
"Menta, cepat gunakan ini" Rini menarik sang dokter yang baru bangun tidur setelah matahari berada di atas kepala mereka.
"Buat apa?" yang baru bangun tidur belum sadar seratus persen.
"Kok malah nanya buat apa sih, kamu kan dokter masa gak tau ini buat apa!?" Karina jadi gemas melihat Menta yang seperti gadis telat mikir atau telmi.
"Iya aku tau ini buat apa, tapi kenapa aku harus pake ini?" Menta masih tidak habis pikir.
"Karena kami penasaran melihat kau sangat aneh, jadi kami ingin memastikan bahwa dugaan kami tidak salah!" Runi mendorong Menta masuk ke kamar mandi.
"Ya sudah iya, iya, aku coba dulu!" akhirnya ia mengikuti saran ketiga gadis itu. Sementara empat pria yang berada di situ hanya menatap interaksi mereka dengan tanda tanya besar.
"Bagaimana?" Runi harap-harap cemas.
"Ini" Menta menunjukkan hasilnya kepada ketiganya sambil meneteskan air mata bahagia.
"Hwaaaaaaaa" para gadis itu menjerit histeris.
"Kalian kenapa sih?" Raf benar-benar penasaran karena sejak tadi ketiga gadis itu tidak memberikan clue sama sekali kepada para pria.
"Sayang, Junior akan punya adik" Menta menunjukkan hasil tes kehamilannya kepada Raf.
"Astaga benarkah?" Raf menutup mulutnya dan matanya pun langsung berkaca-kaca.
"He em" sang istri mengangguk.
"Terima kasih Tuhan, kau sudah memberiku kesempatan untuk menebus segala dosa-dosaku dulu kepada istri dan anakku" Raf langsung bersujud dan tersungkur penuh syukur.
"Sayang" Menta spontan memeluk suaminya yang tak kuasa menahan haru bahagia.
"Terima kasih sayang, terima kasih" Raf mengecup bibir sang istri dengan lembut dan penuh cinta.
"Akhirnya keponakanku launching juga" Rich juga merasa bahagia karena kini hidup sang kakak sudah sangat lengkap dan bahagia.
"Aku tidak sabar untuk menggendongnya, ahhhh pasti sangat gemas kalau punya bayi" Runi berseri-seri.
__ADS_1
"Apa kau mau punya bayi juga? aku bisa jadi papanya kalau kau mau!" Rich tersenyum penuh arti kepada Runi.
"Ck, apa sih!" gadis itu kemudian berjalan menghindar dari Rich menuju kamarnya.
"Runi tunggu!" Rich berjalan menyusul gadis itu dengan langkah yang cepat.
"Ayo kita pulang ke rumah dinas, kita akan jadi obat nyamuk kalau terus di sini" Karina mengajak Rini.
"Iya, ayo" jawab Rini dengan mengangguk.
"Biar aku antar ya?" Burhan menatap Karina.
"Aku juga, ayo kita jalan" kata Haris tidak mau kalah sambil memberi kode kepada Rini.
Mereka berempat pun kemudian berjalan keluar dari rumah itu, meninggalkan Menta dan Raf berdua dengan tangis haru atas kehadiran buah cinta mereka.
"Ayo sayang kita masuk ke dalan kamar" Raf memapah sang istri.
"Tapi aku lapar, aku kan belum makan apapun dari pagi tadi" jawab Menta dengan merajuk.
"Oh iya, benar juga ya, kau mau makan apa? biar aku belikan!" Raf dengan rasa percaya dirinya menawarkan diri.
"Hah? rujak cingur? dimana yang jual makanan seperti itu?" pria itu benar-benar bingung.
"Ya mana aku tau, kan tadi kau sendiri yang menawarkan diri mau membelikan aku makanan yang diinginkan, kenapa sekarang malah balik bertanya!?" Menta mulai kesal.
"Iya memang, tapi kita kan sekarang lagi berada di desa terpencil, mana ada tukang rujak cingur disekitar sini?" Raf berusaha realistis.
