
"Ini" Noah menyodorkan sebotol minuman segar kepada Tia yang sejak tadi keluar dari kamar Menta hanya duduk diam seorang diri di sudut ruangan dengan tatapan mata ke arah luar jendela.
"Eh? terima kasih" gadis itu menerima dengan kikuk.
"Aku Noah" memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
"Tia" jawabnya dengan menyambut uluran tangan Noah.
"Kau saudaranya Menta ya?" tanpa basa basi Noah bertanya kepada gadis lugu itu.
"Kok kakak tau?" Tia merasa bingung karena tebakan Noah tepat.
"Hanya menebak sih, soalnya wajah kalian mirip hehehehe" selorohnya sambil terkekeh.
"Ohhhh" gadis itu ber oh ria.
"Hubungan kekerabatan kalian itu seperti apa?" entah mengapa Noah merasa penasaran, karena selama ini yang ia tau Menta tidak punya saudara perempuan selain Runi saudara angkat sekaligus sahabatnya yang memang sejak kecil sudah selalu bersama bagaikan anak kembar.
__ADS_1
"Bapak saya itu kakaknya tante Tata" jelas Tia.
"Maksudnya paman Tyo?" Noah terbelalak karena kaget.
"Kakak kenal sama bapak saya?" Tia pun tidak kalah terbelalak dan kagetnya.
"Tidak kenal sih, hanya pernah dengar ceritanya saja dari Menta dan Runi saat kami kuliah dulu" Noah memang cukup banyak mendengar cerita buruk tentang Tyo yang pernah membuat kehidupan keluarga Putra Angkasa menjadi hancur berantakan.
"Pasti cerita yang buruk ya?" Tia menebak.
"Bapak itu memang bukan orang baik, ibu bahkan sangat membenci bapak seumur hidupnya dan tidak pernah mau membahas tentang bapak sampai akhir hayatnya. Makanya saya baru bisa bertemu dengan bapak setelah ibu meninggal, itu pun karena ada tetangga yang kasihan sama saya yang hidup sebatang kara setelah ibu meninggal dan akhirnya memberikan informasi tentang bapak. Tapi sayangnya pas kami ketemu, bapak sedang ditahan dan kemudian meninggal karena ada insiden di lapas!" entah mengapa Tia bercerita dengan begitu polos dan apa adanya kepada Noah tanpa rasa canggung sedikit pun, padahal ia baru saja mengenal pria itu.
"Nah sejak bapak meninggal, tante Tata dan om Surya mengajak saya tinggal sama mereka. Awalnya saya sungkan karena mereka itu sangat baik, padahal bapak sudah sangat jahat sama mereka, tapi karena mereka begitu tulus dan tidak menyalahkan saya sama sekali atas segala perbuatan bapak, makanya saya akhirnya mau ikut mereka. Saya bertekad mau menebus segala dosa yang sudah bapak perbuat kepada keluarga tante Tata dan om Surya dengan mengabdi sama mereka!" jelasnya lagi.
"Oooohhhh begitu ya ceritanya?!" Noah yang mendengar cerita Tia langsung terpukau.
"Eh maaf ya kak, aku malah jadi ngelantur ceritanya" Tia malu sendiri ketika tersadar kalau dia bercerita kepada orang yang bahkan belum ia kenal.
__ADS_1
"Tidak, tidak apa-apa, aku malah senang mendengarnya, kau sangat hebat, meskipun bapakmu bukan orang yang baik, tapi kau bisa menerimanya dengan baik, bahkan kau mau memperbaiki nama baiknya dan menebus segala kesalahannya kepada keluarga om Surya" Noah berkata jujur.
"Oya, ngomong-ngomong kau sudah makan belum? aku sangat lapar nih, dari lepas tugas tadi belum makan siang sama sekali!" Noah berkata sambil mengusap perutnya.
"Belum kak, aku belum sempat makan karena Raguel rewel sepanjang hari ini" jawab gadis itu.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita ke kantin dulu sambil menunggu Raguel dan Raf selesai?" usul sang dokter muda.
"Emmmmm bagaimana ya?" Tia ragu-ragu untuk meninggalkan Raguel.
"Sebentar saja kok, cuma makan saja habis itu kita balik ke sini lagi, sekalian kita beli makan juga buat kak Raf" kata Noah.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya kak, kasihan Raguel dan kak Raf" kata gadis itu akhirnya menyetujui.
"Iya sebentar saja" angguk Noah sambil tersenyum.
Mereka berdua pun kemudian berjalan menuju kantin dan makan siang bersama diselingi dengan obrolan ringan seputar kehidupan sehari-hari mereka masing-masing.
__ADS_1