Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Perasaan Noah


__ADS_3

"Kau mau makan apa?" tanya Noah saat dirinya dan Tia sudah berada di kantin.


"Apa saja, terserah kakak" Tia memang bukan tipe pemilih makanan.


"Bagaimana kalau sop iga saja?" kata pria tampan itu.


"Boleh, terserah saja" jawabnya sambil mengangguk.


"Minumnya apa?" tatap dokter muda itu kearah gadis cantik yang ada dihadapannya.


"Air mineral saja kak" jawabnya dengan cepat.


"Hanya itu? kau tidak mau memesan minuman yang lainnya?" tanya Noah kemudian.


"Tidak, aku tidak pernah meminum air gula kalau habis makan berat" geleng gadis desa itu.


"Oke, kalau begitu aku pesankan ya" Noah kemudian memanggil pelayan kedai sop iga untuk memesan dua porsi.


Sambil menunggu pesanan datang, mereka pun kemudian mengobrol.


"Kau ini benar-benar mirip Menta ya, hidupnya sangat sehat" Noah kemudian tersenyum.


"Benarkah? aku malah baru tau kalau Menta juga seperti itu" Tia sungguh-sungguh tidak tau.


"Masa sih kau tidak tau?" Noah tidak percaya.


"Aku kan baru bertemu dengan keluargaku beberapa minggu belakangan ini kak, setelah bapak meninggal, sebelumnya aku tidak kenal mereka sama sekali" menjelaskan lagi kisah hidupnya.


"Hemmm, iya juga sih" pria itu manggut-manggut.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kakak sangat mengenal Menta dengan baik ya?" kata Tia kemudian.


"Lumayan, aku sudah mengenalnya sejak SMA" jawab Noah.


"Ohhhhhh" gadis itu hanya ber oh ria saja.


"Dia itu adalah cinta pertamaku, awalnya aku tidak tau kalau ternyata dia sudah menikah dengan kak Raf tanpa cinta karena dijodohkan. Saat pernikahannya dengan kak Raf renggang beberapa tahun lalu, aku sempat mengejarnya dan berharap bisa menikahinya, tapi kemudian aku menyerah saat tau ternyata Menta lebih memilih kak Raf dibandingkan aku!" pria itu bercerita dengan jujur apa adanya.


"Begitu ya?" entah mengapa tiba-tiba hati Tia terasa begitu sakit saat mendengar isi hati Noah Terhadap sepupunya.


"Kau sudah tau kan kisah cinta Menta dan kak Raf?" Noah menatap gadis itu.


"Iya aku tau, waktu itu Menta pernah bercerita padaku tentang kisah perjodohannya dengan kak Raf, dia bilang mereka awalnya menikah karena terpaksa dan tanpa cinta hanya untuk mencegah niat buruk bapak yang ingin menguasai harta om Surya" angguk Tia.


"Benar, saat itu dia baru saja lulus SMA dan akhirnya memilih kuliah di luar negeri untuk menghindari kak Raf setelah mereka bercerai. Waktu itu kondisinya sangat menyedihkan, Ia hamil tanpa didampingi suaminya dan harus kehilangan anak pertamanya setelah proses kehamilan dan melahirkan yang sangat sulit. Aku pikir saat itu aku bisa menggantikan posisi kak Raf, tapi aku salah, mereka ternyata sudah saling jatuh cinta sebelum berpisah dan pada akhirnya rujuk kembali setelah mereka bertemu di desa!" Noah menghela nafasnya dengan berat.


"Terima kasih ya, tapi tenang saja, saat ini aku sudah move on kok, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, aku sekarang menganggapnya hanya sebagai adik saja, tidak lebih!" wajah pria itu terlihat ceria.


"Percayalah kak, suatu saat nanti kakak pasti akan mendapatkan gadis lain yang lebih baik dari cinta pertamamu!" kata Tia lagi.


"Tentu saja aku percaya, karena sekarang aku sudah menemukan gadis itu!" senyum terkembang di wajah sang dokter muda.


"Gadis itu sungguh beruntung dicintai sama kakak, sudah baik hati, tampan, pintar lagi!" Tia dengan tulus memuji Noah, meskipun hatinya sedih saat mengetahui bahwa Noah sudah punya gadis pujaan lain sebagai pengganti Menta.


"Kau terlalu memuji, aku tidak sesempurna itu kok!" yang dipuji menjadi tersanjung.


"Tidak, itu benar, betapa beruntungnya gadis yang kakak cintai itu, hanya gadis bodoh saja yang menolak orang baik seperti kakak!" jawabnya dengan sungguh-sungguh.


"Kalau kau jadi gadis itu, apa kau mau menerima aku?" Noah kemudian menatap Tia dengan sangat serius.

__ADS_1


"Tentu saja, kakak kan sangat sempurna!" kata Tia dengan lugunya tanpa berfikiran macam-macam.


"Kalau begitu ayo kita menikah!" berkata sambil meraih tangan Tia.


"Kak jangan bercanda, ini tidak lucu!" ia yang terkejut kemudian menarik tangannya.


"Aku tidak bercanda, gadis yang aku maksud itu adalah dirimu Tia!" Noah menahan tangan Tia.


"Kak!?" gadis itu ternganga tidak percaya.


"Aku tau kalau ini mungkin terlalu cepat untukmu, tapi aku sungguh-sungguh, aku ingin menjalin hubungan serius denganmu!" tatapan matanya seolah menembus hati Tia.


"Mutiara, apakah kau mau menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku kelak?" lamaran itu terlontar dengan spontan.


"Kak Noah!?" mulut Tia seolah kelu untuk berbicara.


"Kau tidak perlu menjawab sekarang, pikirkanlah dulu, nanti aku akan bertemu dengan om Surya dan tante Tata untuk meminta Restu mereka!" katanya kemudian.


"Permisi pak Dokter, ini pesanannya" pelayan kantin membawa makanan yang dipesan oleh Noah.


"Terima kasih" Noah pun tersenyum kepada sang pelayan.


"Sama-sama" jawabnya sebelum kemudian kembali ketempatnya.


"Ayo dimakan, nanti keburu dingin" kemudian Noah mulai menyuap makanannya yang baru saja datang.


"Iya" angguk Tia.


Mereka pun kemudian makan dalam diam. Terlihat Tia begitu canggung karena lamaran Noah yang begitu mendadak. Sementara itu Noah tak henti-hentinya menatap Tia dengan senyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2