
"Kau mau kemana jam segini sudah rapi?" Rich yang melihat sang kakak sepupu sudah mandi dan memakai pakaian rapi plus parfum segar bertanya dengan heran.
"Bukan urusanmu!" jawab Raf.
"Ahhhhh pasti kau mau bertemu kakak ipar ya?" kata sang adik sambil memicingkan matanya.
"Berisik!" pria itu kemudian mengambil kunci mobilnya dan bersiap berangkat.
"Hei kalau kau bawa mobilnya, lalu aku bagaimana nanti ke tempat proyek kita?" Rich yang masih muka bantal karena baru bangun tidur berteriak.
"Jalan kaki saja biar sehat!" seloroh Raf sambil berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman rumah sederhana tempat mereka tinggal beberapa hari ke depan.
"Ck, benar-benar ya, orang kalau lagi jatuh cinta itu sikapnya persis orang gila!" Rich berdecak, namun demikian sesungguhnya di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia sangat bahagia melihat perubahan sikap Raf yang lebih ceria sejak kemarin siang bertemu dengan Menta di puskesmas.
..........
"Selamat pagi" Raf yang sudah tiba di rumah dinas para tenaga medis, menyapa sang penghuni yang membukakan pintu untuknya.
"Selamat pagi" Karina menjawab sambil memegang gagang pintu depan.
"Siapa yang datang Karin?" tanya Rini yang mengekor di belakangnya.
"Oh iya perkenalkan, saya Rafael Anderson" Raf mengulurkan tangannya kepada Karina dan Rini.
"Karina" jawab sang bidan dengan ramah.
"Rini" sang perawat pun ikut menjawab.
"Halo suster Rini, kita kemarin sudah bertemu ya di puskesmas, terima kasih karena sudah membantu mengobati luka saya" kata Raf dengan tulus.
"Sama-sama tuan" angguk Rini sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oya apa Menta ada?" tanya Raf dengan sopan.
"Ada, sebentar ya, silahkan duduk dulu tuan" Karina mempersilahkan tamunya untuk duduk sebelum ia dan Rini masuk ke dalam untuk memanggilkan Menta.
"Iya terima kasih" angguk Raf sambil tersenyum.
"Kak Raf?" tidak berselang lama Menta yang sudah siap dengan pakaian dokternya pun keluar dari dalam rumah untuk menemui Raf.
"Sayang" senyum pria itu mengembang begitu indah.
"Ada apa kakak pagi-pagi kesini?" tanya Menta dengan heran.
"Tentu saja mau mengantarmu ke puskesmas, kan semalam aku sudah janji akan datang lagi hari ini" jelas pria itu apa adanya.
"Tapi aku akan berangkat bersama teman-temanku kak" Menta masih belum mau membuka hatinya untuk Raf.
"Tidak masalah, mobilnya muat untuk empat orang kok, mereka bisa duduk di kursi belakang" tunjuk pria itu ke arah mobilnya sambil tersenyum puas.
"Emmm tapi,," Menta mencoba mencari alasan lain.
"Kalian berdua tidak apa-apa kan kalau ikut?" Raf bertanya kepada kedua gadis yang ada di depannya.
"Iya tidak apa-apa kok" Karina menjawab diikuti dengan anggukan oleh Rini.
"Nah, kalau begitu ayo" kemudian Raf membukakan pintu untuk Menta dan kedua kawannya. Dengan terpaksa Menta pun masuk ke dalam mobil dan tidak bisa lagi menghindar dari Raf.
..........
"Terima kasih ya tuan muda" Rini mengucapkan dengan sopan saat mereka sudah sampai di depan puskesmas.
"Maaf jadi merepotkan tuan muda" Karina pun melanjutkan.
__ADS_1
"Sama-sama, oya panggil aku Raf saja ya, tidak usah pakai tuan muda segala heheheh" Raf terkekeh.
"Eh tapi kan tidak sopan kalau hanya panggil nama saja" Rini berkata.
"Benar" Karina pun sungkan.
"Kalau gitu kak Raf saja, bagaimana?" Raf memberi usul.
"Baiklah, terima kasih kak Raf" angguk Rini.
"Kami masuk duluan ya kak kalau begitu" Karina pun memberi kode kepada Rini untuk meninggalkan kedua orang yang sepertinya masih membutuhkan waktu lebih itu.
"Oke" jawab Raf sambil menahan Menta dengan cara memegang tangannya erat.
"Kak lepaskan, aku juga mau masuk" yang di pegang tangannya pun protes.
"Tunggu dulu" Raf menarik gadis itu mendekat.
"Ada apa lagi?" entah mengapa Menta seperti masih enggan membuka pintu hatinya, meskipun di dalam hati kecilnya nama Raf masih tersimpan begitu rapi.
"I love you" kata pria itu sambil kemudian mengecup bibir Menta dengan lembut.
"Kak jangan begini, kita sudah tidak punya hubungan apapun!" Menta menghindar.
"Beri aku kesempatan plissss" Raf memohon.
"Aku sudah harus kerja kak, permisi" Menta tetap tidak menghiraukan permohonan Raf.
"Nanti sore aku jemput ya" Raf berteriak saat Menta sudah menjauh dari mobilnya.
Meskipun Menta bersikap dingin dan berusaha terus menghindar, namun Raf tetap bertekad untuk memenangkan hati gadis itu. Ia tidak mau kehilangan Menta untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup baginya lima tahun terpuruk karena ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya.
__ADS_1