
Hari pernikahan dua pasang kakak beradik yang sudah direncanakan pun akhirnya tiba. Kini seluruh keluarga besar berkumpul dan menginap di hotel mewah milik keluarga Anderson untuk melakukan resepsi pernikahan tersebut.
"Mama cantik sekali memakai gaun ini" Raf memuji sang istri yang terlihat begitu memukau. Meskipun baru saja melahirkan putra ketiga mereka, namun dengan cepat bentuk tubuh wanita cantik itu sudah nyaris kembali sempurna.
"Isshhhh dasar, bisa aja gombalnya!" menepuk gemas suaminya.
"Serius ma, papa mana pernah gombalin istri sih?" kata pria keturuna bule itu.
"Masa?" tatapan Menta terlihat penuh arti.
"Papa tuh gak pernah gombal, paling modus dikit aja kalo sama mama sih hehehehe" terkekeh sambil mengakui kelakuannya sendiri.
"Isshhhh sama aja itu namanya!" kata sang istri.
"Ya namanya juga punya istri cantik, masa iya dianggurin aja? kan mubazir dong jadinya!" sambil menaik turunkan alis.
"Udah ah, nanti lama-lama bisa kebablasan deh papa kalo diladenin terus gini!" Menta kemudian bersiap-siap keluar kamar.
"Lalu anak-anak gimana ma?" Raf bertanya sebelum istrinya keluar menuju kamar calon pengantin perempuan karena ia didaulat sebagai bridesmaid bersama Runi.
"Mama sudah pesan sama mbak Ati dan mbak Ani kalau turunnya nanti saja saat sudah jam makan siang, jadi anak-anak tidak perlu kelamaan menunggu acara janji sucinya selesai" jawab Menta. Ati adalah pengasuh Raguel yang sudah bekerja lebih dulu saat Menta sedang hamil muda. Sementara Ani adalah adiknya Ati yang menyusul bekerja setelah Raziel lahir.
"Oh oke" angguk Raf kemudian.
"Mama ketempat Tia dan Nora dulu ya pa, nanti kita ketemu lagi di bawah" kemudian Menta berjalan keluar kamar hotelnya.
..........
"Woahhh, kalian berdua cantik sekali" Seru Menta saat melihat Nora dan Tia yang sudah berdandan cantik ala putri dari negeri dongeng.
"Aku sangat gugup" wajah Tia begitu tegang.
"Tenang saja, semua pasti akan berjalan dengan lancar kok" Runi meyakinkan gadis lugu itu.
"Apa semua orang sudah bersiap-siap?" Nora lebih terlihat santai dan menikmati setiap prosesnya.
"Sudah, mereka sudah berada di ballroom" angguk Menta.
"Ya sudah yuk kita ke bawah, nanti kalian terlambat loh" kata Runi.
Mereka berempat pun kemudian berjalan menuju lift yang menghubungkan dengan ballroom. Runi menggandeng Nora, sementara Menta menggandeng Tia.
__ADS_1
"Orangnya ramai sekali" setibanya di ballroom, Tia yang hanya mengenal beberapa orang keluarganya saja menjadi semakin gugup.
"Jangan khawatir, mereka semua itu kolega keluarga kita dan juga keluarga kak Noah" Menta menenangkan sambil mempererat genggaman tangannya agar calon pengantin perempuan menjadi lebih tenang.
"Aku sangat bahagia" terlihat pancaran semangat dari diri Nora yang memang terkenal sangat energik.
"Akhirnya ya, hari yang kau tunggu-tunggu datang juga" Runi tersenyum melihat sahabatnya begitu bahagia.
Setelah keempatnya berada di depan karpet merah, Runi dan Menta pun kemudian agak mundur kebagian belakang untuk memberikan ruang kepada kedua mempelai pria yang ingin menyambut permaisuri hati mereka masing-masing.
Pesta berjalan begitu sakral dan penuh suka cita. Baik Tia maupun Nora, sama-sama tidak bisa menahan haru dan berurai air mata saat ikrar janji suci diucapkan dihadapan Tuhan dan para undangan.
..........
"Apa kau yakin baik-baik saja?" Menta bertanya kepada Runi yang agak kurang enak badan saat acara perjamuan makan siang sudah berlangsung.
