
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, terima kasih untuk jamuan makan malamnya, permisi tuan Anderson" Bagas yang sudah cukup lama berada di rumah dinas para tenaga medis itu pun akhirnya pamit undur diri.
"Hati-hati di jalan pak" Raf menjawab dengan sopan sambil menyaksikan kepergian pria itu.
"Ayo kita masuk" Karina mengajak mereka semua masuk ke dalam rumah.
"Ayo kak Raf istirahat sudah malam" Rini tak lupa mengajak sang tuan muda.
"Oke" Raf kemudian beranjak dari tempatnya berdiri.
"Eh tunggu, kakak mau kemana?" Menta bingung karena pria itu tiba-tiba saja mengiyakan ajakan rekan kerjanya.
"Mau tidur" jawabnya dengan polos.
"Tidur? dimana?" Menta semakin bingung.
"Ya dikamarmu lah, masa dikamar aku!" Rini berseloroh.
"Dikamarku? tapi,," gadis itu benar-benar tidak habis pikir.
"Udah deh gak usah pake tapi-tapian lagi, kita udah tau kok hubungan kalian yang sebenernya" Karina senyum-senyum.
"Hah!?" ia terkejut.
"Kak Raf udah ceritain semuanya sama kami, jadi kamu gak usah pura-pura lagi!" Rini ikut senyum-senyum.
"Memangnya kau pikir kak Raf tau dari mana nomor telponmu kalau bukan dari kami?" kata Karina.
__ADS_1
"Jadi kalian bertiga bersekongkol dibelakangku!?" ia berkacak pinggang.
"Kak kau!?" Menta menatap tajam ke arah Raf.
"Heheheheh, maaf ya sayang, soalnya aku bingung mau minta tolong sama siapa lagi, makanya aku bilang sama mereka untuk bantuin" jawabnya dengan cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
"Isshhhh menyebalkan sekali sih!" Menta menghentakkan kaki untuk menutupi rasa malunya.
"Sayang jangan ngambek dong" Raf meraih tangan Menta.
"Sudah gak usah ngambek segala, mendingan disayang-sayang aja gih suaminya, mumpung orangnya lagi ada di sini, nanti kalau udah ditinggal pergi lagi ke ibu kota kayak kemarin galau loh!" goda Rini.
"Ihhhh jahat banget sih kalian!" meskipun Menta menunjukkan sikap marah, namun pada kenyataannya hati kecil gadis itu sangat bahagia karena Raf menunjukkan sikap sungguh-sungguhnya dengan cara meminta bantuan dari Karina dan Rini.
"Masuk kamar gih sana" Karina mendorong keduanya masuk ke dalam rumah.
"Tapi jangan berisik bikinnya, nanti kami jadi mupeng" Karina menggoda.
"Apa sihhhh" Menta memajukan bibirnya.
"Yang mana kamarmu sayang?" Raf yang melihat ada empat kamar di dalam rumah pun bertanya kepada Menta.
"Ini" karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi, akhirnya Menta pun pasrah.
"Selamat malam" pria itu berkata kepada Karina dan Rini seraya menggandeng sang istri masuk ke dalam kamar mereka.
"Selamat malam" keduannya pun menjawab dengan kompak sambil kemudian masuk juga ke dalam kamar masing-masing.
__ADS_1
"Kakak mau tidur pakai baju itu?" tanya Menta saat mereka sudah berada di dalam kamar sambil menunjuk baju yang dikenakan oleh Raf.
"Tidak" geleng pria itu.
"Apa kakak bawa baju ganti?" tanya gadis itu lagi.
"Tidak" kembali menggelengkan kepala.
"Lalu kakak mau pakai apa? aku tidak ada baju ganti untuk pria loh!" Menta memang tidak pernah menyimpan stok pakaian pria di lemarinya.
"Aku tidak butuh baju malam ini" jawabnya sambil meraih pinggang sang istri dan merengkuhnya dengan posesif.
"Maksudnya?" tanya wanita itu sambil mengernyitkan dahi.
"Masa kau tidak tau maksudku sih" tangan Raf mulai menelusup ke balik baju yang dikenakan oleh Menta.
"Kak!" pekik gadis itu karena terkejut.
"Aku sudah menunggu momen ini dengan sangat lama sayang, aku sangat merindukanmu" kini bibir pria itu berbisik dengan sangat menggoda di telinga Menta, membuat yang dibisiki meremang.
"Kakkkkk" entah mengapa tiba-tiba saja gadis itu seperti tidak memiliki kekuatan sama sekali untuk menolak.
"I miss you honey" bibir Raf menyusuri leher jenjang sang istri.
"Ahhhhhh" lenguhan pun terlontar dari bibir mungil Menta.
.................
__ADS_1
Halo semua, apa kabar??? Hayoooo siapa yang penasaran sama kelanjutan malamnya Raf dan Menta??? nahhhh buat yang pengen tau mereka bakal ngapain aja, yuk ah buruan like dulu, komen juga, vote kalau masih ada yang punya, hadiah bunga, favorit biar bisa dapet update bab baru, dan bantu share sama temen-temen yang belum pada baca novel ini.. Karena dengan semua itulah karya Rosi ini bisa semakin berkembang dan dikenal masyarakat luas. Selain itu, dengan dukungan dari para sahabat, Rosi juga jadi punya semangat lebih untuk menulis setiap ada kesempatan.. Karena jujur saja saat ini Rosi sudah mulai demotivasi, karena popularitas novel-novel Rosi semakin merosot nih.. Kalau Rosi tidak ingat masih banyak sahabat yang mendukung, pastinya Rosi sudah stop menulis di sini... Jadi biar Rosi tetap semangat, mohon bantuannya ya... Terima kasih semua...