
"Kau sedang apa di luar sini?" Gaby yang melihat adik iparnya berdiri di halaman depan rumah bertanya kepadanya.
"Lihatlah kak, mangga-mangga itu seperti melambai-lambai kepadaku minta untuk dipetik" berulang kali Menta menelan salivanya menahan keinginannya.
"Tapi itu kan masih mengkal semua" Sera yang juga bersama Menta berkata.
"Justru itu, aku sedang membayangkan rasa kecutnya, pasti enak sekali kalau ditambah sambal rujak" wajah ibu hamil itu benar-benar tidak bisa berbohong.
"Kalau begitu suruh saja suamimu manjat untuk memetiknya!" Rach memberi usul.
"Memangnya kak Raf bisa manjat?" Menta sangsi.
"Ya kalau tidak bisa kan bisa kerja sama dengan Rich" kata Rach lagi.
"Benar, suruh saja mereka berdua manjat, ada kak Gamal, kak Gide dan kak Dimas juga yang bisa kau mintai tolong" Sera mengangguk.
"Iya, meskipun untuk hal ini para grandpa tidak bisa kita andalkan karena sudah pada sepuh, tapi kita kan masih punya banyak pria yang bisa diperintah, nanti biar aku yang bikinkan bumbu rujaknya" Gaby yang berprofesi sebagai seorang chef menawarkan diri.
"Ahhhhh kalian baik sekali, aku jadi sangat terharu karena merasa disayang" Menta hampir menangis.
"Sudah-sudah jangan mellow lagi, lebih baik kita kasih tau mereka sekarang supaya bisa melakukan tugasnya segera" Gaby menenangkan ibu hamil yang memang moodnya sedang naik turun itu.
..........
"Apa, manjat pohon mangga? no way, mana mungkin aku melakukannya, kau tau kan kalau aku takut ketinggian!" Rich langsung menolaknya, sementara Raf, Dimas, Gamal, dan Gide hanya diam saja karena takut disemprot oleh istri mereka masing-masing.
"Kau ini kenapa jahat sekali sih sama keponakan sendiri, apa tidak kasihan sama kakak ipar!" Rach memarahi saudara kembarnya.
"Kakak ipar maaf ya kali ini aku menyerah, aku takut ketinggian" Rich berkata kepada Menta sambil memohon maaf.
"Biar aku panggilkan Burhan dan Haris saja kalau begitu, mereka pasti bisa melakukannya, ini kan hanya hal sepele!" kata Runi sambil mencibir ke arah Rich.
"Eh tunggu Runi, biar aku coba kalau begitu!" wajah Rich seketika itu juga langsung pias mendengar ejekan dari gadis yang ia sukai.
"Bukannya kakak bilang tidak bisa!?" Runi menatap dengan sinis.
__ADS_1
"Bisa, pasti aku bisa, tapi kau beri aku semangat ya nanti" angguk Rich dengan cepat, membuat semua orang yang melihatnya jadi menahan senyum geli karena sang casanova langsung bertekuk lutut didepan seorang Runi.
"Baiklah, karena semua pria sudah setuju, maka silahkan kalian mulai pekerjaannya, karena aku dan yang lainnya akan membuat bumbunya!" Gaby sebagai kakak tertua sekaligus ketua geng cucu perempuan Anderson memberi instruksi kepada para suami.
..........
"Awwwww, kak Gide jangan gerak-gerak dong!" Rich berteriak ketakutan saat dahan yang dipijaknya bergoyang.
"Kalau tidak gerak bagaimana aku mau ambil mangganya" jawab Gide.
"Rich ayo semangat!" Mike dari bawah memberi semangat.
"Raf itu disebelah kirimu ada yang sudah besar dan agak matang" Gamal menunjuk buah yang bergelayut pada dahannya.
"Oh iya benar, besar sekali ini" kata pria yang istri sedang ngidam itu.
"Itu dibelakangmu juga ada Raf" Surya menunjuk bagian belakang kepala menantunya.
"Sini yang sudah dipetik lempar kebawah, biar aku tangkap" Hendro menengadah ke arah Gide yang sudah memetik beberapa buah.
"Dimas bukannya dibelakang ada galah?" George yang kemarin mengobrol dengan Dimas di bagian belakang rumah berkata.
"Oiya benar, kalau begitu aku kebelakang sebentar ya" Dimas yang memang melihat ada galah di bagian halaman belakang rumah langsung mengambilnya dan menggunakan alat itu untuk mengambil mangga tanpa perlu susah payah memanjat.
"Heyyy kak, kenapa kau tidak bilang kalau ada galah sih? kau sengaja mengerjai kami ya!" Rich yang sudah ada di dahan paling tinggi mengomel.
"Makanya kalau kerja pakai akalmu, jangan hanya mulut saja yang bicara!" Ron men skak mat putranya.
"Ya sudah ayo kita turun saja, kan sudah ada galah ini" Gide mengajak semuanya turun.
"Oke yuk" jawab Gamal dengan senang hati.
"Kak Dimas aku titip mangga ini ya, ini buat istriku tercinta, dia harus makan yang ini karena aku yang petik sendiri" kata Raf sebelum turun sambil menaruh mangga besar yang dia petik ke dalam galah yang dipegang oleh Dimas.
"Heyyyy tunggu aku, ini bagaimana cara turunnya, aku ngeri!" Rich yang sudah keringat dingin bingung sendiri.
__ADS_1
Kehebohan-demi kehebohan terjadi saat mereka semua bahu membahu memetik mangga untuk ibu hamil itu. Meskipun para grandpa hanya menyaksikan dari bawah tapi suasana tetap sama hebohnya dengan saat mereka memancing ikan di danau dan juga belut di sawah.
..........
"Wahhhh buahnya segar-segar ya" Ananda yang melihat Karina, Rini, Burhan dan Haris pulang dari pasar untuk membeli buah pendamping untuk mangga muda pun berbinar-binar.
"Sini aku kupas" Ayu berkata.
"Biat aku ambilkan pisaunya" kata Sekar.
"Pasti ini hasil kebun warga langsung ya" tebak Dini.
"Sepertinya sih begitu, karena maaih segar" jawab Maya.
"Iya, kata kepala desa disini masih banyak yang berjualan dari hasip kebun sendiri" Tata yang sudah pernah beberapa kali menginap di sini lebih tau kondisi desa.
"Grandma jadi ngiler nih" grandma Merlyn sudah tidak tahan ingin icip-icip.
"Iya, apalagi kalau dicampur bumbu yang sedang dibuat oleh Gaby, Sera, Rachel, Menta dan Runi pasti enakkkkk"
"Ini dia" Gaby membawa bumbu hasil ulekan tangannya ke halaman depan.
"Ayo Menta kau icipi" Sera menarik tangan kakak iparnya agar mendekat.
"Enak tidak?" Rach menunggu dengan antusias.
"Sepertinya asam ya?" saliva Runi sudah tidak terhindarkan melihat Menta makan dengan lahap.
"Pelan-pelan sayang, tidak ada yang minta kok" Raf yang melihat sang istri makan rujak mangga muda dengan lahap berkata.
"Ayo semua kita pesta rujak" grandma Merlyn kemudian mengambil pepaya yang manis.
"Selamat pestaaaa" grandma Ruth mencolek bengkoangnya dengan sambal.
Semua anggota keluarga berkumpul menjadi satu dan menikmati rujak yang dibuat. Meskipun awalnya hanya Menta yang ingin rujak mangga, namun setelah ditambah dengan buah-buahan yang lain, mereka semua akhirnya bisa menikmatinya.
__ADS_1