Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Rencana Raf


__ADS_3

"Maaaa" Raf memanggil sang istri yang masih dalam keadaan polos didekapannya.


"Hemmmmm" sahut sang istri yang masih kelelahan setelah pertempuran mereka.


"Sebenaranya bagaimana sih hubungan antara Rini-Haris dan Karina-Burhan?" Raf yang bingung dengan status keempat orang itu bertanya kepada sang istri sambil tetap sibuk bermain dengan dua benda kenyal milik ibu hamil itu.


"Memangnya kenapa pa? kok tumben papa nanyain mereka?" Menta heran dengan sang suami yang tiba-tiba saja bertanya demikian.


"Gakpapa, cuma papa penasaran aja, sebenarnya mereka pacaran atau enggak?" jawab calon ayah itu kepada istrinya.


"Pacaran kok, buktinya mereka sekarang lagi malam mingguan bareng" Menta menjawab sambil menusuk-nusukkan jari telunjuknya di dada bidang sang suami yang masih belum mengenakan apapun.


"Kalau mereka pacaran, lalu kenapa Karina dan Rini selalu menolak untuk diajak menikah oleh Burhan dan Haris?" Raf tidak paham dengan pola pikir kedua gadis yang berprofesi sebagai tenaga medis di puskesmas desa itu.


"Ohhh jadi ceritanya papa penasaran karena itu toh?" Menta sudah paham tujuan dari pertanyaan sang suami.


"Iya, papa tuh kasihan melihat Haris dan Burhan, mereka itu sepertinya sudah niat banget, tapi kok ditolak terus" Raf membela kedua anak buahnya.


"Runi juga menolak kak Rich terus, kok papa gak kasihan sama dia?" alih-alih menjawab, Menta malah mengalihkan pembahasan.

__ADS_1


"Kalau itu sih sudah jelas papa tau jawabannya, wajar saja kalau Runi menolak, Rich kan memang playboy, sudah gitu mereka pernah punya konflik juga dimasa lalu, ditambah Runi sekarang sudah punya pacar juga kan!" Raf membandingkan kasus Runi dengan Karina dan Rini.


"Jadi sebenarnya Karina dan Rini itu saat ini sedang fokus mengejar beasiswa untuk bisa kuliah di fakultas kedokteran pa, mereka itu dapat penawaran untuk kuliah gratis seratus persen dengan syarat harus lulus pengabdian di desa dengan hasil yang baik dan mendapatkan rekomendasi dari kepala daerah di tempat pengabdiannya di desa. Nah makanya mereka tidak mau cepat-cepat menikah agar targetnya bisa tercapai!" ibu hamil itu menjelaskan kepada suaminya.


"Loh memangnya kalau menikah tidak bisa fokus gitu?" Bagi Raf itu bukanlah alasan yang masuk akal.


"Tentu saja, kalau nanti mereka menikah kan pasti pikiran dan hatinya akan terpecah antara karir dan keluarga. Contohnya mama, kemarin waktu baru-baru hamil kan harus cari dokter pengganti karena ngidam, nah kalau mereka begitu kan jadinya nanti nilainya berkurang pa, bisa jadi pak kepala desa tidak memberikan rekomendasi buat lulus seleksi beasiswanya!" jelasnya lagi.


"Ya kalau begitu kuliah pakai uang sendiri saja, gitu aja susah banget!" dengan entengnya Raf berkata.


"Tidak segampang itu pa, bagi kita mungkin kuliah pakai biaya sendiri itu tidak jadi masalah, apalagi keluarga papa yang punya kampusnya, tapi bagi mereka yang ekonominya biasa saja atau pas-pasan itu bisa jadi beban berat. Karina dan Rini itu kan orang tuanya sangat sederhana, mereka dari sekolah hingga kuliah itu murni karena prestasi dan beasiswa, jadi kita tidak boleh berkata seperti yang tadi papa bilang!" Menta mengingatkan suaminya.


"Tapi kalau nanti sudah menikah sama Haris dan Burhan, mereka kan bisa mengandalkan suaminya untuk mencarikan biaya kuliah, apalagi jabatan Burhan dan Haris cukup strategis!" Raf tetap tidak mau kalah.


"Tapi kalau mereka begini kan namanya PHP in Burhan dan Haris!" sebagai sesama pria ia berempati.


"Dari awal mereka berpacaran, Karina dan Rini sudah bilang kalau mereka itu masih mau fokus kembali kuliah, mereka juga tidak memaksa untuk para pria itu menunggu, bahkan waktu itu Rini malah sempat mau mengenalkan temannya untuk dijadikan pacarnya Haris. Tapi baik Haris maupun Burhan tetap bersikeras mau menunggu sampai mereka siap, jadi ya memang sudah resiko kedua pria itu kan!?" Menta juga akhirnya membela dua rekannya secara garis keras.


"Hemmm baiklah, oke sepertinya papa sudah tau harus berbuat apa untuk mereka berempat!" Raf mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Memangnya papa mau ngapain?" Menta penasaran.


"Rahasia!" sambil tersenyum jahil.


"Ihhh papa jahat banget sih pake rahasia-rahasiaan segala!" memukul dada suaminya dengan wajah cemberut.


"Hahahahahahah" sementara sang suami malah tergelak melihat istrinya kesal.


"Sebel!" Menta siap-siap beranjak dari pelukan suaminya.


"Ehhhh mama mau kemana?" Raf bertanya sambil menahan sang istri.


"Abis papa bikin kesel pake acara rahasia-rahasiaan segala!" gerutu sang ibu hamil.


"Iya, iya sini papa bisikin" kemudian Raf menceritakan idenya kepada sang istri.


"Serius? ahhhhh papa memang suami paling the best!" Menta pun menghujani sang suami dengan banyak kecupan.


"Kalau begitu boleh dong papa dapet bonus dari mama?" sambil mengerling jahil.

__ADS_1


"Ihhh kalo itu mah modus bukannya bonus!" menggerutu tapi tetap manja.


Akhirnya malam itu sekali lagi pertempuran sengit kembali terjadi diantara keduanya. Meskipun Menta sedang berbadan dua, namun dirinya masih bisa mengimbangi permainan sang suami dengan cukup baik. Raf pun tetap bermain dengan hati-hati agar istri dan anaknya tidak tersakiti.


__ADS_2