Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Menginap Di Rumah Sakit


__ADS_3

Setelah ditangani oleh dokter, Raf terpaksa menginap di rumah sakit selama semalam untuk mengobservasi lukanya.


"Feeling bunda ternyata benar, dia memang biang malapetaka untukmu Raf!" Ananda menatap lengan sang putra yang terluka akibat ulah Paula.


"Maafkan aku bunda, ini semua salahku karena tidak pernah mendengarkan nasehat bunda, seharusnya sejak dulu aku tidak perlu mengenalnya!" Raf merasa berdosa kepada orang tua, istri, serta anaknya yang telah dibuat menderita oleh ulah mantan kekasihnya itu.


"Itu bukan salahmu Raf, itu murni tindakan kriminal!" Maya yang melihat Raf merasa berdosa, kemudian berusaha menenangkannya.


"Benar, Paula itu memiliki kelainan, dia terlalu terobsesi menjadi nyonya besar sehingga akal sehatnya tidak berfungsi dengan baik!" Ayu mendukung ucapan Maya.


"Bagaimana dia sekarang?" Mike bertanya tentang keberadaan Paula.


"Sudah ditahan yah, pengacara kita yang akan mengurusnya" jawab papa Raguel.


"Bagus, dia memang perlu diberi pelajaran!" Ron sangat geram melihat ulah wanita itu.


"Kau harus awasi istri dan anakmu Raf, perketat keamanan untuk mereka, jangan sampai hal-hal seperti ini terulang lagi!" George memberi pesan.


"Iya om" angguk Raf.

__ADS_1


"Apa tidak sebaiknya kalian tinggal di rumah salah satu dari kami saja?" Tata yang trauma akan kejadian penculikan Menta saat bayi seperti dejavu.


"Benar, kalau tidak di rumah mamamu, ya di rumah bundamu" Dini yang juga over protect menyetujui usul Tata.


"Biar adil mungkin bisa bergiliran" Sekar memberi usul.


"Kalian jangan khawatir, kami pasti akan baik-baik saja kok" jawab Menta menenangkan ketiganya.


"Biar papa minta pengawal tambahan untuk menjaga kalian" Surya langsung berinisiatif.


"CCTV juga perlu ditambah" Hendro menambahkan.


"Astaga, kenapa jadi pada berlebihan semua sih? kan Paulanya sudah ditahan, jadi semua tenang ya, doakan saja kami baik-baik saja!" Menta merasa semua over protect terhadap keluarga kecilnya.


"Mereka bukan berlebihan sayang, hanya saja ingin yang terbaik untuk kalian bertiga" Grandma Merlyn memberi pengertian.


"Benar, apalagi Raguel adalah keturunan emas dari Anderson dan Putra Angkasa, bisa dibayangkan betapa banyak yang akan mengincarnya kelak!" Grandma Ruth juga menambahkan.


"Aku dulu juga pernah sepertimu Menta, diserang oleh mantannya papa Divo, bahkan waktu itu aku sedang hamil dan senjatanya nyaris mengenai Divo diperutku, makanya sejak saat itu aku selalu waspada!" Gaby mengenang masa lalunya.

__ADS_1


"Intinya kalian harus ekstra hati-hati, mungkin bukan Paula, tapi entah siapa lagi yang akan punya niat jahat!" Sera menasehati sang kakak ipar.


"Benar, lebih baik sedia payung sebelum hujan kan?" kata Rach.


"Ini baru saja pengacara melapor kalau berkasnya sudah diproses" Dimas memberikan info kepada semua orang.


"Bagus, semoga saja hukumannya berat!" Gamal merasa kesal.


"Seharusnya sih bisa berat, kan dia bawa senjata, berarti memang disengaja dan dipersiapkan kan?" Gide menganalisis kasusnya.


"Benar, barang buktinya pasti bisa memberatkan!" Rich mengangguk.


"Semoga saja demikian!" Doni berharap yang terbaik.


"Ini makanannya Raf" Ajeng menyodorkan nampan berisi makanan berat untuk Raf yang baru saja ia terima dari perawat.


"Sini biar Raguel aku yang gendong, kau suapi kak Raf saja dulu" Runi kemudian mengambil bayi itu dari mamanya agar bisa membantu sang papa makan.


"Terima kasih ya mama Runi" Menta kemudian menyerahkan putranya kepada sang sahabat dan mengambil nampan untuk suaminya.

__ADS_1


Ruang rawat yang memang dikhususkan hanya untuk keluarga Anderson itu pun menjadi terlihat sesak karena banyaknya anggota keluarga mereka yang berkumpul jadi satu. Seperti biasanya, bila ada salah satu dari anggota keluarga yang membutuhkan bantuan, maka semuanya pasti akan saling mendukung dan melakukan yang terbaik sebagai bentuk rasa solidaritas mereka.


__ADS_2