Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Memasak Jengkol


__ADS_3

"Kakkkkkk" Menta tiba-tiba mengirimkan pesan teks kepada semua saudara ipar perempuannya di grup cucu-cucu perempuan Anderson.


"Ada apa?" Gaby langsung merespon pesan tersebut.


"Aku ngidam" kata ibu hamil itu.


"Ngidam apa?" Sera memberikan emoticon wajah berbinar-binar.


"Semua olahan jengkol" jawab mama Raguel.


"Daebak!!!!" Rach langsung bertepuk tangan kegirangan.


"Ngidamnya aneh sekali sih!" Runi yang sudah bertunangan dengan Rich kemudian dimasukkan kedalam grup tersebut karena sudah secara resmi menjadi bagian anggota keluarga mereka.


"Ya namanya juga ngidam makanya aneh, kalau biasa-biasa saja itu sih namanya hanya lapar!" Menta memberikan emoticon menjulurkan lidah.


"Aku ada ide, bagaimana kalau kita masak bersama-sama saja? kita bagi jadi beberapa resep masakan!" Rach mengusulkan.


"Setuju, trus yang jelas kita harus ajak suami-suami kita untuk ikut masak bersama!" Sera sangat semangat.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita masak semur jengkol, balado jengkol, rendang jengkol, gulai jengkol, dan geprek jengkol?" Gaby yang berprofesi sebagai chef kemudian memberikan usulan menunya.


"Ahhhh kakkkkk aku jadi ngiler!" Menta benar-benar ingin segera mengeksekusi semuanya.


"Kapan mau masaknya?" Runi yang menjadi anggota grup termuda hanya bisa mengikuti saja rencana mereka.


"Sore ini saja bagaimana? sepulang bapak-bapak itu dari kantor!" Menta menjawab.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu biar aku siapkan bahannya sekarang juga ya" Gaby langsung meminta asisten rumah tangganya untuk mencari jengkol di pasar.


"Kita mau masak di mana nih?" semangat Rach menggebu-gebu.


"Di rumah kak Gaby saja, kan dapurnya seluas lapangan bola!" kata Sera, mengingat hobi memasak dan profesi sang kakak sebagai seorang chef, maka tidak heran jika dapur Gaby sudah layaknya seperti dapur restoran berbintang yang super lengkap.


"Kalau begitu aku akan segera datang setelah Raguel bangun tidur siang ya kak" Menta terlonjak kegirangan karena semua saudara iparnya begitu mendukung ngidamnya.


"Aku menyusul setelah pulang kantor ya" kata Runi yang masih sibuk meeting dengan Raf dan juga Rich.


..........


Sementara para istri sibuk dengan persiapan masak-memasak jengkol nanti sore, para suami di kantor pun mulai menggerutu di grup mereka dengan segala ulah istri-istrinya yang selalu saja hobi menyusahkan para suami jika ada salah satu yang hamil dan ngidam.


"Gila, apa lagi sih ini? kenapa ngidamnya ibu hamil itu selalu saja menyusahkan para suami sih!" Raf geleng-geleng kepala saat mendengar keinginan Menta untuk makan segala jenis olahan jengkol.


"Sudah lebih baik kita terima saja, dari pada nanti diamuk oleh istri-istri kita!" Dimas lebih baik mengalah daripada kapalnya gonjang ganjing.


"Iya, trus ujung-ujungnya mereka menyetop jatah kita!" Gide paling tidak tahan jika Rach sudah mulai marah dan mendiamkannya.


"Apa nanti Runiku juga akan begitu ya?" Rich yang masih berstatus bertunangan jadi bergidik sendiri membayangkan jika istrinya kelak ngidam yang aneh-aneh.


"Sudah pasti, apalagi punya empat kakak ipar modelan mereka semua begitu!" Raf hanya bisa menghela nafas dengan berat.


..........


"Oke, jadi karena kita punya lima menu yang harus dieksekusi, maka mari kita bagi-bagi tugas. Papa Dimas masak semur jengkol, Kak Gamal masak balado jengkol, kak Gide masak rendang jengkol, Raf gulai jengkol, dan Rich geprek jengkol!" Gaby mulai memimpin mereka semua.

__ADS_1


"Ini bumbunya, silahkan dibersihkan dulu ya" Sera membuka plastik bumbu dapur dan rempah-rempah yang baru saja dibeli.


"Ini baskomnya untuk bumbu yang sudah bersih ya bapak-bapak" Rach pun menyerahkan beberapa buah baskom kecil.


"Terima kasih ya semuanya, aku senang sekali" Menta tersenyum puas karena ngidamnya akan segera terkabul.


"Biar aku yang mendokumentasikannya" Runi kemudian mengambil beberapa foto dan video saat para pria dari keluarga konglomerat itu.


"Duh pedas sekali sih ini bawang merahnya, mataku sampai perih!" Rich menggerutu ketika air matanya menetes akibat bawang merah yang begitu menyengat.


"Sampahnya jangan dimasukkan ke baskom bersih dong!" Gide mengomeli Gamal sang kakak.


"Tidak sengaja tau, kau ini bawel sekali sih!" Gamal pun membalasnya.


"Awww pisaunya tajam sekali sih, berdarah deh jariku!" Raf meringis menahan perih.


"Ma, ini habis ini diapakan lagi?" hanya Dimas saja yang mengerjakan tanpa banyak mengeluh.


"Wohoooo ini minyak gorengnya nyiprat-nyiprat semua" Gide melompat-lompat ketakutan terkena cipratan minyak saat menumis bumbu.


"Kecilkan apinya supaya lebih tenang" Dimas mengajari Gide.


"Hehhh kenapa dilempar sih, dasar bodoh!" Raf memaki Rich yang melemparkan bumbu kedalam penggorengan dengan asal, sehingga minyaknya jadi tumpah semua.


"Tidak sengaja, aku takut kena minyak panasnya!" Rich kini berlari ke belakang tubuh sepupunya.


"Yahhh ini gimana? hampir gosong!" Gamal mulai panik.

__ADS_1


Karena merasa tidak tega melihat para suami yang panik, mau tidak mau para istri pun kemudian mengambil alih pekerjaan mereka yang baru setengah jalan dan menyelesaikannya sampai tuntas. Membuat para pria itu akhirnya bisa bernafas lega kembali.


__ADS_2