Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Dianggap ART


__ADS_3

"Selamat siang nona Clara" kata Raf menyambut kedatangan clientnya.


"Selamat siang tuan Rafael Anderson" Clara membalas sambutan Raf dengan senyum yang paling manis.


"Silahkan duduk" Raf mempersilahkan gadis yang usianya tidak jauh berbeda dengan sang istri duduk dihadapannya.


"Terima kasih" kata gadis itu sambil tersenyum menggoda.


"Bagaimana dengan perjalanannya?" Rich bertanya kemudian.


"Cukup panjang dan lumayan melelahkan, apalagi tadi mobil kami sempat mengalami kendala dan delay beberapa jam di jalanan" Clara menjawab sok imut sambil menatap Raf untuk mencari perhatian.


"Apa anda butuh istirahat dulu sebelum memulai bekerja?" Rich memastikan agar tidak kelelahan.


"Ah tidak usah, kita langsung bekerja saja" gadis itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berdekatan dengan Raf.


"Kalau begitu sebelum mulai bekerja mungkin ada baiknya kita makan siang dulu saja" Runi yang sudah meminta juru masak menyiapkan makan siang mereka berkata kepada tamunya.


"Terima kasih atas jamuannya" kata Clara dengan sopan.


"Mari silahkan ikuti saya" Runi pun menunjukkan jalan menuju kantin di kantor mereka yang terbilang semi permanen karena lokasinya yang berada di tengah desa.


"Tuan Raf apa anda tidak ikut makan?" Clara bertanya kepada Raf yang masih duduk di kursinya.


"Iya nona, nanti saya menyusul, saya ingin menelpon istri saya terlebih dahulu" jawab Raf yang memang selalu mengontrol kondisi Menta disetiap ada kesempatan.

__ADS_1


"Baiklah" gadis itu kecewa karena Raf tidak menghiraukannya dan malah memperhatikan istrinya.


..........


Pada sore harinya setelah melakukan tour ke arena yang akan di rancang oleh tim dari entertain, Runi kemudian mengantarkan Clara ke kamarnya yang berada di bagian kamar untuk perempuan, bersamaan dengan Burhan dan Haris yang juga mengantar kedua tamu laki-lakinya ke kamar masing-masing. Sementara Raf dan Rich masih sibuk berkutat di lokasi proyek karena ada hal urgent yang harus mereka selesaikan segera dari kantor pusat Anderson.


"Nah ini adalah kamar anda nona Clara, silahkan masuk" kata Runi sambil membuka pintu kamar.


"Terima kasih" Clara kemudian masuk dan menaruh barang-barangnya.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya nona, jika ada yang anda butuhkan saya ada di kamar itu" Runi menunjuk kamarnya yang hanya selisih dua kamar dari kamar sang tamu.


"Iya baiklah" angguknya.


"Selamat beristirahat, nanti saya akan panggil jika makan malam sudah siap ya" kata Runi sebelum ia pergi.


"Sama-sama" Meskipun Runi secara posisi jabatan di perusahaan Putra Angkasa tergolong cukup tinggi, namun ia tetap berusaha menjamu rekan bisnisnya dengan sangat sopan. Bahkan ia tetap memasak sendiri makanan untuk mereka santap pada malam harinya.


..........


"Duh beli dimana ya?" setelah kepergian Runi, Clara yang awalnya ingin mandi terpaksa keluar kamar lagi untuk membeli pembalut karena dirinya baru tau jika sudah waktunya datang bulan.


"Eh mbak, boleh minta tolong tidak?" gadis itu kemudian bertanya kepada Menta yang baru saja keluar dari dalam kamarnya yang berada di bagian paling ujung depan.


"Ya ada apa nona?" Menta bertanya dengan ramah. Meskipun ia dan gadis itu belum berkenalan, tapi Menta sudah tau jika ia adalah Clara yang dibahas semalam saat mereka sedang makan malam bersama.

__ADS_1


"Tolong belikan pembalut dong mbak, saya baru saja datang bulan dan lupa bawa dari rumah" Clara yang tidak tau bahwa Menta adalah nyonya rumahnya berkata seperti layaknya majikan kepada asisten rumah tangga. Karena selama kehamilan Menta memang malas berdandan maka tidak heran jika tampilannya saat di rumah layaknya seperti asisten tumah tangga yang hanya menggunakan daster dengan tatanan rambut digulung ke atas secara asal saja.


"Oh iya tunggu sebentar nona, saya ada stok kok, tidak usah beli" kemudian Menta masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil stok pembalut yang memang tidak pernah ia pakai lagi karena sedang hamil.


"Oke" Clara pun menunggu di depan pintu kamar ibu hamil itu.


"Ini nona silahkan" Menta menyodorkan bungkusan besar pembalut yang biasa selalu ia pakai sebelum dirinya hamil.


"Ini" kata Clara sambil menyodorkan uang seratus ribuan kepada Menta.


"Eh tidak usah nona, ini buat nona saja tidak usah diganti, saya tidak pakai kok, kan sedang hamil" kata Menta sambil mengelus perutnya yang buncit.


"Serius? nanti kau rugi tidak? kan harganya lumayan ini!" Clara seperti menganggap rendah profesi asisten rumah tangga.


"Sungguh, tidak usah diganti" Menta menolak dengan sopan.


"Ya sudah, terima kasih ya kalau begitu" Clara bersiap kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Sama-sama nona" angguk sang dokter yang sedang hamil itu.


"Eh iya satu lagi, tolong buatkan aku teh manis hangat ya, tapi gulanya setengah saja" Clara memerintah Menta seenaknya sendiri.


"Eh?? oh iya, baik" Menta sempat terkejut namun ia tetap mengikuti maunya sang tamu demi menjaga nama baik sang suami.


"Nanti kalau sudah jadi antarkan ke kamarku ya mbak, yang ada di ujung sana" tunjuk Clara ke arah kamarnya yang ada di ujung belakang.

__ADS_1


"Iya baik" Menta baru menyadari jika Clara ternyata tidak mengenalinya sebagai nyonya rumah, melainkan sebagai seorang asisten rumah tangga.


"Oke, aku mandi dulu ya" Clara pun melenggang masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Menta yang masih syok karena dianggap sebagai asisten rumah tangga oleh tamunya.


__ADS_2