Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Tidak Perlu Dilanjutkan Lagi


__ADS_3

"Halo kak Raf, maaf ya tadi aku tidak bisa mengangkat telpon karena sedang menyetir di jalan" setelah suasana hatinya lebih tenang, kemudian Menta menghubungi Raf yang sejak tadi bolak-balik menelponnya tanpa henti.


"Sayang maaf kan aku ya, aku bisa jelaskan semuanya" Raf tidak mau berbasa-basi.


"Kakak tidak perlu minta maaf, karena memang tidak ada yang perlu dimaafkan!" jawab sang istri.


"Oya, kakak nanti sore bisa bertemu aku di cafe tidak?" Menta bertanya kepada suaminya.


"Cafe? tentu, tentu saja bisa!" Raf bersemangat.


"Oke, kalau begitu nanti sepulang kakak dari kantor aku tunggu di sana ya?" gadis itu mengkonfirmasi.


"Iya, baiklah" jawab Raf dengan sangat yakin.


"Kalau begitu sampai nanti sore ya kak, bye!" Menta menutup telponnya sebelum Raf berbicara lagi.


"Halo sayang!?" Raf yang belum mengucapkan salam perpisahan merasa kecewa karena sang istri langsung menutupnya begitu saja.


..........


"Hai kak, ayo sini duduk" Menta yang melihat Raf berjalan ke arahnya langsung melambaikan tangan dan menunjuk kursi yang ada di depannya.


"Kau sudah lama?" Raf menatap wajah Menta yang terlihat biasa saja tanpa ada ekspresi kecewa atau marah kepadanya.

__ADS_1


"Tidak, aku juga baru sampai hehehehe" gadis itu sangat pandai menutupi rasa sedih di hatinya.


"Kakak mau makan apa?" Menta langsung menyodorkan buku menu.


"Sama sepertimu saja" jawab pria itu yang sesungguhnya tidak berselera makan sama sekali.


"Hemmm baiklah, kalau begitu aku ingin pesan ini, ini dan ini" Menta memesan makanan berat yang ia rasa bisa membuat suasana hatinya lebih baik.


"Kakak mau minum apa?" kembali bertanya dengan wajah sumringahnya.


"Apa saja" Raf sama sekali tidak peduli dengan menu-menu yang sesungguhnya sangat menggugah selera.


"Oke, hot chocolate ya kalau begitu?" ia juga memilih minuman yang bisa menenangkan hati dan pikirannya.


Setelah selesai memesan makanan, Menta pun kemudian memulai topik pembicaraan.


"Apa ini?" tanya Raf.


"Aku sudah mendaftar di sini, minggu depan aku akan terbang ke sana untuk mengikuti ujian masuknya, kalau lolos maka bulan depan aku bisa mulai kuliah" Menta menjelaskan.


"Kuliah di luar negeri?" Raf seperti disambar petir di siang bolong.


"He em, sebenarnya tadi saat di kantor aku ingin memberitahu ini ke kak Raf, tapi karena takut mengganggu kak Raf dengan kak Paula, maka aku tunda deh heheheheh" kekeh gadis itu.

__ADS_1


"Apa mama dan papa mengijinkan?" tanyanya tak percaya.


"Tentu saja, papa dan mama sudah mengijinkan aku untuk mengambil jurusan kedokteran kak" angguk Menta dengan yakin.


"Lalu bagaimana dengan kita?" pria itu mempertanyakan nasib pernikahannya.


"Nah itu dia, makanya aku mengajak kakak ke sini untuk membicarakan masalah ini. Jadi kan sekarang mama dan papaku sudah kembali, kak Raf juga sudah mendapatkan hak waris dari ayah Mike, artinya aku sudah tidak perlu khawatir akan ancaman paman Tyo, lalu kakak dan kak Paula juga sudah bisa menikah. Maka aku rasa perjanjian pernikahan kita sudah tidak perlu dilanjutkan lagi!" Duarrrr, lagi-lagi Raf seperti disambar petir.


"Mak, maksudnya?" pria itu tergagap.


"Ya maksudnya kita tidak perlu berpura-pura lagi, kita sudahi saja semuanya!" Menta berkata dengan entengnya.


"Tapi bagaimana denganmu? kita kan sudah melakukan itu!" Raf mencoba membuat Menta tersadar bahwa kini gadis itu sudah tidak seperti dulu lagi karena Raf sudah mengambil mahkotanya.


"Oh kalau masalah itu kakak jangan khawatir, aku tidak masalah kok, anggap saja itu sebagai tanda terima kasihku karena kakak sudah sangat banyak membantuku selama ini. Toh setelah kita bercerai nanti, statusku kan akan menjadi seorang janda, jadi meskipun aku sudah tidak suci seperti dulu lagi, orang tidak akan mengecap aku yang aneh-aneh karena aku melakukannya dengan suami sendiri hehehehe" Menta patut diberi piala penghargaan dengan kategori akting terbaik.


"Menta,," perkataan Raf terpotong karena makanan mereka sudah datang.


"Woahhhhh lezatnya" untuk mengalihkan rasa sedihnya Menta langsung memakan semua menu yang ia pesan tanpa mempedulikan ucapan Raf lagi. Gadis itu juga sengaja menambahkan banyak sambal di makanannya supaya air mata yang keluar seolah-olah jatuh karena ia merasa kepedasan.


"Ayo kak dimakan, ini enak sekali loh hehehehe" kata Menta dengan mulut penuh makanan.


"Huuhhhh hahhhhhhh kak aku kepedesan hiks hiks hiks" Air mata Menta menetes tak terkendali membasahi pipinya.

__ADS_1


"Kakkkk ini pedas sekali hiks hiks hiks" air matanya terus saja menetes berbarengan dengan keringat dan ingusnya, sehingga Raf tidak merasa curiga jika gadis itu sesungguhnya sedang bersedih hati.


Mereka berdua kemudian lebih banyak menghabiskan waktu berdua di cafe tersebut dengan saling diam seribu bahasa. Menta sibuk dengan akting kepedasannya dan Raf sibuk dengan perasaan hancurnya karena Menta yang ingin berpisah darinya.


__ADS_2