
"Apa ini pak?" pagi hari berikutnya Paula yang mendapatkan sebuah amplop dari kepala HRD menatapnya dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Ini surat pemutusan hubungan kerja untuk anda nona" jawab sang kepala HRD kepada Paula.
"What? tapi kenapa saya di PHK!?" gadis itu tidak terima dengan keputusan sepihak yang dilakukan oleh perusahaan Anderson tersebut.
"Ini adalah keputusan dewan direksi" ia menjawab sesuai fakta.
"Iya tapi kenapa!?" suara gadis itu meninggi.
"Saya juga tidak tau nona, karena tuan Raf melalui tuan Rich lah yang meminta saya untuk membuatkan surat ini" sang kepala HRD sesungguhnya memang tidak mengetahui alasan pastinya, karena sejauh ini Paula cukup profresional dalam bekerja, namun karena ini sudah menjadi keputusan para pemilik perusahaan maka ia tidak bisa bertindak apa-apa lagi.
"Apa kalian tau apa resikonya? kalian harus membayar denda pemecatan kepadaku, dan itu tidak murah!" mencoba untuk menggagalkan rencana PHKnya.
"Anda tenang saja nona, tuan Raf dan tuan Rich sudah mempersiapkannya. Segera setelah anda menandatangani ini, maka kami akan mentransfernya ke rekening anda" jawab kepala HRD.
"Raf, brengsek kau, lihat saja pembalasanku kelak!" mendengar bahwa Raf lebih memilih mengeluarkan uang penalti untuk bisa memecatnya, ketimbang kembali berhubungan dengannya seperti dulu, membuat gadis itu benar-benar merasa terhina dan kehilangan akal sehatnya.
"Silahkan tanda tangan di sini nona" sang kepala HRD menunjuk posisi nama Paula di kertas itu.
"Awas!" ia menarik kertasnya dengan kasar kemudian melemparkan pulpennya setelah selesai menandatangani.
..........
Sementara itu ditempat lain, tepatnya di kediaman mewah milik Raf dan Menta,
"Pa sudah siang, ayo bangun" Menta membangunkan suaminya.
"Emmmhhhhh papa masih ngantuk maaa" Raf hanya menggeliat tanpa membuka matanya.
"Nanti terlambat berangkat ke kantor loh pa" Menta kembali mengingatkan lagi.
"Hari ini papa gak ke kantor" setelah pertempuran sengit dengan sang istri semalaman suntuk serta ditambah harus begadang karena sang buah hati beberapa kali menangis minta susu, Raf akhirnya menyerah dan tumbang.
"Loh kok gak kekantor sih?" istrinya masih protes.
"Papa mau di rumah aja seharian nemenin mama sama Raguel" sambil menarik sang istri ke dalam pelukannya.
"Ihhhh papa nih, kebiasaan deh, main tarik-tarik aja sembarangan" memukul manja suaminya.
__ADS_1
"Papa masih kangen sama mama" endus-endus leher sang istri.
"Nanti lagi dong pa, kan mama mau masak dulu, belum lagi ngurusin Raguel yang mau mandi dan minum susu" mendorong suaminya agar melepaskan pelukannya dan bersiap berdiri.
"Sebentar aja ma plissss" merajuk seperti anak kecil yang minta permen.
"Paaaaa, nanti lagi ya, kasihan Raguel nanti kalau kelaparan" Menta memberi pengertian kepada bayi besarnya.
"Ya sudah deh" dengan berat hati Raf pun harus merelakan sang istri untuk melakukan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga.
..........
"Raf, Menta, keluar kalian brengsek!" suara teriakan terdengar membahana di halaman nan luas rumah mewah itu.
"Nyonya, sepertinya ada yang memanggil anda dan tuan" sang asisten rumah tangga yang sedang membantu Menta memasak di dapur berkata kepada ibu muda itu.
"Siapa sih pagi-pagi begini teriak-teriak?" Menta yang mendengarnya sangat penasaran.
"Keluar kau Raf brengsek!" suara itu terdengar kembali.
"Sepertinya itu suara seorang wanita yang sedang marah-marah nyonya" asisten rumah tangga berkata lagi.
