Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Galau


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu sejak kedatangan Raf dan Rich ke desa serta pertemuan pria itu dengan sang pujaan hatinya Menta. Meskipun Menta belum mau menerima pernyataan cinta Raf secara langsung, namun sikap gadis itu kini mulai melunak. Ia tidak pernah lagi menolak kebaikan Raf untuk mengantar dan menjemputnya bekerja bersama kedua rekannya. Sentuhan-sentuhan afeksi yang diberikan Raf kepadanya seperti rangkulan di pinggang, kecupan singkat di bibir, pipi dan kening juga semakin membuatnya nyaman berada di dekat pria itu. Kata-kata cinta dan sayang yang selalu di ucapkan oleh Raf kepadanya juga selalu membuatnya berbunga-bunga dan melambung tinggi.


"Sayang, nanti siang aku akan kembali ke ibu kota karena tugas observasi dan persiapan pembangunan proyek ini sudah selesai" kata Raf sambil mengantar Menta dan kedua rekan kerjanya berangkat kerja seperti biasa.


"Apa kak Rich juga ikut pulang?" tanya Menta lagi.


"Tentu saja, kan kami satu tim" angguk pria itu.


"Ohhhh" angguk Menta.


"Memangnya kenapa kalau Rich ikut pulang?" tanya Raf penasaran.


"Tidak apa-apa sih, hanya bertanya saja" jawab sang dokter muda itu.


"Kau menanyakan Rich tapi kau tidak menanyakan aku?" Raf merajuk.


"Memang harus tanya apa lagi? kan kakak sendiri yang sudah bilang tanpa aku tanya!" Menta berkilah.


"Ya tanya kek kapan aku kembali lagi ke sini? gitu!" Raf memberi contoh.


"Kapan kakak akan kembali lagi ke sini?" Menta mengikuti apa yang dikatakan oleh Raf.


"Tau ah kau bertanyanya tidak sungguh-sungguh!" pria itu ngambek seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh ibunya.


"Loh tadi katanya aku disuruh tanya, sekarang giliran aku tanya malah kakak bilang begitu!" Menta tersenyum geli melihat sisi kekanak-kanakan Raf.


"Tau ah sebel!" Raf memajukan bibirnya, membuat Menta tergelak melihat ekspresi wajah si tuan muda.


Sementara dua orang yang ada di jok belakang hanya menjadi obat nyamuk saja melihat keromantisan dua manusia di depan mereka.


..........

__ADS_1


"Terima kasih kak Raf" Karina dan Rini berkata serentak sebelum mereka turun dari mobil.


"Sama-sama" jawab Raf sambil tersenyum ramah.


"Kau jangan nakal ya selama aku pergi, aku pasti akan kembali untuk menjemputmu pulang ke rumah kita" Raf menahan Menta agar tidak keluar dari mobilnya.


"Kakak besar kepala sekali, memangnya siapa yang mau pulang sama kakak?" gadis itu berseloroh dengan cueknya.


"Sayang apa kau masih belum bersedia memaafkan aku?" Mendengar perkataan Menta baru saja, membuat hati Raf bergitu sedih.


"Aku kan sudah bilang tidak ada yang perlu dimaafkan, kakak tidak bersalah apa-apa, lagi pula aku sudah tidak mau mengingat-ingat kejadian di masa lalu lagi kak" jawab gadis itu.


"Lalu kenapa kau tidak mau kembali pulang bersamaku?" tatapan Raf memelas.


"Kan sudah aku bilang, saat ini aku sedang fokus pada pekerjaanku, aku sangat menikmati hidupku di sini kak, aku belum mau berfikir tentang cinta!" meskipun sesungguhnya hati Menta selalu bergetar saat berada di dekat Raf, namun dengan segala pengalaman hidupnya dimasa lalu, ia seperti tidak ingin mengulang luka yang sama.


"Sayang plissss beri aku kesempatan" Raf meraih tangan sang pujaan hati.


"Aku akan bersabar menunggumu sayang, bahkan jika aku harus menunggumu sampai mati pun aku rela!" tatapan pria itu berubah menjadi sulit dimengerti.


"Aku masuk dulu ya kak, sudah ada pasien yang datang" Menta menyadarkan Raf bahwa mereka sedang berada di ruang publik.


"I love you sayang" Raf mengecup pipi Menta sebelum akhirnya melepaskan gadis itu keluar dari mobilnya. Sementara yang dikecup tidak merespon apa-apa karena ia tidak ingin memberikan harapan palsu.


..........


"Besok pagi kita belanja ke pasar yuk mumpung libur nih!" Karina mengajak kedua rekannya untuk berbelanja keperluan rumah.


"Yuk, kebetulan aku juga mau beli sendal jepit" Rini merespon dengan cepat.


"Menta, kau mau ikut tidak?" Karina mengulangi ajakannya.

__ADS_1


"Menta, Menta!" Rini membantu memanggil gadis itu.


"Eh apa? kenapa?" jawab Menta gelagapan karena sejak tadi pulang dari puskesmas ia memang lebih banyak diam dan melamun.


"Kau kenapa sih? sejak tadi kok melamun terus?" Karina kemudian mendekati Menta yang duduk di sofa ruang TV rumah dinas mereka.


"Ah tidak apa-apa kok" ia melambaikan tangan.


"Tidak mungkin, sejak tadi siang kau itu melamun terus!" kata Karina lagi.


"Jangan-jangan kau galau ya karena ditinggal oleh kak Raf?" Rini menebak-nebak.


"Ah tidak, kata siapa?" kilah gadis itu.


"Kalau bukan karena kak Raf, lalu kenapa kau dari tadi diam saja dengan wajah yang sangat sedih begitu hemmm?" goda Rini.


"Ah tidak apa-apa kok!" Menta masih berkilah.


"Jangan bohong, meskipun kau tidak bilang, tapi kami tau kok kalau kau itu sebenarnya juga cinta sama kak Raf!" Karina ikut berargumen.


"Ih kalian sok tau deh!" sesungguhnya Menta memang cukup sedih dengan kepergian Raf. Meskipun belum terlalu banyak hal yang dilakukan Raf untuknya, namun perhatian-perhatian kecil yang selama satu minggu belakangan ini telah ditunjukkan oleh Raf cukup membuat Menta merasa luluh.


"Udah ngaku aja cepat!" Rini terus memaksa.


"Apa sihhh udah ah aku mau tidur!" Menta kemudian beranjak.


"Kalo kamu gak mau sama kak Raf, nanti kami rebut ya!" Karina menggoda.


"Bodo amat!" Menta tetap berlalu.


"Uhhh dasar kamu malu-malu tapi mau hahahaha" Rini dan Karina pun terus saja mengolok-olok sikap Menta yang sok jual mahal, padahal sudah jelas sangat galau karena kepergian Raf.

__ADS_1


__ADS_2