__ADS_1
"Sini tangan papa" ibu hamil itu menuntun tangan suaminya ke tempat sang bayi menunjukkan gerakannya.
"Luar biasa" mata pria itu berkaca-kaca melihat bagaimana perut sang istri bergerak-gerak karena bayi mereka sedang merubah posisinya.
"Dia sangat bahagia karena disapa oleh papa" Menta menjelaskan sambil mengelus kepala suaminya yang masih menatap perutnya dalam jarak yang sangat dekat.
"Papa tidak sabar ingin bertemu denganmu sayang" kecupan demi kecupan bertubi-tubi diberikan oleh Raf.
"Oya ma, bagaimana dengan tawaran Bunda Ananda dan Mama Tata tentang lahiran di ibukota?" Raf bertanya kepada istrinya.
__ADS_1
"Kalau menurut papa bagaimana?" Menta malah balik bertanya.
"Kalau papa sih setuju sekali dengan ide mereka, lebih baik kita pulang saja ke ibukota, di sana kan banyak keluarga yang bisa mendampingi kita saat nanti mama lahiran. Lagian disini juga sudah hampir beres semua kok pekerjaan papa dan tim proyek yang lainnya, jadi nanti tinggal di cek secara berkala saja dengan orang lapangan untuk bagian operasionalnya. Mama dan tim medis lainnya juga sudah hampir selesai kan masa pengabdiannya? nanti biar papa koordinasi lagi sama pak Kepala desa untuk mempercepat pencarian tim medis yang baru untuk menggantikan posisi kalian, supaya kita semua bisa segera kembali ke ibukota bersama-sama sebelum mama lahiran!" kata Raf.
"Oke, terserah papa saja kalau begitu. Oya, jadi yang pindah tidak hanya kita berdua saja ya? semuanya juga ikut pindah pa?" Menta menyetujui usul Raf.
"Iya dong ma, masa Runi, Rich, Burhan dan Haris mau ditinggal? kan proyek pembangunannya sudah mau selesai, tinggal diresmikan dan segera dibuka untuk umum saja! Lagian kan Karina dan Rini juga sudah mau masuk kuliah dan kerja, jadi kalau tidak segera pindah nanti malah tertunda!" jawab Raf.
"Hemmm iya juga ya. Tapi sejujurnya mama sedih loh pa, karena berarti nanti kita akan pisah sama mereka semua. Kan di sini kita sudah biasa bersama-sama!" Menta membayangkan kalau mereka akan pisah rumah.
__ADS_1
"Mama kenapa mesti sedih? kan nanti kita semua akan tetap berada di dalam satu komplek yang sama ma, cuma beda cluster dan blok saja kok. Karina-Burhan dan Rini-Haris juga kan sudah papa carikan yang dekat sama rumah baru kita, ya walaupun letaknya agak lebih jauh ke dalam sedikit, tapi tetap bisa dijangkau kok. Jadi kalau nanti mama kangen ya tinggal kumpul-kumpul saja di salah satu rumah!" Raf memang sengaja menjual penthousenya untuk kemudian ditukar dengan rumah baru mereka di komplek yang sama dengan keluarga besar Anderson dan juga Putra Angkasa. Ia juga sengaja membelikan kedua pasang pengantin baru itu rumah minimalis dengan harga 1M di cluster bagian belakang komplek tersebut, agar sang istri bisa tetap sering berkumpul bersama-sama dengan mereka.
"Ahhhh papa, terima kasih ya, suamiku ini memang paling the best deh!" Menta baru menyadari bahwa suaminya memang sudah merancang semua hadiah yang diberikan kepada teman-temannya agar mereka tetap bisa berkumpul bersama meskipun sudah beda rumah.