
"Apa sayang, bingung ya karena disini suaranya sangat ramai?" Menta mengajak sang putra berbicara ketika ia sedang duduk menunggu antrian vitamin di apotik selepas melakukan kontrol rutin ke dokter untuk memantau perkembangan Raguel. Meskipun ia punya hak khusus untuk mendapatkan pelayanan tanpa perlu bersusah payah mengantri karena ia adalah menantu keluarga Anderson, namun Menta ingin tetap diperlakukan layaknya pasien umum yang taat aturan.
"Menta!?" seseorang memanggil ibu satu anak itu.
"Kau Menta kan?" tanya wanita cantik yang berpenampilan bak super star.
"Kak Paula?" Menta terkejut melihat mantan pacar suaminya berdiri dihadapannya.
"Iya ini aku Paula, ternyata ini benar kau ya Menta!" Paula langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Menta.
"Kakak apa kabar?" Meskipun tidak nyaman, namun Menta tetap bersikap seramah mungkin terhadap wanita itu.
"Aku baik, kau sendiri bagaimana?" tanya Paula sambil menatap wajah Raguel yang sedang digendong oleh mamanya.
"Aku juga baik kak" masih dengan senyum terkembang.
"Apa ini anakmu?" Paula menunjuk Raguel.
"Iya kak, ini anakku" angguknya tanpa menjelasakan bahwa Raguel adalah anaknya dengan Raf.
"Jadi kau sudah menikah lagi ya?" Paula menyangka bahwa Menta sudah mempunyai suami baru. Ia yang baru pulang dari luar negeri setelah dua tahun belakangan bekerja menjadi model majalah dewasa di sana, memang belum tau kalau Raf dan Menta sudah rujuk kembali.
"Iya kak, kalau kakak sendiri apa sudah menikah?" hanya mengangguk dan tidak berusaha menjelaskan bahwa suaminya masih tetap sama seperti yang dulu yaitu Raf.
"Hahahaha kau ini lucu sekali, mana mungkin aku menikah secepat itu, lagian sampai saat ini belum ada yang bisa menggantikan posisi Raf di hidupku, hanya pria mapan seperti dia saja yang akan aku terima menjadi calon suamiku kelak!" Karena merasa sama-sama sudah menjadi mantannya Raf, Paula pun jadi tidak sungkan sama sekali untuk menjelaskan kriteria pria idamannya kepada Menta.
"Oya ngomong-ngomong dimana suamimu?" sambil celingukan mencari sosok suami baru Menta.
"Tidak ikut kak, kami hanya berdua saja diantar oleh supir" jawab Menta.
"Wahhh sayang sekali ya, padahal aku ingin berkenalan loh!" Paula penasaran dengan sosok suami baru Menta yang telah menggantikan posisi Raf.
__ADS_1
"Dia sedang sibuk di kantornya karena ada proyek baru yang harus dikerjakan, jadi tidak bisa menemani kami" jelas Menta.
"Ohhhhh" wanita itu hanya ber oh ria saja sambil manggut-manggut.
"Oya, kakak sendiri ada keperluan apa datang ke sini?" Menta heran karena Paula berada di lantai khusus untuk poli kandungan dan poli anak, sementara dia sendiri belum menikah.
"Aku habis mengecek alat KB ku, karena sejak aku bekerja di luar negeri, aku belum pernah sama sekali kontrol ke dokter kandungan. Kau tau kan resikonya kita para wanita kalau tidak pakai alat pengaman? bisa-bisa kebobolan, apalagi dulu waktu sama Raf, hampir tiap hari kami main terus!" jawab wanita lajang itu tanpa ada rasa malu sedikit pun.
"Ohhhhh" meskipun Menta tidak habis pikir dengan jawaban yang dilontarkan oleh Paula sebagai seorang wanita yang belum menikah, namun ia tidak mau berkomentar apapun. Dari sini ia jadi bisa tau wanita seperti apa Paula yang sesungguhnya. Tidak heran jika dulu keluarga Anderson terutama Ananda mati-matian menolaknya menjadi menantu keluarga itu, sebab pergaulannya memang cukup mengerikan sebagai seorang gadis muda.
"Ya sudah, aku pulang duluan ya, nanti salam saja buat suamimu, semoga lain kali aku bisa bertemu dengannya ya" Paula kemudian bangkit berdiri.
