Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Tuan Muda Dingin


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, kini lima tahun telah berlalu sejak kepergian Menta untuk kuliah kedokteran ke luar negeri. Baik Gadis itu maupun Raf sama-sama menjalani kehidupan mereka masing-masing dengan caranya sendiri.


"Kau ini bodoh ya? kenapa bekerja seperti ini saja lelet sekali hah? mau aku pecat!?" Raf memarahi anak buahnya yang datang terlambat karena terhambat oleh jembatan penghubung antara kantor dan lokasi proyek mereka yang putus terkena erosi.


"Maaf tuan, saya tadi harus berputar arah dulu dan mencari jalur alternatif untuk bisa sampai di sini" jelas sang anak buah.


"Alasan saja, kalau sudah bosan kerja bilang saja, jangan banyak tingkah!" Raf tidak peduli.


"Wooooo wooooo bro, tenanglah, yang dia katakan itu semuanya benar, apa kau tidak lihat berita pagi ini? banyak korban berjatuhan karena jembatan putus itu, syukurlah dia bisa selamat dan mencari jalur lain!" Rich yang melihat anak buahnya sudah pucat pasi karena disemprot oleh sang kakak sepupu menenangkan pria itu.


"Ck!" Raf hanya berdecak saja sambil kemudian memeriksa laporan yang dibawa oleh anak buahnya.


"Kau pergilah, terima kasih ya" demi keamanan dan ketenangan, Rich pun meminta anak buahnya untuk menghindari Raf yang masih emosi.


"Baik tuan, permisi" angguknya dengan nafas lega.


Sejak kepergian Menta, sikap Raf memang menjadi banyak berubah. Ia lebih sering menyendiri dan hanya berbicara seperlunya saja. Bahkan demi menghindari banyaknya kontak dengan orang-orang disekitarnya, Raf kemudian memutuskan untuk tinggal sendirian di penthouse miliknya. Segala cara sudah Ananda lakukan agar Raf bisa kembali ceria seperti sedia kala. Sang bunda bahkan sampai rela mengijinkan Paula untuk mendekati Raf dan membujuknya untuk menikah, namun pria itu tak bergeming sama sekali. Bagi Raf kehilangan Menta sama seperti kehilangan separuh nyawanya. Motivasi Raf untuk hidup sudah sangat rendah. Ia layaknya robot yang hanya akan pergi keluar rumah untuk bekerja, sisanya ia akan habiskan di dalam kamar untuk merenungi nasibnya. Rasa berdosa dan sesal karena telah memperlakukan Menta dengan buruk di masa lalu membuatnya menghukum diri sendiri dengan cara tidak ingin menikah seumur hidupnya. Hatinya sudah terbang menjauh seiring kepergian Menta dari hidupnya.

__ADS_1


..........


"Ini, kita harus pergi ke tempat ini besok pagi dan bermalam di sana beberapa hari untuk meninjau lebih lanjut proyek yang akan digarap" Rich menyodorkan sebuah proposal.


"Hemmm" Raf hanya menjawab sekenanya.


"Apa kau mau aku carikan teman bermalam supaya tidak kedinginan di tempat terpencil itu?" Rich menggoda Raf, sementara yang digoda hanya menatap dengan sinis.


"Hahahahahah, selera humormu ternyata turun drastis ya? ohhhhh Menta, kenapa kau begitu kejam, lihatlah pria malang ini begitu merana karena kau tinggalkan!" semakin Raf kesal samakin menjadi-jadi Rich menggodanya.


"Hahahahahahah" gelak tawa puas terdengar dari bibir Rich seraya berjalan keluar ruangan.


Meskipun Rich usil dan senang menggoda Raf yang sedang kesal, namun sesungguhnya di dalam hati kecilnya ia merasa sangat kasihan kepada sang kakak. Berbagai macam cara sudah ia lakukan agar Raf bisa move on, tapi semuanya tetap saja gagal.


..........


"Apa kau yakin ini lokasinya? kenapa seperti tidak ada kehidupan sih?" Raf yang melajukan mobilnya di jalan kecil yang becek mulai protes.

__ADS_1


"Sudah jalan saja terus, jangan bawel!" Rich yang sudah melihat gelagat Raf yang mulai emosi kemudian berseloroh.


"Ck, mana ada proyek di tempat seperti ini?" Raf geleng-geleng kepala.


"Heyyy dengar ya, justru inilah yang namanya terobosan, ketika orang lain fokus membangun kota besar, maka kita justru merangkak di pelosok dan membangunnya agar mereka bisa setara dengan yang ada di kota!" Rich memang tidak kalah cerdas dari Daddy Ron yang mampu melihat peluang usaha di setiap keadaan.


"Terserahlah!" Raf kembali fokus menyetir.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka bisa tiba di tempat tujuan tersebut. Setelah acara penyambutan dilakukan oleh kepala desa setempat, kemudian mereka pun langsung meninjau lokasi.


"Wahhh keren, ini pasti bisa kita maksimalkan, selain potensi alamnya yang sangat luar biasa, sumber daya manusianya pun juga sangat menunjang untuk dijadikan lokasi wisata alam!" Rich benar-benar kagum.


"Ayo Raf kita ke sana" Rich menepuk bahu sang kakak.


"Hemmmm" jawab Raf sambil mengikuti langkah Rich yang berjalan menuju bukit batu.


Meskipun Raf tidak terlalu nyaman berada di alam terbuka, namun dengan rasa profesionalitasnya yang sangat tinggi, ia berusaha menyesuaikan dirinya untuk bekerja semaksimal mungkin.

__ADS_1


__ADS_2