
Keesokan harinya Runi dan Menta sengaja meluangkan waktu mereka hanya berdua saja dengan melakukan olah raga pagi mengelilingi jalan setapak di desa. Menta yang jauh dari keluarganya di ibu kota berusaha membujuk Runi agar mau tinggal beberapa waktu lagi untuk menemaninya.
"Apa kau benar-benar sudah ingin ke ibukota?" Menta merasa sedih saat melihat sahabatnya ingin pulang kembali.
"Aku kan besok senin harus bekerja" integritas Runi dalam bekerja memang sangat tinggi.
"Kalau begitu aku yang akan minta ijin sama papa agar kau bisa libur beberapa hari lagi" Menta langsung mengangkat ponselnya dan menghubungi Surya.
"Eh jangan!" Runi menolak, namun ia pun tidak punya daya untuk mencegah Menta menghubungi papanya.
"Halo pa?" Menta melakukan panggilan video.
"Ya sayang" Surya menjawabnya.
"Kakak boleh minta sesuatu sama papa tidak?" tanya sang dokter.
"Apa itu nak?" tanya papa lembut.
"Kakak masih rindu dengan Runi, boleh tidak kalau dia menginap di sini beberapa hari lagi?" Menta merajuk.
"Tentu saja" angguk Surya dengan yakin.
"Benarkah? tidak apa-apa?" hatinya sangat bahagia.
__ADS_1
"Iya, papa, om Hendro dan om Adhi malah sudah berencana untuk mengutus Runi sebagai perwakilan tim kerja yang akan mengurus proyek kita di sana bersama dengan Raf dan Rich dari Perusahaan Anderson" selain Runi memang berkompeten menjadi petinggi di perusahaan Surya Angkasa karena kecerdasannya, ia juga berharap dengan adanya gadis itu di dekat Menta, maka sang putri bisa lebih terhibur dan merasa memiliki keluarga di sampingnya saat berada di desa terpencil.
"Ahhhhh papaaaaa kakak sangat menyayangimu" Menta terlonjak kegirangan.
"Besok lusa akan ada dua staf perusahaan kita yang datang untuk menemani Runi bekerja di sana, sekaligus yang akan membawakan pakaian serta segala keperluan Runi" imbuh Surya lagi.
"Oke pa" jawabnya dengan sangat riang.
"Oya, mana Runi? papa ingin bicara" Surya mencari sosok gadis yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri itu.
"Sebentar pa" sambil menyodorkan ponselnya ke arah Runi.
"Halo Om" Runi menghadapkan wajahnya ke arah layar.
"Halo nak, bagaimana kabarmu?" Surya menyapa dengan ramah.
"Kau keberatan tidak jika harus bekerja di desa untuk mengawasi proyek kita di sana sekaligus bisa menemani Menta supaya tidak kesepian?" Surya to the point.
"Dimana pun ditempatkan aku siap om" asalkan bisa berbakti kepada perusahaan Putra Angkasa yang sudah mengangkat derajat keluarga besarnya, Runi selalu bersedia. Baginya keluarga Surya dan perusahaan Putra Angkasa adalah hidup dan matinya.
"Terima kasih ya sayang, om sangat bangga padamu nak" Surya pun sama halnya dengan Runi, baginya dan Tata keluarga Hendro dan Adhi adalah bagian penting dari hidupnya. Ia dan sang istri sangat menyayangi mereka semua layaknya saudara kandung sendiri.
"Sama-sama om, aku juga sayang om" Runi memang sudah menganggap Surya seperti ayah sendiri.
__ADS_1
"Oya besok lusa kami akan mengutus dua orang untuk menemanimu bekerja bersama Raf dan Rich ya, sekaligus membawa pakaian serta perlengkapanmu" Surya mengulangi infonya yang sudah ia sampaikan kepada Menta tadi.
"Oke om" angguk Runi dengan senyum terkembang.
"Lalu untuk tempat tinggal, aku sudah berkordinasi dengan kepala desa, nanti kalian semua akan tinggal bersama-sama di rumah yang sekarang ditinggali oleh Raf dan Rich ya" rumah yang selama ini ditempati dua cucu laki-laki keluarga Anderson itu adalah paviliun desa yang biasanya dipakai untuk keperluan menginap para tamu penting di desa. Bangunannya sangat besar dan memiliki sepuluh kamar yang saling terpisah menjadi dua area, yaitu lima kamar untuk area khusus wanita dan lima kamar untuk area khusus laki-laki, sehingga tidak akan menjadi masalah jika ada tamu yang berbeda jenis menginap secara bersamaan.
"Baik om" angguk Runi lagi.
"Baiklah, kalau begitu kalian berdua hati-hati ya di sana, titip salam untuk Raf dan Rich, serta Karina dan Rini juga" Surya berpesan.
"Oke paaaa" Menta menunjukkan diri dilayar ponselnya lagi.
"Bye sayang" Surya melambaikan tangan.
"Bye" jawab Menta dan Runi serentak sebelum menutup ponselnya.
"Ahhhhhh aku senang sekali" Menta langsung memeluk Runi dengan spontan.
"Karena aku sudah berkorban tinggal disini, maka kau harus sering-sering mentraktir aku ya" goda Runi kepada sang sahabat.
"Tenang saja, besok aku traktir kau satu bakul gorengan di pasar heheheheh" kekeh Menta.
"Uh dasar kau ini" memajukan bibir pura-pura cemberut.
__ADS_1
"Sudah yuk pulang" Menta kemudian merangkul Runi, ia sudah tidak sabar ingin memberitau yang lain kalau Runi akan menetap di desa.
"Oke" kemudian mereka pun kembali ke rumah dinas.