"Hati-hati di jalan ya kak" Menta tetap bersikap seramah yang ia bisa meskipun rasa cemburu membakar hatinya setelah Paula bercerita tentang kisah ranjangnya dengan Raf dimasa lalu.
"Oke, bye!" kemudian beranjak dari hadapan dokter cantik itu.
..........
"Baik, semuanya oke, berat badannya juga naik" Menta bercerita tentang hasil kunjungannya ke dokter serta bagaimana Raguel merespon suara-suara di sekitarnya saat mereka sedang berada di ruang publik.
"Wahhhh anak papa semakin pintar ya" kata Raf sambil mengecup kening Raguel saat bayi itu sedang menyusu.
"Oya pa, tebak tadi mama ketemu siapa di Rumah Sakit!?" Menta memberi teka teki kepada sang suami sambil menaruh bayi mereka di dalam boxnya.
"Siapa?" Raf tidak punya bayangan.
"Mantannya papa hehehehe" katanya sambil terkekeh untuk menutupi rasa cemburunya.
"Mau ngapain dia!?" Raf bertanya tapi dengan mode tidak peduli.
"Dia habis cek alat KB nya" jelas Menta sambil menunggu reaksi suaminya.
__ADS_1
"Ck, dasar tidak berubah!" hanya berdecak dengan kelakuan mantannya.
"Oya, kayaknya dia belum tau kalau kita sudah baikan ya pa?" Menta bertanya.
"Mana papa tau!" Raf tidak mau ambil pusing.
"Soalnya tadi dia cerita banyak, bahkan sampai urusan ranjang sama papa segala dia ceritakan sama mama!" memancing reaksi Raf.
"Ck!" Raf hanya berdecak.
"Pasti dulu papa sering main sama dia ya!?" Menta membayangkan bagaimana dulu suaminya dilayani oleh sang mantan.
"Udah deh ma jangan bahas yang gak penting, males banget sih ngomongin orang yang gak berfaedah!" pria itu sangat muak dengan Paula.
"Tapi papa dulu sering kan main sama dia? hayo ngaku!" goda Menta sambil menusuk-nusuk pipi Raf.
"Itu kan dulu ma, sebelum papa cinta sama mama!" sungguh jengah rasanya Raf membahas masa lalunya dihadapan sang istri.
"Tapi pasti suka kannnn!?" menatap wajah suaminya.
"Maaaa plisss udah ya, jangan dibahas lagi, buat papa dia itu cuma masa lalu yang perlu dikubur dalam-dalam dan gak ada harganya sama sekali. Sekarang papa cuma mau hidup bahagia sama mama dan anak kita aja, udah titik!" Raf tau bahwa sesungguhnya sang istri mencoba memancing reaksinya.
"Ohhhhhh" Menta ber oh ria sambil memajukan bibirnya.
"Ma, papa tau pasti mama kecewa kan dengan masa lalu papa? entah Paula sudah cerita apa saja sama mama, tapi yang jelas saat ini papa gak memikirkan siapa pun selain mama dan anak kita. Kalau mama kecewa sama papa, papa minta maaf ya ma, tapi papa akan buktikan sama mama bahwa kedepannya papa akan berusaha menjadi yang terbaik buat keluarga kita!" Raf menggenggam erat tangan sang istri dan menatap matanya dengan lekat.
"Uhhhhh so sweeeetttttt" meskipun rasa cemburu masih bergemuruh di hati Menta karena membayangkan sang suami pernah bergelut panas dengan wanita lain, namun melihat bagaimana kesungguhan Raf, ia pun kemudian berusaha meredam gejolaknya.
"Mama mau maafin papa kan?" Raf tidak mau kalau istrinya menaruh curiga kepadanya. Rasa takut ditinggal kembali oleh Menta sontak membuat Raf berjuang mati-matian untuk mendapatkan kepercayaan dari sang istri.
"Iya, ya sudah kita tidur yuk, mama udah ngantuk nih" tanpa banyak bicara Menta pun kemudian berbaring memunggungi Raf dan menarik selimutnya sampai dada.
__ADS_1
"Good night my love" Raf yang tau bahwa mood istrinya sedang tidak baik karena sang mantan pun kemudian berusaha mengalah dengan membiarkannya tenang terlebih dahulu.