
"Raf!" suara seorang wanita terdengar ditelinga sang empunya nama.
"Mau apalagi kau kesini?" Raf yang melihat mantan kekasihnya di lobby kantor pusat Anderson menatap dengan sinis.
"Kenapa kau ketus sekali sih, aku kan datang baik-baik!" mode sok manja ditunjukkan olehnya.
"Lepaskan tanganmu!" pria itu langsung menepis tangan Paula yang merangkul lengannya.
"Raf, jangan galak-galak donggg" masih merajuk seperti anak kecil.
"Dengarkan aku Paula, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, aku tidak mau berurusan lagi denganmu, jadi sekarang lebih baik kau pergi dari sini dengan baik-baik sebelum aku bertindak kasar dan memanggil security untuk menyeretmu keluar!" batas sabar Raf sudah habis setelah semalam Menta hampir saja ngambek kepadanya karena habis bertemu dengan Paula dan mendengar cerita yang aneh-aneh tentang hubungan mereka dimasa lalu.
"Tapi Raf aku sangat mencintaimu, aku ingin kita kembali seperti dulu!" gadis itu berteriak-teriak kesetanan dengan tidak tau malu sama sekali, hingga seluruh orang yang berada di lobby menoleh kearah mereka.
"Asal kau tau Paula, aku sudah menikah serta memiliki dua orang anak laki-laki yang sangat tampan. Yang lebih penting lagi adalah aku sangat mencintai istriku dan kami sudah hidup dengan sangat bahagia, jadi sekarang kau sudah tidak bisa memaksaku lagi!" meskipun sesungguhnya ia sangat enggan untuk mengumbar hubungan pribadinya di depan banyak orang, namun karena situasinya sangat mendesak, maka Raf pun terpaksa menunjukkan sisi lain dari dirinya sebagai seorang suami dan ayah yang sangat mencintai keluarganya.
"Tidak mungkin, kau pasti bohong!" Paula tidak percaya.
"Cih, kau pikir aku seorang pembual? kalau kau tidak percaya, maka tanyalah kepada mereka semua yang ada di sini, mereka adalah saksi saat aku mengikat janji dengan istriku pada hari pernikahan kami!" Raf menunjuk semua orang yang menatap mereka. Sementara yang ditunjuk hanya bisa berdecak kagum karena Raf menunjukkan sisi kesetiaannya sebagai seorang suami saat mendapatkan godaan dari seorang wanita cantik.
__ADS_1
"Kau jahat Raf, kau sangat jahat!" Paula meraung tak terkendali.
"Bawa dia keluar!" Raf memberi kode kepada para security yang mendekat karena mendengar kegaduhan.
"Baik tuan" angguk para security itu.
"Lihat saja nanti Raf, aku akan balas semuanya, aku akan merebutmu dari tangan istrimu itu!" Paula masih berteriak mengancam saat diseret keluar oleh security.
"Tolong perhatikan wajahnya, jika ia datang lagi, segera panggil security untuk mengusirnya!" Raf memberi pesan kepada resepsionis yang menjaga lobby.
"Baik tuan" angguk keduanya.
..........
"Ada apa dengan wajahmu?" Gide yang melihat adik iparnya kusut saat baru masuk ke ruang rapat bertanya.
"Paula bikin ulah!" jawabnya sambil menghempaskan diri ke kursi yang paling dekat dengannya.
"Ngapain lagi dia?" Dimas bertanya.
__ADS_1
"Berteriak-teriak bikin gaduh di lobby bawah sampai ditonton oleh seluruh karyawan!" kemudian Raf menceritakan kronologisnya.
"What? gila benar wanita itu!" Gamal tidak habis pikir.
"Aku sangat malu dibuatnya!" Raf seperti tidak punya muka dihadapan para karyawan.
"Kau jangan khawatir, mereka semua justru sangat salut padamu, lihatlah!" Rich menunjukkan sebuah gosip yang beredar pagi ini di grup media sosial milik kantor pusat Anderson.
"Padahal semalam Menta sudah hampir ngambek loh gara-gara habis bertemu Paula di rumah sakit, Eh sekarang malah bikin gaduh lagi!" Raf menghela nafasnya.
"Menta bertemu Paula?" Rich terbelalak.
"Iya, bahkan katanya sampai menceritakan bagaimana gaya pacaran kami dulu, kan gila wanita itu!" katanya dengan penuh emosi.
"Sepertinya kau harus segera selesaikan semua ini Raf, jangan sampai ini jadi berlarut-larut!" Dimas mengingatkan.
"Benar, apalagi jika istrimu sampai terpengaruh oleh omongannya, bisa gawat nanti!" kata Gide.
"Iya, kau harus bertindak tegas kepada Paula, kalau perlu kau singkirkan dia jauh-jauh!" Gamal memprovokasi.
__ADS_1
"Huuffff merepotkan sekali sih wanita murahan itu!" papa Junior dan Raguel sangat kesal. Sepanjang hari itu pun Raf menjadi sangat gelisah karena khawatir jika Menta sampai terpengaruh oleh omongan Paula dan akhirnya meninggalkannya lagi.