Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Petunjuk Dari Tuhan


__ADS_3

"Pa ini dokumen punya papa bukan?" Tata yang sedang membereskan meja makan setelah kegiatan sarapan keluarga selesai bertanya kepada sang suami.


"Bukan, memangnya mama lihat dimana itu?" Surya malah balik bertanya.


"Di meja makan" jawab sang istri.


"Jangan-jangan punya Raf" kemudian Surya membuka dokumen tersebut.


"Benar, ini punya Raf, dokumen perjanjian bisnisnya" kata Surya sambil membolak balikkannya.


"Mungkin tadi dia lupa membawanya ya" Tata menduga.


"Sepertinya begitu, biar nanti papa minta tolong sama Menta untuk antarkan ke kantornya" Surya kemudian beranjak untuk mencari sang putri.


"Oke" Tata pun kemudian melanjutkan pekerjaannya untuk membereskan meja makan.


"Kak, ini dokumen milik Raf tertinggal di meja makan, bisa tidak kakak antarkan ke kantornya? takutnya ini penting dan ingin dipakai segera" Surya yang menghampiri sang putri di ruang keluarga bertanya kepadanya.


"Baik pa" Menta yang sedang membaca buku untuk persiapan masuk universitas kemudian bergegas untuk mengantarkan berkas tersebut.


"Papa suruh orang untuk kawal kakak ya?" trauma akan penculikan dan penyekapan membuat Surya menjadi lebih waspada terhadap seluruh anggota keluarganya.


"Tapi kakak tetap boleh bawa mobil sendiri kan pa?" Menta sebenarnya tidak suka dikawal, namun dengan kejadian tersebut mau tidak mau dia harus menerimanya.

__ADS_1


"Tentu saja, pengawal hanya akan mengikuti mobil kakak dari belakang, tapi kakak juga jangan terlalu ngebut ya, supaya mereka tidak kehilangan jejak kakak" Surya memberi arahan.


"Siap bos" jawab Menta dengan gaya hormat.


..........


Tok Tok Tok,,,


Setelah tiba di kantor utama Anderson, Menta langsung menuju ke ruangan Raf.


"Kak Raf, upsssss" Menta terkejut saat melihat pemandangan di dalam ruang kantor sang suami.


"Sayang!?" Raf yang sedang dalam posisi memangku Paula di kursi kerjanya dan berciuman sangat mesra terkejut.


"Sayang tunggu dulu" Raf langsung menghempaskan Paula dari pangkuannya dan mengejar Menta.


"Awwww Raf!?" Paula terpelanting ke lantai.


"Sayanggg" Raf berlari untuk mendekati sang istri dan kemudian meraih tangannya.


"Sayang dengarkan aku, ini tidak seperti yang kau lihat, aku bisa jelaskan" Raf menggenggam erat tangan Menta. Ia sangat takut jika sang istri sampai salah paham.


"Ya ampun kak, kenapa wajah kakak jadi panik gitu sih, biasa aja kali hehehe" gadis itu malah terkekeh.

__ADS_1


"Sayang!?" Raf yang melihat reaksi Menta tidak menunjukkan ekspresi sedih atau marah merasa sangat terkejut.


"Aku kesini karena mau antar ini saja kok, tadi pagi saat sarapan kakak lupa bawa kan?" katanya sambil menyodorkan dokumen yang dia bawa.


"Kau,, aku,," Raf tergagap dengan penjelasan yang diberikan oleh Menta, Ia bingung harus merespon dan berkata apa.


"Sudah ya kak, aku pulang dulu, aku mau belajar lagi karena besok kan ada ujian masuk perguruan tinggi, salam buat kak Paula ya, bye!" katanya sambil tersenyum. Ia pun kemudian menarik tangannya yang masih digenggam oleh Raf dan berjalan menuju lift dengan santainya.


"Sayang!!" Raf ingin mengejar Menta kembali, namun sudah terlambat karena pintu lift keburu tertutup.


..........


"Hiks hiks hiks" setelah masuk ke dalam mobil, Menta langsung menangis tersedu-sedu. Ia sudah tidak kuat lagi untuk berpura-pura baik-baik saja.


"Apakah mungkin ini petunjuk dari Tuhan untuk berpisah dengan kak Raf?" ia bertanya pada dirinya sendiri.


"Tapi kenapa begitu sakit? hiks hiks hiks" ia menepuk dadanya yang terasa sesak.


"Tidak Menta, kau harus kuat, kau harus tegar, ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan tragedi kehilangan mama dan papa kemarin!" ia menyemangati dirinya sendiri.


"Hapus air matamu, jangan biarkan nasib mempermainkanmu!" katanya lagi kepada dirinya sendiri.


"Ayo tersenyumlah, tataplah masa depanmu dengan penuh kebahagiaan!" ia mengusap wajahnya dengan tissue dan merapikan make upnya yang sudah hancur oleh air matanya.

__ADS_1


Setelah merasa lebih tenang, akhirnya Menta pun kembali pulang ke rumah. Ia berusaha bersikap biasa saja, seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun.


__ADS_2