Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Pertempuran Terakhir


__ADS_3

"Mama yakin mau jalan? biar papa ambilkan kursi roda saja ya biar mama gak capek?" Raf yang melihat tubuh istrinya sudah sangat besar dan kakinya membengkak karena kehamilannya merasa khawatir saat sang istri bertekad untuk berjalan sendiri ke ruang dokter di lantai lima rumah sakit milik keluarga Anderson.


"Mama masih kuat kok pa" Menta menolak dan tetap berjalan sendiri.


"Ya sudah kalau begitu papa tuntun ya" Raf tetap tidak mau istrinya jalan sendiri.


"Papa kok tuntunnya kayak orang sakit sih?" Menta protes karen Raf memapah sang istri seperti sedang memapah orang yang terkena stroke.


"Biar mama aman" jawabnya selembut mungkin.


"Tapi mamakan bukan orang cacat pa!" wajah sang istri sudah tidak enak.


"Ya sudah iya-iya maaf" melihat istrinya berubah mode, pria tampan itupun langsung merubah cara memegang sang istri.


"Nah gini kan enak" Menta baru merasa nyaman saat suaminya memggandeng dengan cara mengaitkan jari-jari mereka.


"Hehehehehe" ia terkekeh untuk menetralisir situasi. Bagi Raf yang sudah bucin akut, melihat Menta kesal saja sudah membuatnya menciut, apalagi kalau sampai marah besar, bisa jadi kacau hari-harinya karena didiamkan oleh sang istri.


..........


"Bagaimana kondisi anak kami dok?" Raf yang sangat antusias dengan perkembangan bayinya di dalam perut Menta kemudian bertanya kepada sang dokter.


"Kondisi bayinya sehat tuan, nyonya" kata dokter spesialis kandungan yang memang sudah ditunjuk untuk menangani Menta saat bersalin nanti.


"Ah syukurlah" senyum terkembang dari bibir pria keturunan bule itu.


"Oya, apakah tuan dan nyonya benar-benar tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya sama sekali?" sang dokter heran karena pasangan muda ini menolak untuk mengetahui jenis kelaminnya.


"Tidak dokter, kami mau nanti saja saat lahiran, supaya jadi kejutan" Menta menggeleng dengan cepat.

__ADS_1


"Baiklah, tidak masalah" senyum sang dokter kandungan.


"Oya dokter, apakah saya boleh bertanya sesuatu?" Raf terlihat ragu dan malu.


"Ada apa tuan?" dokter kandungan itu mendengarkan secara seksama.


"Emmm apakah kami masih boleh itu? kira-kira kapan kami harus menyetopnya?" Raf menyatukan ujung dua telunjuknya. Sejak usia kandungan Menta semakin besar dan perutnya semakin membuncit, Raf memang merasa agak khawatir jika harus melakukan hubungan dengan istrinya. Tidak jarang ia kemudian melakukannya secara mandiri agar sang istri dan anak tetap sehat dan aman. Namun demikian tetap saja baginya sensasi tersebut berbeda dengan jika ia melakukannya berdua dengan sang istri.


"Ihhh papa" Menta malu mendengar pertanyaan yang dirasa sangat pribadi keluar dari mulut sang suami.


"Tidak apa-apa nyonya, itu wajar, banyak kok yang bertanya seperti itu kepada saya saat kondisinya seperti anda" sang dokter yang paham jika Menta sungkan kemudian menenangkan.


"Tuh kan ma, wajar, itu kan kebutuhan" Raf merasa dibela.


"Ishhhh kebutuhan papa, bukan mama!" ibu hamil itu melotot.


"Hehehehehe" terkekeh sambil garuk-garuk kepala.


"Jadi masih boleh ya dok?" binar bahagia terpancar dari wajah pria tampan itu.


"Tentu saja boleh tuan, tapi seperti yang saya jelaskan barusan ya, harus lihat kondisi ibu dan bayinua dulu" katanya.


"Iya, kalau itu sih pasti dok, apalagi tinggal menghitung hari saja" angguk Raf.


"Papa sudah ah, bikin malu saja sih" Raf yang bertanya Menta yang merasa malu sendiri.


"Ada lagi yang masih kurang jelas tuan?" tanya sang dokter memastikan.


"Tidak, sudah cukup" Menta yang menjawab agar sang suami tidak bertanya yang aneh-aneh lagi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya resepkan vitaminnya ya. Lalu nanti kalau tanda kontraksi atau pecah ketubannya sudah ada, tolong segera datang ke rumah sakit ya nyonya, supaya bisa segera ditangani" sang dokter memberi wejangan.


"Baik dokter" jawab pasangan itu serentak.


..........


Setelah pulang dari rumah sakit, Raf pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merasakan surga dunianya.


"Ma, yuk" Raf to the point.


"Ih papa, ini kan masih siang" Menta menepuk lengan suaminya.


"Papa kangen maaaaa,, kan sejak kita pindah rumah belum pernah lagi" Raf ingat bahwa terakhir kali mereka melakukan adalah saat hari pernikahan dadakan kedua pasang temannya berlangsung, selebihnya Raf hanya bersolo karir saja.


"Tapi pelan pelan ya pa" Menta memberi pesan.


"Pasti dong sayang" sambil meremas benda kembar milik Istrinya dengan sangat gemas.


"Ahhhh paaaaa" meskipun kondisi badannya sudah besar, namun sentuhan suaminya tetap masih mampu membangunkan rasa yang dimilikinya.


"Emmmpphhhhh paaaa" jari-jari Raf yang sedang mengeksplor setiap inci tubuh ibu hamil itu membuatnya meremang.


"Awwww" setelah semua terlucuti dari tubuh masing-masing, kini Raf mempersiapkan diri untuk menerobos masuk.


"Ahhhhh paaaaa mama tidakkkkk aaaahhhhh" entah mengapa Menta mudah sekali terbang tinggi.


"Ayo sayang, kita bersama ya" Raf yang tidak ingin membuat sang istri lelah pun kemudian mempercepat pengeluarannya.


"Aaaaaaahhhhh paaaaaaaa emmmmppppphhhhh aaaaahhhhhh" gejolak itu muncul sekali lagi, membuat Menta tidak bisa menahan diri.

__ADS_1


"Maaaa papaaaa aaaahhhhhhh arggggghhhhhh" Raf pun sampai pada puncaknya sepersekian detik setelah sang istri terbang melayang.


Meskipun pertempuran hanya dilakukan dengan durasi yang pendek, namun Raf tetap sangat bahagia karena ia bisa melakukannya bersama sang istri. Baginya setidaknya ia masih bisa melakukan pertempuran untuk yang terakhirnya sebelum waktu bersalin tiba, yang diperkirakan kurang dari dua minggu lagi.


__ADS_2