
"Mama pegal-pegal ya?" Raf yang melihat Menta memijat-mijat bahunya sendiri kemudian mendekat dan mulai membantu sang istri.
"Iya lumayan pa" jawabnya sambil geleng ke kanan dan ke kiri untuk meregangkan ototnya yang terasa sangat kaku setelah sepanjang hari ia menjamu keluarganya yang datang dalam rangka acara syukuran kehamilannya.
"Enak tidak ma?" pria itu bertanya sambil terus melakukan tugasny tersebut.
"Ahhhhhh enak banget paaaaa" suara Menta keenakan.
"Terus paaaa ahhhh enakkkkk" ibu hamil itu melenguh keenakan tanpa bermaksud menggugah sang suami.
"Aduhhhh paaaa bener-benar enakkkk,, yang keras lagi paaaaa" ucap wanita itu berkali-kali.
"Loh loh loh, kok pijatannya pindah tempat?!" sesaat kemudian Menta protes karena tangan sang suami sudah bergeser ke bukit kembarnya di bagian depan.
"Abis mama dari tadi teriak-teriak manja sih bikin papa jadi kepengen deh" Raf semakin gencar.
__ADS_1
"Ihhhh papaaaa,, mama kan lagi hamil muda, masih agak rawan paaa" katanya mengingatkan sang suami.
"Tapi papa kangen banget nih maaaa" Raf menarik tangan istrinya menuju kearah adik kecil miliknya yang sudah mulai siap tempur.
"Memang papa lupa dulu waktu mama hamil Raguel kan kita beberapa waktu juga skip dulu!" dokter cantik itu mengingatkan.
"Ya ampun, jadi ini papa beneran harus puasa lagi ma!?" senyum kecut pun kemudian muncul di wajah papa Raguel saat menyadari bahwa dirinya harus kembali menahan gejolak yang sudah sampai diubun-ubun.
"Sabar ya papa sayang, kan demi anak kita" Menta berusaha menenangkannya.
"Gimana mau sabar coba ma, baru juga sebulan belakangan ini papa merasa merdeka, ehhhh sekarang malah udah harus puasa lagi!" gerutunya.
"Kok jadi papa yang salah!?" Raf tidak terima.
"Iyalah papa salah, suruh siapa setiap kali main gak pakai perkiraan? main tancep gas pol aja, jadi beginikan hasilnya!" jawab sang istri sambil mengelus perutnya yang masih rata.
__ADS_1
"Ya namanya juga gak tahan ma, mana bisa lagi papa mengontrol diri kalo udah nempel sama mama!" pria itu benar-benar sudah dimabuk kepayang oleh sang istri tercinta.
"Ya tapi kan bisa aja papa keluarin di luar, jangan main sembur kayak mbah dukun kerasukan setan!" senyum wanita hamil itu sangat geli melihat suaminya frustasi karena tidak bisa menyalurkan dahaganya kembali.
"Hufffff nasibbbbb nasibbbb,, gini amat sih hidup papa!" ia menghela nafasnya dengan kasar.
"Yang sabar ya papa ganteng" sang istri mengilik-ngilik dagu suaminya.
"Ihhh mama jangan begitu dong, nanti papa makin mau nih!" Raf yang sangat sensitif dengan sentuhan istrinya memang tidak pernah bisa tahan bila tangan sang istri sudah mulai menyentuh kulitnya.
"Abis papa bikin gemes aja sih heheheheh" semakin suaminya kesal, semakin Menta terlihat bahagia. Entah karena dia memang sedang usil atau karena mood kehamilannya, semakin hari kini Menta memang semakin senang menjahili suaminya dengan sikap yang aneh-aneh hingga membuat pria itu tidak bisa berkutik lagi dihadapannya.
"Ck, tau ah, sudahlah papa mau main solo saja kalau gitu!" Raf langsung berdiri dan jalan ke arah kamar mandi untuk menyalurkan hasratnya yang tertunda.
"Semangat ya paaaa,, mulai sekarang papa harus belajar terbiasa, apalagi nanti setelah mama melahirkan, kan papa harus puasa lagi tuh empat puluh hari seperti kemarin hehehehe" sang istri terkekeh semakin geli.
__ADS_1
"Arrrggghhhh tidakkkkk!" belum juga cobaan diawal kehamilan ini selesai, Menta malah mengingatkannya kembali akan puasa nifas yang akan ia alami lagi nanti setelah bayi mereka lahir sembilan bulan kedepan.
"Nasib-nasib, pengen punya anak saja begini amat penderitaannya!" gerutu Raf sambil tangannya terus melakukan aktivitas yang seharusnya dilakukan oleh sang istri.