
"Bu dokter, itu laki-laki yang dari tadi duduk di depan bener suaminya ibu?" seorang pasien wanita berusia paruh baya bertanya kepada Menta saat mereka sedang berada di ruang pemeriksaan.
"Iya bu" angguk Menta malu-malu.
"Wah ganteng banget, bu dokter beruntung banget sih" kata sang pasien dengan rasa kagumnya.
"Terima kasih bu" jawab Menta lagi.
"Kerja apa suaminya bu dokter? pasti orang kaya ya?" saking antusiasnya sang ibu tidak berhenti bertanya.
"Ada usaha keluarga bu, dia bantu-bantu ayahnya" Menta memilih untuk tidak menceritakan secara detail bahwa Raf adalah putra mahkota kerajaan bisnis Anderson agar tidak terlalu mencolok.
"Ohhh,, lalu sudah menikah sejak kapan?" sejenak melupakan rasa sakitnya dan tujuannya ke puskesmas untuk berobat saking penasarannya dengan kisah Menta dan Raf.
"Sudah lima tahun bu" sang dokter berusaha menjawab sekenanya saja.
"Sudah punya anak berapa? kok saya tidak pernah lihat?" benar-benar seperti wartawan gosip.
"Belum bu, selama lima tahun kemarin kami sempat tinggal terpisah karena saya kuliah di luar negeri" yang ditanya merasa seperti seorang penjahat yang sedang diintrogasi oleh polisi.
"Wahhh bu dokter ternyata LDR ya?" katanya sambil manggut-manggut.
"Ibu tau istilah LDR juga ternyata?" Menta tidak menyangka kalau pasiennya tau istilah yang jarang dipakai oleh masyarakat di desa.
"Taulah Lari Dari Rumah kan artinya? banyak loh TKW di desa sini yang LDR-an juga sama suaminya seperti bu dokter" jawabnya dengan yakin.
"Hahahaha, ibu bisa saja, LDR itu artinya Long Distance Relationship bu atau hubungan jarak jauh" Menta kemudian meluruskan persepsi sang pasien.
"Oh salah ya? apa tadi? long disten rilesionsip?" sambil garuk-garuk kepala.
"Iya, biasanya suami istri atau kekasih berpisah karena harus melakukan sesuatu yang penting di tempat yang berjauhan, seperti kuliah atau bekerja" jelasnya.
"Ohhhhhhh" sang pasien ber oh ria.
"Oya, keluhan ibu saat ini apa bu?" karena merasa sang pasien sudah kehabisan pertanyaan maka Menta pun kemudian mengembalikan kondisi seperti semula.
"Eh maaf bu dokter, gara-gara saya kepo jadi sampai lupa berobat deh hehehehe" kekeh sang pasien.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bu, mari saya periksa" Menta mulai mengecek kondisi sang pasien dengan teliti dan mendengarkan keluhannya.
"Terima kasih ya bu dokter untuk obatnya, semoga rumah tangganya langgeng terus sampai maut memisahkan" doa pasien tersebut sebelum pulang.
"Sama-sama bu, terima kasih juga untuk doanya" Karena ia menjadi pasien terakhir maka Menta pun mengantarnya sampai pintu depan puskesmas sekaligus ia juga ingin beres-beres sebelum pulang.
"Pak suaminya bu dokter, saya permisi dulu ya" pamitnya kepada Raf.
"Iya bu, hati-hati di jalan" Raf membalas dengan ramah.
"Kok dia lama banget sih sayang?" Raf yang menunggu Menta bekerja sejak awal merasa pasien yang terakhir ini memiliki durasi waktu pemeriksaan yang paling lama dibanding lainnya.
"Iya tadi dia ngajak ngobrol dulu" jawab Menta.
"Ngobrolin apaan?" Raf penasaran.
"Nanyain kakak" Menta menjawab sambil merapikan nomor antrian pasien yang ada di meja ruang tunggu.
"Aku?" menunjuk diri sendiri.
"Iya, sama aku juga" angguknya.
"He em" hanya mengangguk.
"Trus kau jawab apa sayang?" tangannya sudah memeluk Menta dari belakang.
"Ya jawab apa adanya lah" jawabnya.
"Kau bilang aku suamimu?" Raf antusias.
"Iya" masih sambil merapikan nomor antrian.
"Kau bilang tidak kalau suamimu ini sangat mencintaimu?" mulai mengedus leher.
"Ya enggak lah, gak penting juga kan buat dia" seloroh dokter itu.
"Tapi itu penting banget loh buat aku" sambil terus mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Kak jangan begini, nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" Menta mencoba melepaskan diri dari pelukan sang suami.
"Memangnya kenapa? kita kan suami istri!" Raf tidak peduli.
"Tapi ini kan ruang publik" mengingatkan suaminya.
"Kalau begitu ayo cepat pulang, kita lanjutkan di rumah" bisiknya di telinga sang istri.
"Ck, dasar kau ini modus sekali sih!" menepuk tangan yang melingkar di pinggangnya dengan gemas.
"Aku tidak modus sayang, hanya rindu saja" pria itu menjawab dengan manja.
"Ya sudah lepaskan dulu, bagaimana mau pulang kalau begini terus?" Menta berkata.
"Oke, baiklah cintaku!" dengan semangat melepaskan pelukannya dan berharap bisa segera pulang ke rumah.
..........
"Ahhhh akhirnya sampai juga" Raf langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Kak mandi dulu sana, sekalian ganti bajunya sama yang sudah bersih, biar itu aku cuci lagi" karena Raf tidak membawa baju ganti dan hanya meminjam baju Surya yang sempat tertinggal, jadi Menta harus mencucinya secara bergantian.
"Bagaimana kalau aku tidak usah pakai baju saja?" Raf memberikan kode.
"Mulai dehhh" Menta merasa suaminya modus.
"Aku masih kangen sayanggggg" pria itu sudah tidak bisa menahan dirinya lagi untuk memeluk sang istri.
"Kak, mandi dulu sana" Menta mendorong Raf.
"Mandi bareng lagi yuk" sambil meremas bagian yang kenyal.
"Ihhhh kakkkkk" pekik Menta karena terkejut dengan serangan suaminya.
"Awwwwww" lagi-lagi Raf menggendong sang istri masuk ke dalam kamar mandi.
"Kakkkkk ahhhhhh" lenguhan terdengar dari bibir Menta yang membuat Raf sudah tidak bisa lagi membendung gejolak di dalam dirinya. Pertempuran sengit pun terjadi sepanjang mereka berada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
................
Yukkkkk yang masih punya vote jangan lupa sisakan buat Menta dan Raf ya... Sebentar lagi babak barunya mereka akan dimulai, dijamin lebih seru.. Sooo, jangan lupa untuk meninggalkan dukungan teman-teman semua ya... Happy reading all... Luv Luv..