
"Awwww" Menta meringis kesakitan sambil memegangi perutnya sesaat setelah Clara keluar dari kamar mereka dan mengemasi barang-barangnya.
"Mama kenapa?" Raf seketika terserang panik.
"Perutku sakit" ibu hamil itu mengeluarkan air matanya karena menahan rasa tegang di bagian perutnya itu.
"Ayo berbaring dulu" dengan sigap Karina memapah Menta ke arah tempat tidur.
"Ini bantalnya untuk ganjalan" Rini menyusun bantal agar Menta nyaman.
"Awwwww" hanya rintihan yang keluar dari mulut Menta.
"Karina, Rini, sebenarnya istriku kenapa?" Raf menatap kedua gadis yang sedang membantu Menta tersebut.
"Sepertinya ini efek dari syok yang dialami Menta baru saja, ibu hamil memang akan mengalami kontraksi jika tingkat stressnya tinggi atau mengalami emosi negatif" Karina mencoba mengecek kondisi Tata.
"Aku ambilkan alat-alatnya dulu" Rini kemudian berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas khusus alat pemeriksaan kehamilan yang biasa dipakai untuk memeriksa pasien di puskesmas.
"Aku buatkan teh hangat ya" Runi pun kemudian berjalan ke arah dapur.
"Ma, apa rasanya sekarang?" kalau tidak ingat banyak orang, Raf pasti sudah menangis saking paniknya.
"Perut mama tegang pa" Menta menggenggam tangan suaminya dengan sangat erat.
"Coba tarik nafas dalam-dalam agar lebih tenang" Karina mengarahkan ibu hamil itu.
"Iya" Menta yang seorang dokter juga sesungguhnya mengetahui teori itu, namun saat terjadi pada dirinya sendiri rasanya sangat berbeda.
"Ini, minumlah" Runi menyodorkan teh yang baru dibuat olehnya ke arah sahabatnya.
"Terima kasih" Menta kemudian menengguk teh hijaunya.
"Sini coba aku cek dulu" Rini kemudian memeriksa denyut jantung serta tekanan darah sang ibu hamil.
"Normal semua" Rini menatap ke arah Karina.
__ADS_1
"Berarti hanya syok saja, istirahat dulu sebentar ya, kita pantau beberapa saat kedepan" Karina yang seorang bidan memberi saran.
"Baiklah" angguk Menta.
"Oya, nanti kita cek fleknya juga ya, semoga saja aman" Karina menambahkan.
"Iya" angguknya lagi.
"Terima kasih ya, kalau tidak ada kalian pasti aku sudah sangat panik" Raf berterima kasih kepada dua tim medis itu.
"Sama-sama" jawab Karina dan Rini secara bersamaan.
..........
"Papa lagi ngapain?" Menta yang sudah mulai pulih melihat suaminya sibuk di depan layar ponsel.
"Papa lagi minta tolong tim fasilitas rumah sakit Anderson untuk membuat list alat-alat yang biasa dipakai rumah sakit dalam proses pemeriksaan untuk ibu hamil dan bayinya" jawab sang suami.
"Buat apa?" ibu hamil itu mengernyitkan dahinya.
"Hahhh? maksudnya gimana?" Menta tidak mengerti.
"Papa mau beli semua alat keperluan pemeriksaan kesehatan untuk ibu hamil dan bayinya buat memantau keadaan mama dan bayi kita. Papa gak mau kayak tadi lagi, bisa mati berdiri papa kalau sampai mama dan bayi kita kenapa-kenapa" Raf yang masih merasa berdosa karena tidak bisa mendampingi kehamilan Menta dan kelahiran Junior anak mereka yang pertama, menjadi sangat over protect terhadap sang istri.
"Ya ampun pa, buat apa sih? kan sudah ada Karina dan Rini yang bantuin mama. Lagian mama kan juga dokter, mama bisa kok kontrol kondisi mama sendiri paaaa" Menta tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya itu.
"Iya papa tau ma, tapi tetap saja mama itu butuh alat lainnya supaya bisa lebih yakin kalau semua baik-baik saja" Raf bersikeras.
"Trus kalau mama sudah lahiran, itu alat-alat mau diapain?" ibu hamil itu mencoba membuka mata suaminya.
"Ya buat ibu hamil yang lain di desa ini lah maaa, kan bisa dipakai di puskesmas" tuan muda yang kini sudah tidak dingin lagi itu menjawab dengan penuh kemenangan.
"Huuffff ya sudah terserah papa saja kalau begitu" karena niat akhirnya untuk disumbangkan kepada rakyat desa melalui puskesmas, maka Menta pun menyetujuinya.
..........
__ADS_1
"Woahhhh benarkah? kak Raf memang juara!" Karina terbelalak saat mendengar niat Raf untuk melengkapi semua peralatan pemeriksaan untuk ibu hamil di desa.
"Kok tega sih Karin memuji pria lain dihadapan aku!?" Burhan protes.
"Ih apa sih kak Burhan, baper amat!" Karina malah mencibir pria itu dengab senyum jahilnya.
"Suami idaman banget sih kak Raf ini" Rini juga ikutan memuji Raf.
"Kalau aku memangnya tidak idaman ya?" Haris yang melihat Rini memuji atasannya menjadi ikut baper sendiri.
"Kan kak Haris masih bujangan, masa mau dipuji suami idaman juga? ada-ada saja!" Rini geleng-geleng.
"Yang jelas kak Raf itu adalah suami siaga dan setia!" Runi juga ikutan memuji suami sahabatnya itu.
"Sayang, aku juga setia kok!" Rich membela diri karena merasa tersindir.
"Cih, siapa peduli!" Gadis itu berdecih.
"Sudah-sudah, kalian ini selalu saja begitu, kasihan tau pria-pria pemuja kalian itu dicuekin terus!" Menta yang merasa kasihan sama ketiga pria tersebut membela mereka.
"Tau, apa perlu aku modalin untuk acara nikah massal?" Raf menggoda.
"Boleh tuan!" Haris semangat.
"Aku daftar ya kalau beneran!" Burhan pun antusias.
"Aku sih gak perlu ditanya lagi, udah pasti yes!" Rich menatap Runi penuh harap.
"Ck, gak jelas!" Runi berdecak.
"Tau, ada-ada aja!" Karina geleng-geleng.
"Seperti kurang kerjaan saja!" Rini pun ikut-ikutan.
Suasana ribut terus saja terjadi di ruang TV paviliun desa. Pihak para pria yang ingin segera menikah, sementara pihak wanita yang menolak, membuat mereka semua beradu argumentasi sepanjang malam sebelum tidur. Meskipun mereka semua bukan berasal dari satu keluarga, namun kebersamaan seperti ini yang membuat semuanya merasa menjadi keluarga besar dan saling memiliki satu sama lain di tempat perantauannya.
__ADS_1