Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Beri Aku Kesempatan


__ADS_3

"Apa sudah dimatikan semuanya lampunya?" Menta bertanya kepada dua rekan kerjanya yang sedang merapikan ruangan mereka setelah praktek pengobatan selesai dilakukan pada sore harinya.


"Sudah" jawab Rini sang perawat.


"Ini nanti ketinggalan" bidan Karina kemudian menyodorkan ponsel kepada Menta.


"Oh iya, terima kasih, hampir saja ketinggalan" Menta menerima ponsel itu dari tangan rekan kerjanya.


Karena puskesmasnya berada sangat terpelosok, maka tenaga medis yang tersedia pun hanya terdiri dari tiga orang saja yaitu Menta sebagai dokter, Karina sebagai bidan dan Rini sebagai perawat. Mereka semua yang baru lulus kuliah dan masih lajang pun tinggal bersama di sebuah rumah dinas sederhana yang disedikan oleh pemerintah setempat sebagai fasilitas bagi para pengabdi negara. Jika dilihat dari gaji yang diperoleh tentunya tidak seberapa dibandingkan dengan uang jajan yang setiap bulan Menta terima dari sang papa. Namun karena Menta melakukannya dari hati, maka ia pun menjalani semua ini dengan penuh suka cita.


"Ayo" Karina mengajak Menta dan Rini untuk pulang ke rumah dinas mereka.


"Iya ayo" angguk Rini.


Mereka bertiga pun berjalan menyusuri jalan setapak yang menghubungkan puskesmas dengan rumah dinas mereka diselingi obrolan ringan dan candaan.


"Kak Raf?" Menta terkejut ketika tiba-tiba Raf berdiri di depan rumah dinasnya.


"Menta apa kita bisa bicara sebentar?" pria itu memohon.


"Ada apa kak?" bagi Menta yang menganggap bahwa hubungan mereka sudah berakhir sejak lima tahun silam, Raf kini bukanlah siapa-siapa lagi.


"Apa bisa kita bicara berdua saja?" tanya pria itu sambil menatap kedua gadis di depan mereka.


"Kalau begitu kami masuk duluan ya Menta" Karina yang paham maksud Raf menarik Rini untuk menjauh.


"Aku masuk dulu ya Menta" Rini pun melambaikan tangannya.


"Ayo silahkan duduk kak" Menta mempersilahkan tamunya untuk duduk di kursi teras.

__ADS_1


"Terima kasih" Raf tersenyum.


"Oya kakak mau minum apa?" tanya gadis itu basa-basi.


"Tidak usah repot-repot" Raf menggeleng.


"Bagaimana kabarmu?" Raf bertanya sambil menatap wajah yang sangat ia rindukan selama bertahun-tahun.


"Baik, kalau kakak sendiri bagaimana? apa kabar dengan kak Paula? apa kalian sudah menikah? sudah punya anak berapa?" sejak ia pergi ke luar negeri, Menta memang sama sekali tidak mau mendengar kabar apapun tentang Raf.


"Kami sudah putus sejak lima tahun lalu" jawab Raf apa adanya.


"Putus? kenapa? bukannya kalian waktu itu rencana mau menikah setelah kita berpisah?" Menta sangat terkejut.


"Maaf" hanya satu kata itu saja yang bisa terucap dari mulut Raf.


"Untuk apa?" Menta tidak mengerti.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan kak, kakak tidak salah apapun" gadis itu tersenyum manis.


"Tidak, itu tidak benar, aku sudah banyak sekali menyakitimu, aku selalu membuatmu bersedih dan menangis" Raf meraih tangan Menta.


"Tapi aku sudah melupakannya kak, aku sudah tidak memikirkan itu sama sekali" gadis itu berkata jujur. Ia yang seorang pemaaf memang selalu dengan sangat mudah melupakan kesalahan orang lain yang sudah berbuat jahat kepadanya.


"Benarkah?" Raf merasa bahagia mendengar wanita yang sangat ia cintai telah memaafkan kesalahannya.


"He em, tentu saja, itu kan sudah lama sekali berlalu" jawabnya sambil tersenyum.


"Apa itu artinya aku masih memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahanku?" genggaman tangan Raf semakin erat.

__ADS_1


"Kak!?" Menta tidak menyangka jika Raf meminta kesempatan kedua kepadanya.


"Aku mohon kembalilah padaku" Raf menatap sang gadis dengan penuh permohonan.


"Maaf kak, saat ini aku belum memikirkan hal itu lagi" Menta mencoba menarik tangannya.


"Sayang aku mohon" mata Raf berkaca-kaca.


"Kak, kakak tau kan kalau selama ini aku sangat bercita-cita menjadi seorang dokter dan mengabdikan diriku untuk menolong banyak orang yang membutuhkan? saat ini aku sedang fokus untuk itu, aku tidak ingin memikirkan hal lainnya lagi, aku sangat bahagia dengan hidupku yang sekarang ini" Menta memang berkata apa adanya, meskipun dilubuk hatinya yang paling dalam ia masih menyimpan rasa cintanya untuk Raf.


"Apa memang sudah tidak ada kesempatan sama sekali bagiku untuk kembali padamu?" pria itu menarik Menta berdiri dan merengkuh pinggangnya dengan posesif.


"Kak jangan begini, nanti dilihat orang lain" dokter muda itu mendorong tubuh Raf agar menjauh darinya, namun Raf justru semakin merapatkan dirinya.


"Kak aku mohon, ini bukan di rumah kita, lepaskan aku" Menta terus berusaha memberontak.


"Kak Raf jangan begini nanti dili emmphhhh" belum sempat Menta menyelesaikan kalimatnya, Raf sudah memagut bibir mungil itu. Rasa rindu yang mendalam selama bertahun-tahun seperti tumpah begitu saja. Dengan ganasnya Raf menerobos dan mengeksplor setiap inci di dalamnya. Ia bisa merasai bahwa bibir itu masih sama seperti yang dulu, rasa manis di dalam ingatannya sama sekali tidak berubah, bahkan setelah lima tahun berlalu gadis itu terasa semakin manis. Sementara yang dipagut hanya bisa diam membeku, hati dan pikirannya seketika menjadi kacau. Otaknya merespon agar segera menghindar, namun tubuhnya justru menginginkan lebih dari itu.


"Kakkkk" setelah berhasil melepaskan pagutan Raf, Menta pun menjaga jarak dengan menaruh tangannya diantara dada mereka.


"Beri aku kesempatan ya? aku akan buktikan bahwa aku serius padamu, aku ingin kita kembali lagi seperti dulu dan hidup bersama selamanya dengan bahagia!" Raf memohon dengan sungguh-sungguh.


"Aku belum siap kak" Menta masih membentengi dirinya.


"Aku akan menunggu sampai kau siap sayang" pria itu mengelus bibir Menta.


"Kak,," Menta sudah kehabisan kata-kata karena Raf terus saja mencari celah.


"Masuklah dan istirahat, besok aku akan kembali lagi hemmm" Raf mengecup kening Menta dan tersenyum manis.

__ADS_1


"I love you" Raf kemudian berjalan menuju mobilnya dan melambaikan tangan sebelum akhirnya berlalu, meninggalkan gadis itu dengan perasaan campur aduknya.


__ADS_2