
Tring,,
Pesan masuk berbunyi di ponsel Menta.
"Sayang, kau sedang apa?" bunyi pesan dari nomor tak dikenal muncul.
"Siapa sih?" Menta kemudian mengecek photo yang ada di profilnya.
"Kak Raf? dia tau dari mana ya nomorku ini?" sejak Menta pergi ke luar negeri, ia memang sudah beberapa kali ganti nomor telpon dan tidak pernah berkomunikasi dengan Raf sama sekali.
"Sayang kok hanya di read saja sih tidak di balas?" pesan baru masuk lagi.
"Kakak tau nomorku dari mana?" Menta membalas pesannya namun tidak dengan menjawab pertanyaan Raf melainkan dengan mengajukan pertanyaan juga.
"Rahasia hehehe" sambil memberikan emotikon menjulurkan lidah.
"Ishhh dasar menyebalkan" balas Menta lagi dengan emotikon cemberut, namun pada faktanya ia justru senyam-senyum sendiri.
"Sekarang kau sedang apa sayang?" pria itu kembali menanyakan aktivitas yang sedanh dilakukan oleh sang pujaan hati.
"Aku baru pulang dari pasar sama Karina dan Rini" akhirnya menjawab juga.
"Sudah makan siang belum?" tanya Raf lagi.
"Sudah" menjawab dengan singkat.
"Apa kau tau kalau aku sangat rindu padamu?" Raf menyatakan perasaannya.
"Kau rindu tidak sama aku?" lanjut pria itu lagi.
__ADS_1
"Tidak" jawab Menta, kini dia yang mengirimkan emotikon menjulurkan lidah.
"Benarkah? apa tidak ada namaku sama sekali dihatimu?" emotikon menangis.
"Tidak" lagi-lagi dengan menjulurkan lidah, namun kali ini sangat banyak.
"Walaupun kau tidak menyimpan namaku dihatimu, tapi namamu tetap yang nomer satu dihatiku loh" pernyataan hati pun dilontarkan oleh Raf.
"Ishhh gombal!" namun ia mengetik dengan senyum terkembang.
"Sungguh, aku tidak gombal!" Raf berusaha meyakinkan Menta.
"Apa buktinya?" sang gadis meminta bukti.
"Baiklah, agar kau percaya, maka aku akan datang ke desa sekarang juga sebagai bukti cintaku padamu, tunggu aku ya!" kata Raf lagi.
"Oke" jawab Raf.
Meskipun tidak yakin akan perkataan Raf, namun dalam lubuk hati Menta yang paling dalam ia juga sangat berharap pria itu akan datang menemuinya sebagai bukti cintanya.
..........
"Menta, ada tamu" sore harinya Karina mengetuk pintu kamar gadis itu.
"Siapa?" tanya Menta kepada sang bidan.
"Cowok ganteng" jawabnya sambil lalu.
"Oke sebentar" kemudian ia merapikan rambutnya di depan cermin serta menambahkan sedikit pemulas bibir warna alami agar terlihat lebih segar. Senyum pun terkembang di wajah cantiknya saat ia berjalan ke teras untuk menyambut sang tamu.
__ADS_1
"Halo selamat sore" sapa seorang pria dengan wajah berseri-seri.
"Selamat sore pak Insinyur" senyum di wajah Menta pun seketika pudar saat mengetahui bahwa tamu yang datang bukanlah orang yang sedang dia nanti-nantikan sejak siang tadi.
"Bu dokter cantik sekali" melihat make up tipis yang digunakan oleh Menta membuat pria itu semakin jatuh hati pada sang dokter.
"Terima kasih" jawabnya dengan kikuk.
"Oh iya ini, saya tadi dari kota sebelah, kebetulan ada tukang martabak, jadi saya bawakan saja sekalian buat ibu dokter dan yang lainnya" kata Bagas sambil mengulurkan buah tangannya ke arah Menta.
"Terima kasih pak, jadi merepotkan" Menta menerima dengan perasaan sungkan.
"Tidak bu, saya malah senang kok bisa mengantarkan ini untuk ibu" katanya.
"Oya sebentar saya ambilkan minumnya ya pak" Menta pun kemudian beranjak ke dapur untuk menyiapkan teh serta camilan yang kebetulan ia beli tadi saat di pasar.
"Ini pak, silahkan diminum" katanya sambil meletakkan di atas meja.
"Terima kasih ya bu dokter" Bagas kemudian menyeruput tehnya.
"Bagaimana bu pekerjaan sampingannya, apakah masih dikejar deadline?" tanya Bagas.
"Lumayan pak" Menta hanya menjawab sekenanya saja.
"Oh begitu ya, memang itu tentang apa sih bu?" tanya pria itu lagi.
"Tentang kesehatan pak" lagi-lagi hanya menjawab dengan singkat.
Sepanjang sore hingga menjelang malam, sesungguhnya Menta sangat tidak fokus mengobrol dengan Bagas karena ia masih berharap Raf akan benar-benar datang menemuinya, namun karena waktu sudah mulai gelap, ia pun merasa kecewa karena yakin bahwa pria itu hanya menggombalinya saja.
__ADS_1