"Iya aku tidak apa-apa kok, hanya sedikit mual saja" angguk Runi sambil tersenyum.
"Mamamama papapapa" Raguel yang baru saja turun dari kamar bersama adiknya Raziel dan kedua mbak mereka, langsung memanggil Menta dan Raf.
"Uhhhh anak mama yang ganteng" Menta langsung mengambil Raguel dari gendongan mbaknya.
"Halo jagoan papa" sementara Raf mengendong Raziel yang usianya belum genap dua bulan.
"Iya baik nyonya" angguk mbak Ani yang bertugas mengasuh Raziel.
"Nyonya sama tuan sudah makan?" mbak Ati pengasuh Raguel bertanya.
"Gampang, nanti saja kalau mbak berdua sudah makan kami baru makan, lagian acaranya masih lama kok, jadi waktu makannya juga panjang" jawab Menta sambil tersenyum. Meskipun Ati dan Ani hanya pengasuh, namun Menta tetap menghargai dan memposisikan mereka setera dengan dirinya. Bahkan ia memberikan seragam dress batik khusus untuk dipakai keduanya di acara pesta ini agar mereka terlihat lebih pantas saat berada ditengah tamu undangan yang lainnya.
"Kalau begitu kami permisi ya nyonya, tuan" Ati berpamitan.
"Mari tuan, nyonya" Ani juga ikutan.
"Iya mbak" Menta mengangguk.
"Mam mam" Raguel menunjuk puding yang ada di meja prasmanan.
"Raguel mau makan puding?" sang mama bertanya.
"Iyah mam" sambil mengangguk dengan semangat.
__ADS_1
"Ya sudah sebentar ya" kata mamanya lagi.
"Runi aku ke sana sebentar ambil makanan untuk Raguel tidak apa-apa ya?" Menta khawatir Runi kenapa-kenapa.
"Kalian berempat keliling saja, aku tidak apa-apa kok, tenanglah!" Runi berusaha meyakinkan.
"Benar kakak ipar, kalian kalau mau makan atau ngobrol sama yang lain silahkan saja, biar Runi aku yang temani di sini" Rich juga mendukung perkataan istrinya.
"Baiklah, kalau begitu kami ajak Raguel dan Raziel keliling ambil makanan sebentar ya, nanti kami kembali lagi" istri Raf berpamitan.
"Iya, have fun ya kalian" Runi melambaikan tangan kepada Raguel yang tersenyum menatapnya.
"Ayo pa kita kesana ambil makanan buat Raguel" ajak sang istri.
"Iya ayo" Raf pun berjalan mengikuti sang istri.
"Raguel mau yang coklat atau yang buah?" tanya sang mama saat mereka sudah sampai di depan meja puding.
"Inih" tunjuk Raguel kearah puding berwarna coklat.
"Ohhh yang coklat ya?" Menta kemudian mengambil piring kecil.
"Iyah" bayi itu mengangguk.
"Pa, tolong dong ambilkan pudingnya" karena satu tangan Menta menggendong Raguel, sementara yang satunya lagi memegang piring, maka Menta kesulitan untuk mengambil pudingnya.
"Sini biar papa yang pegang piringnya, mama yang suapin Raguel" setelah mendapat puding, mereka pun mencari tempat untuk menyuapi Raguel.
"Enak tidak?" Menta bertanya kepada putranya.
"Nak" jagoan kecil itu menjawab sambil menikmati hidangannya.
"Papa boleh minta tidak?" Raf menggoda putranya.
"Nonononono" ia tidak mau berbagi.
"Ihhh kakak Raguel pelit" sang papa protes.
"Hufffff" Raguel meniup wajah papanya yang pura-pura mendekat kepiring puding.
"Enggak, papa bohong, papa cuma bercanda kok" Menta menenangkan putranya yang memberontak digendongannya karena ingin mengusir sang papa.
__ADS_1
"Hehehehehe" sementara Raf yang menggoda Raguel terkekeh geli melihat reaksi putranya tersebut.
Meskipun Menta agak kewalahan karena harus menggendong dan menyuapi Raguel sambil berdiri dengan menggunakan gaun panjang serta sepatu hak tinggi, namun dengan bantuan sang suami yang selalu berada disampingnya membuat wanita itu sangat bahagia dan menikmati pesta yang berlangsung tersebut.