
"Mama kenapa diem aja sih dari tadi? mama marah ya sama papa?" Raf yang melihat sang istri tidak banyak bicara sejak acara berlangsung, kemudian bertanya saat mereka sudah berada di rumah.
"Enggak kok!" jawab Menta sekenanya.
"Gak mungkin, mama marah kan sama papa?" sang suami menoleh ke arah istrinya.
"Enggakkk" masih menjawab dengan singkat.
"Jangan bohong, kalo mama gak marah, mana mungkin mama diem aja begitu? apa mama gak suka sama pesta kejutan papa tadi?" Raf menduga-duga.
"Menurut papa!?" akhirnya Menta bertanya balik.
"Papa tau mama pasti sebel karena ada Paula di sana kan?" tebakan pria itu sangat tepat.
"Kalau udah tau kenapa masih nanya!" jawab Menta dengan sewot.
"Ma, lihat mata papa, mama tau gak kenapa papa bikin acara itu? itu karena papa mau kasih pelajaran sama dia ma!" Raf menggenggam tangan istrinya.
"Makanya papa sengaja pakai momen empat puluh hari kelahiran anak kita untuk bikin dia kapok dan menjauh dari keluarga kita!" jelas papa Raguel.
"Jadi kalau gak ada dia, papa gak akan bikin acara itu kan? jadi artinya acara itu gak sungguh-sungguh buat merayakan hari lahirnya Raguel, tapi karena memang adanya mantan papa kan!?" Menta yang sudah menahan emosinya sejak beberapa waktu lalu karena kembalinya sang mantan, seperti meledak-ledak.
"Maaaaaa,," Raf yang belum pernah melihat Menta setempramen ini sebelumnya hanya bisa tertegun.
__ADS_1
"Papa itu gak sungguh-sungguh buat menjauh dari dia kan!?" Menta menyalak seperti orang kesetanan.
"Enggak ma, papa sungguh-sungguh kok!" kata Raf.
"Bohong! kalau papa sungguh-sungguh mau mengindari dia, lalu kenapa dia masih bisa keluar masuk perusahaan seenaknya? kenapa dia bahkan bisa bekerja dan dikontrak jadi model iklan di sana!?" sang istri benar-benar seperti bom waktu yang meledak dengan dahsyat.
"Ma, untuk masalah itu papa benar-benar gak tau, papa kecolongan ma" ia berkata dengan jujur.
"Cih mana mungkin, dasar pembohong!" membuang wajahnya dari tatapan sang suami.
"Sungguh ma, bagian rekrutmen dan kerjasama dengan pihak agensi luar kan bukan dibawah kekuasaan papa, itu hak HRD secara penuh, papa aja kaget waktu tiba-tiba dia bilang sudah dikontrak sebagai model produk kita!" Raf benar-benar takut dengan kemarahan sang istri.
"Tau ah sebel!" kemudian beranjak hendak keluar dari kamar mereka.
"Mama mau kemana?" Raf menahan tangan sang istri.
"Yah maaaa, trus papa sama siapa!?" kalang kabut karena Menta benar-benar marah besar.
"Terserah!" menepis tangan suaminya.
"Maaaaa, plisssss, disini aja ya jangan pergi, maafin papa ya kalo salah" meraih pinggang sang istri dan tidak membiarkannya pergi.
"Hiks hiks hiks" kondisinya yang baru saja melahirkan dengan bentuk tubuh yang masih belum kembali seperti semula dan ruang geraknya yang terbatas karena harus mengasuh bayinya selama dua puluh empat jam penuh, serta ditambah dengan kehadiran sang mantan pacar suami dalam kehidupan rumah tangga mereka, membuat Menta menjadi sangat insecure terhadap sang suami.
__ADS_1
"Maafin papa ya ma, papa janji sama mama, secepatnya wanita itu akan papa usir dari kantor kita!" Raf bertekad untuk melakukan apapun agar rumah tangganya tetap utuh seperti sediakala.
"Hiks hiks hiks" masih menangis sesenggukan.
"Udah dong ma jangan nangis lagi, nanti kecantikan mama jadi memudar kena air mata" sambil menghapus pipi sang istri yang basah.
"Papa nyebelin, hiks hiks hiks" mode merajuknya masih tertinggal.
"Mama boleh hukum papa deh, papa siap disuruh ngapain aja asal mama bahagia, tapi mama jangan nangis lagi ya hemmmm!?" memeluk dengan manja.
"Ya udah pijitin mama, mama capek abis begadang jagain Raguel" karena tidak memakai jasa pengasuh, Menta memang hampir setiap malam terbangun seorang diri untuk menyusui bayinya.
"Dengan senang hati yang mulia ratu" dengan sigap Raf mengambil posisi untuk memijat sang istri.
"Loh kok jadi kemana-mana pijatannya?" Menta protes saat tangan sang suami sudah mulai menjalar ke bagian tubuh yang lain.
"Bonus buat mama" seringai jahil mulai muncul diwajah Raf.
"Ihhh papaaaaa,, geliiiii" Menta bergerak kegelian saat tangan suaminya menyentuh area yang sensitif.
"Papa kangen maaaa" Raf sudah tidak bisa terkondisikan lagi.
"Papaaaa aahhhhhhhhh" Menta pun tidak kuasa menolak sentuhan suaminya.
__ADS_1
"Sudah empat puluh hari loh ma, papa sudah bolehkan!?" Raf tidak perlu menunggu aba-aba dari sang istri lagi.
"Ahhhhhh paaaaaa" pertempuran sengit pun akhirnya terjadi diantara mereka setelah selama empat puluh hari lamanya mereka berdua harus menahan diri tidak berhubungan.