
"Hati-hati di jalan ya ma" Menta merasa sedih karena harus berpisah dengan keluarga besarnya saat ia masih merindukan mereka semua berada di sisinya.
"Kau juga jaga diri baik-baik ya, jangan terlalu lelah" kata Tata sang mama.
"Iya" angguk ibu hamil itu.
"Bunda, sampai jumpa lagi ya" Menta memeluk ibu Mertuanya.
"Sehat-sehat ya kalian berdua" Ananda mengelus perut sang menantu setelah melepaskan pelukannya dari ibu hamil itu.
"Iya bun, terima kasih" jawab Menta.
"Titip Menta ya Raf" Surya yang sudah bersiap masuk ke dalam mobilnya berkata.
"Iya pa, pasti" pria itu meyakinkan papa mertuanya.
"Kalau kau berani menyakiti menantu dan cucuku, maka kau akan ayah bunuh Raf!" Mike mengancam putranya.
"Ayah, mana mungkin aku menyakiti orang-orang yang paling aku sayangi" Raf kemudian meraih pinggang menta dengan posesif.
"Ya siapa tau saja!" kata Mike berseloroh.
__ADS_1
"Tidak mungkinlah!" Raf mengecup mesra pipi sang istri tanpa rasa malu sedikit pun di depan keluarga besarnya.
"Sudah-sudah, ayo kita berangkat, nanti kena macet!" grandma Merlyn mengingatkan anak dan cucunya.
"Benar, kalian kan harus langsung ke kantor" kata grandma Ruth.
Setelah salam perpisahan yang mengharukan, akhirnya mereka pun kembali ke ibukota meninggalkan Menta, Raf, Runi dan Rich bersama Karina, Rini, Burhan dan Haris untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
..........
"Sayang jangan menangis lagi, kan ini hanya pepisahan sementara waktu saja, nanti kalau semuanya sudah beres juga kita bisa menyusul mereka ke ibukota lagi" Raf menghibur menta yang masih duduk terdiam di depan jendela kamarnya. Suara tawa dan canda yang selama satu minggu belakangan ini selalu memenuhi rumah menjadi hilang seketika diganti kesunyian.
"Mau ngapain?" Menta menoleh tanpa semangat.
"Ya jalan-jalan saja, siapa tau ada yang bisa kita beli atau setidaknya sekedar lihat-lihat saja!" kata sang suami.
"Males ah, aku mau tidur saja" mood Menta yang buruk membuatnya jadi malas melakukan apapun, bahkan ia tidak menolak sama sekali ketika beberapa waktu lalu Raf mencarikan dokter praktek pengganti di puskesmas desa untuk sementara waktu selama dirinya mengidam. Padahal jika dalam kondisi normal Menta pasti sudah menolak dengan keras karena dedikasinya terhadap dunia medis dan pelayanan masyarakat sangat tinggi.
"Ya sudah terserah kau saja" Raf kemudian memilih untuk mengikuti kemauan sang istri dan keluar kamar.
"Loh kok pergi?" Menta protes saat melihat Raf keluar kamar.
__ADS_1
"Bukannya kau bilang mau tidur?" feelingnya mulai tidak enak.
"Trus kalau aku tidur kau tidak mau menemani?" mulai kesal.
"Bukan begitu, kan biasanya kalau tidur kau tidak mau aku ganggu, jadi aku bermaksud keluar supaya kau bisa tidur dengan nyenyak sayang" rasa was-was menyerang Raf.
"Ck, bilang saja sudah tidak sayang lagi!" ibu hamil merajuk.
"Tidak bukan begitu sayang,,, aduh.." salah lagi pikirnya dalam hati.
"Tau ah seballl" menepis tangan sang suami yang menyentuh bahunya.
"Sayang jangan ngambek dong, maaf ya aku tidak bermaksud begitu" katanya sambil merebahkan diri mensejajarkan tubuhnya dengan sang istri.
"Ihhhh udah sono ahhhh, gak usah deket-deket!" benar-benar seperti anak kecil ngambek yang tidak mau disentuh sama sekali.
"Ya sudah deh huffffffff" Raf yang bingung hanya bisa menarik nafasnya dengan berat. Setelah mendapatkan wejangan berharga dari kakak-kakak iparnya, Raf kini lebih bisa untuk menerima kondisinya. Hanya satu harapan Raf yaitu cobaan ini segera berlalu dan Menta kembali lagi seperti sedia kala setelah masa ngidamnya selesai.
..........
Halo semua, terima kasih ya buat semua dukungannya... Nah buat yang dari kemarin-kemarin request visual Menta dan Raf silahkan melipir ke IG Rosi Lombe ya, sudah ada di sana.. Jangan lupa buat dukung Rosi terus melalui like, komen, vote, follow, hadiah, share, dan favorit.. Happy reading all.. Luv Luv.
__ADS_1