
Setelah beberapa hari menginap di rumah kedua orangtuanya untuk menghibur sang mama yang tengah bersedih karena kematian Tyo, akhirnya Menta dan keluarga kecilnya kembali pulang ke rumah mereka sendiri untuk mempersiapkan kelahiran anak ketiganya.
"Mama sedang apa sih kok kayaknya seru banget?" Raf bertanya kepada Menta saat melihat istrinya duduk sambil bersandar diatas tempat tidur mereka dengan senyum mengembang dan menatap layar ponselnya.
"Ini loh pa, si Nora mau menikah, trus mama diundang jadi bridesmaidnya dia sama Runi dan Ray" jawab Menta sambil menyodorkan ponselnya kearah sang suami dan menunjukkan obrolan grup teman-teman masa SMAnya yang berisikan dirinya, Runi, Nora dan Ray.
"Kapan ma?" tanya pria itu lagi sambil mensejajarkan diri dengan sang istri.
"Masih lama sih pa, masih dua bulan lagi, tapi mama sama yang lainnya udah dikasih seragam bridesmaidnya sama Nora dari sekarang biar bisa dijahit ke butik jauh-jauh hari" jawabnya.
"Ooooohhhhh" mengangguk sambil ber oh ria.
"Eh tunggu ma, Nora itu yang adiknya si Noah ya?!" nada tidak suka terdengar dari mulut Raf.
"He em, itu loh yang dulu dia ulang tahun trus papa nganterin mama ke cafe depan komplek" angguk Menta dengan polos sambil mengingatkan masa awal pernikahan mereka.
"Trus mama mau jadi bridesmaidnya?" bertanya menyelidik.
"Iyalah, kan Nora sahabat mama dari SMA, masa gak mau sih" angguknya lagi.
"Ck!" Raf langsung berdacak kesal.
__ADS_1
"Loh papa kenapa?" ibu hamil itu bingung dengan reaksi suaminya.
"Gapapa!" tapi kemudian memalingkan wajahnya.
"Gapapa tapi kok cemberut, trus buang muka lagi!" kata sang istri.
"Paaaaaa,, kenapa sih???" Menta meraih pipi suaminya dan menghadapkan wajahnya tepat didepan wajah sang suami.
"Kalau mama jadi bridesmaid, berarti nanti mama ketemu sama si Noah kan di acara pernikahan Nora?" Raf tidak bisa lagi menutupi rasa cemburunya yang teramat sangat.
"Ahahahahaha" Menta langsung paham arah pembicaraan sang suami.
"Uhhhhhh suamiku kalau lagi cemburu tuh gantengnya maksimal banget sihhhh, jadi gemes deh pengen diemut sampai meleleh" Menta mencubit kedua pipi sang suami dengan gemasnya.
"Ck!" namun Raf masih saja kesal.
"Dengerin mama ya pa, buat mama saat ini tuh gak ada yang lebih penting dari papa dan anak-anak kita. Nih papa pegang, sebentar lagi dia mau lahir, artinya anak kita sudah ada tiga!" Menta mengarahkan tangan sang suami ke perutnya yang sudah sangat buncit.
"Kalau sama papa aja mama udah sebahagia ini, masa iya mama masih perlu repot cari yang lain?" entah mengapa Menta merasa sangat bersyukur ketika sang suami begitu merasa cemburu padanya.
"Serius?!" Raf merajuk.
__ADS_1
"Ya serius lahhhh, lagian punya suami satu aja manjanya gak ketulungan kayak gini, apalagi kalo ada yang lain? duhhh bisa mumet mama dibuatnya!" kembali mencubit pipi sang suami dengan gemas.
"Papa tuh cuma takut aja kalau mama sampai ninggalin papa kayak dulu lagi, rasanya bisa gila papa kalau hidup tanpa mama!" ia menatap sang istri dengan wajah serius.
"Isshhh apa sih papa nih, lebay ah!" tatapan Raf membuat sang istri berbunga-bunga.
"Udah yuk ah kita tidur, mama udah ngantuk nih!" Menta langsung menarik selimutnya sampai ke atas dada.
"Ehhhhh tunggu!" Raf menahan selimut Menta.
"Ada apa?" yang ditahan bertanya kembali.
"Katanya tadi ada yang pengen ngemut papa sampai meleleh?" senyum jahil tersungging diwajah pria keturuna bule itu.
"Papaaaa ihhh dasar pikirannya kotor!" Menta baru sadar jika kalimatnya tadi ternyata sangat ambigu.
"Ayo ma, bikin papa meleleh sekali ini aja, terakhir deh sebelum dia lahir" sambil mengelus perut buncit Menta.
"Plissssss" memasang wajah imut.
"Ishhhh dasar modus!" wajah imut Raf pun akhirnya membuat pertahan ibu hamil itu runtuh.
__ADS_1