"Coba aku lihat dulu deh kalau begitu" dengam rasa penasaran yang tinggi, Menta kemudian berjalan keluar halaman rumahnya.
"Dasar wanita murahan, beraninya kau merebut kekasihku!" Paula langsung menghampiri dan menampar Menta saat melihatnya keluar dari dalam rumah.
"Kak Paula apa yang kau lakukan!?" Menta terkejut karena diserang oleh Paula.
"Nyonya!!!" asisten rumah tangga dan security yang melihat kejadian tersebut kemudian berusaha menarik Paula namun gagal karena wanita itu sudah kembali beraksi dengan sangat brutal.
"Wanita tidak tau malu, beraninya kau merebut Raf dari pelukanku!" wanita itu menarik rambut Menta dengan sangat kasar hingga istri dari Raf itu meringis kesakitan.
"Awwww kak, lepaskan!" Menta berusaha mempertahankan diri.
"Tidak akan pernah!" kata Paula tanpa ampun.
"Apa yang anda lakukan nona, lepaskan nyonya kami!!" sang security mencoba meraih tangan Paula yang menggenggam rambut Menta dengan kasar.
"Paula, apa yang kau lakukan pada istriku!?" Raf yang melihat sang istri dianiaya oleh mantan kekasihnya itu langsung mencoba menyelamatkan Menta.
__ADS_1
"Raf, kenapa kau jahat sekali padaku? kenapa kau lebih memilih dia dari pada aku!?" model itu berteriak layaknya orang gila.
"Paula lepaskan istriku!" Raf mendorong mantan kekasihnya hingga terjerembab ke lantai.
"Apa mama baik-baik saja?" Raf memastikan bahwa Menta tidak terluka.
"Nyonya" asisten rumah tangga juga memcemaskan Menta.
"Nyonya ayo segera masuk ke dalam" security meminta majikannya masuk agar Menta lebih aman.
"Pergilah ke neraka kau wanita terkutuk!" ketika semua orang fokus kepada Menta, Paula bangkit dan berlari ke arah dokter itu dengan kecepatan penuh.
"Mama awassss" Raf yang melihat Paula membawa pisau lipat langsung mendorong sang istri untuk menghindarinya dari hunusan Paula.
"Papaaaaaaaaaa" Menta berteriak histeris ketika melihat lengan Raf robek dan berdarah akibat pisau yang dibawa oleh Paula.
"Raffffff" wanita itu terkejut karena salah sasaran.
"Hey nona!!" security langsung menahannya.
"Bawa dia ke kantor polisi!" Raf memerintah bawahannya sambil memegang lukanya yang mengeluarkan darah segar.
"baik tuan" security itu langsung menyeret Paula tanpa sungkan lagi.
..........
"Astaga, lukanya terus mengeluarkan darah!" Menta panik melihat lengan suaminya terluka. Meskipun ia seorang dokter yang terbiasa menangani pasien-pasiennya yang terluka parah, namun saat melihat orang yang ia cintai mengalami nasib buruk tersebut, akal sehatnya seperti lenyap seketika.
"Papa tidak apa-apa kok ma" Raf menenangkan sang istri.
"Apanya yang tidak apa-apa? ini lukanya cukup dalam, perlu dibawa ke IGD!" Menta bisa melihat pisau itu sampai merobek ototnya. Untuk pertolongan pertama ia kemudian membebat lukanya dengan kain agar darahnya berhenti keluar.
"Iya, tapi mama tenang dulu ya" meskipun terluka, namun Raf tetap berusaha setenang mungkin agar istrinya tidak cemas.
"Mana bisa tenang kalau papa begini!" katanya hampir menangis.
"Ya sudah ayo kita ke rumah sakit, biar supir yang mengantar" kemudian Raf meraih tangan sang istri yang masih merah karena habis mengobati lukanya dengan tangannya yang tidak terluka.
"Mbak titip Raguel ya sampai grandma atau auntynya datang nanti" Raf berpesan kepada sang asisten rumah tangga sebelum ia masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Baik tuan" angguk sang asisten.
Setelah memastikan bahwa kondisi rumahnya aman untuk ditinggalkan, Raf kemudian meminta supirnya untuk melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Anderson.