"Ya sudah kalau kau tidak mau beli, aku juga tidak memaksa, biar saja aku kelaparan!" Menta langsung berbalik dan berjalan menjauh dari sang suami.
"Loh sayang, kok ngambek? heyyyy sayanggggg" Raf berusaha membujuk.
"Ck, tau ahhhh sebellll, sana jauh-jauh!" ibu hamil itu penepis tangan sang suami yang meraih pinggangnya.
"Ya sudah iya, aku beli deh, tapi agak lama tidak apa-apa ya? kan aku harus cari dulu warung makan yang jual rujak cingurnya, pasti akan butuh waktu!" Demi menghindari konflik, akhirnya Raf pun terpaksa mengikuti kemauan sang istri.
__ADS_1
"Benar kau mau mencarinya untukku?" Menta berbinar-binar.
"Tentu saja, demi kau dan anak kita, apapun aku akan lakukan!" Raf meraih pinggang sang istri dan memeluknya dengan posesif.
"Makasih ya papa sayang" kata Menta sambil menggunakan suara anak kecil.
"Iya sayang, sama-sama" kata Raf sambil tersenyum.
"Oya, tapi sambil menunggu rujak cingurnya datang, kau makan yang lain dulu ya, kasihan anak kita kalau harus menunggu terlalu lama" Raf berpesan pada Menta.
"Iya pasti" tanpa disuruh pun Menta memang berencana untuk memakan makanan yang sudah dibuat oleh teman-temannya di dapur tadi pagi. Sejak beberapa waktu lalu Menta memang merasa bahwa nafsu makannya semakin tinggi dibandingkan sebelumnya, mungkin karena pengaruh kehamilannya tersebut batinnya.
..........
"Sayang, ayo bangun, ini Rujak cingurnya sudah ada" Raf membangunkan Menta yang sedang tidur. Hampir tiga jam Raf berkeliling untuk mencari makanan yang diinginkan oleh sang istri. Saking lamanya menunggu, Menta pun sampai ketiduran karena sudah kenyang makan-makanan buatan ketiga temannya tersebut.
"Emhhhhh sayang jangan ganggu, aku masih ngantuk" kata Menta.
"Tapi ini rujak cingurnya sudah dapat" Raf menunjukkan kantong plastik berisi makanan pesanan sang istri tercinta.
"Aku sudah kenyang" jawabnya sambil memeluk bantal.
"Loh trus ini bagaimana?" sang suami seperti orang bodoh.
"Buat kau saja ya sayang" dengan entengnya Menta berkata.
"Sayang yang benar saja, aku mencari ini keliling desa loh, berjam-jam pula, giliran sudah dapat kok malah gak jadi makan!?" Raf mulai terpancing.
"Ishhhh jadi kau perhitungan dengan aku dan anakmu!?" Menta yang awalnya masih bergelung dibalik selimut langsung duduk dengan tegak dan berkacak pinggang.
"Bukan begitu, hanya saja ini kan mubajir jadinya" Raf menciut melihat geretakan sang istri.
"Kan aku bilang tadi kau saja yang makan, jadi tidak akan mubajir kan!?" ibu hamil memang maunya menang sendiri.
"Baiklah-baiklah, ya sudah kalau begitu aku yang makan, kau tidur lagi saja ya" Raf lagi-lagi mengalah dan tidak mau memperpanjang urusan.
__ADS_1
"Aku tidak mau tidur lagi, sudah tidak ngantuk karena ada pengganggu!" jawab Menta ketus sambil berjalan keluar kamar menuju ruang TV.
"Huffff sabar Raf, sabarrrrrrr, istrimu sedang hamil dan dalam masa ngidam" pria itu mengelus dadanya sendiri. Mempunyai banyak saudara perempuan ternyat cukup membuat Raf paham kondisi unik ibu hamil dimasa ngidam mereka, karena dulu ia dan Rich juga beberapa kali menjadi tumbal ngidamnya saudara-saudara perempuan mereka itu.