
Sore harinya, sepulang dari proyek Raf sengaja mengajak semua orang berkumpul di rumah dinas untuk membantunya membujuk Menta.
"Tidak mau, aku tidak mau menghindar dari gadis itu!" Menta yang diajak tinggal oleh Raf di rumah dinas menolaknya mentah-mentah.
"Tapi sayang, kau tau kan kalau gadis itu punya niat tidak baik terhadap hubungan kita!?" Raf takut terjadi sesuatu terhadap sang istri dan juga calon bayi mereka.
"Dengar, itu adalah rumah kita, meskipun kita juga menumpang di sana, tapi kita yang lebih dulu tinggal dan menganggapnya sebagai rumah, masa iya harus kita yang pergi!?" Menta tidak mau mengalah kepada calon perebut suaminya itu.
"Lalu kau mau apa?" Runi penasaran.
"Aku akan menghadapi semua permainannya, aku ingin lihat sebesar apa nyalinya terhadap rumah tanggaku!" kata Menta yang tidak gentar sama sekali.
"Apa kakak ipar tidak takut kalau Raf akan kecantol sama Clara?" Rich tidak habis pikir dengan jalan pikiran kakak iparnya.
"Tidak, buat apa aku takut? kalau kak Raf berani main serong, aku juga bisa membalasnya dengan lebih kejam!" kata ibu hamil itu sambil melirik tajam kearah suaminya.
"Mana mungkin, aku kan hanya cinta padamu sayang" Raf yang sudah bucin akut terhadap Menta sangat ciut mendengar ancaman dari sang istri.
"Nah ya sudah, jadi buat apa pindah rumah?" Bagi Menta, Clara bukanlah saingan yang sepadan dan perlu ditakuti, mengingat Raf yang sudah sangat setia kepadanya selama lima tahun belakangan ini, ibu hamil itu selalu percaya bahwa hati dan cinta suaminya hanya miliknya seorang.
"Lalu apa rencanamu?" Karina menatap rekan kerja yang juga sudah ia anggap sebagai sahabatnya.
"Rencanaku? tentu saja membuka matanya bahwa aku adalah satu-satunya wanita yang dicintai oleh suamiku!" dengan percaya diri Menta mengibaskan rambutnya yang tergerai.
"Hanya itu?" Rini tidak yakin dengan rencana Menta.
__ADS_1
"Tentu saja, memang apa lagi?" angguknya dengan yakin.
"Dan untuk suamiku tersayang, ingat ya kalau sedang didepan dia kau harus tunjukkan sikap bucinmu kepadaku!" Menta merangkul leher Raf dengan mesra.
"Dengan senang hati permaisuri hatiku" balas Raf dengan merangkul pinggang sang istri sambil memagut bibir itu dengan lembut.
"Heyyyy, kalian ini kenapa malah jadi mesum sih? mau bikin kami semua iri ya!?" Rich kesal melihat pasangan itu yang malah mengumbar kemesraan didepan banyak orang.
"Makanya cepatlah kalian semua menikah, kan sudah genap tuh masing-masing!" kata Raf sengaja memancing ketiga pasangan yang masih pada saling tarik ulur.
"Maunya sih begitu tuan, tapikan pujaan hatiku masih belum mau!" kata Haris sambil menatap Rini.
"Iya, aku juga sudah tidak sabar ingin seperti kalian, tapi apa daya gadis yang aku cinta belum meresponku sama sekali!" Burhan ikut curhat tentang hubungannya dengan Karini
"Kita bertiga senasib bro" Rich pun menatap ke arah Runi dengan perasaan sedih.
"Karina, Rini, kalian juga lebih baik tinggal di sana saja agar bisa membantu Menta mengawasi gadis itu!" kata Runi lagi.
"Oke baiklah kalau begitu" Karina mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita ambil baju ganti dulu" kata Rini kepada Karina dan kemudian masuk ke dalam kamarnya.
..........
"Tuan Raf, apa aku bisa minta tolong?" Clara mendekati Raf yang sedang duduk di ruang TV setelah mandi sore.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Raf dengan mode was-was.
"Kran di kamar mandiku sepertinya bermasalah karena airnya tidak mau keluar, aku tidak tau cara membetulkannya" kata gadis itu dengan sok manis.
"Oh begitu ya, kalau begitu biar aku panggilkan Haris dan Burhan dulu ya" Raf yang tidak mau terjadi salah paham lagi seperti kemarin mencoba mencari bantuan.
"Eh tidak usah, aku rasa tuan sendiri juga bisa, ayo coba lihat ke dalam kamarku dulu" kata Clara sambil menahan tangan Raf yang hendak pergi.
"Tapi aku sungguh tidak bisa" Raf bertahan dengan pendiriannya.
"Sayang ada apa?" Menta yang melihat gelagat mencurigakan dari Clara langsung mendekat.
"Ini sayang, kran di kamar nona Clara rusak, jadi aku mau panggilkan Haris dan Burhan untuk membantunya" kata Raf sambil menghempaskan tangan Clara dan kemudian meraih pinggang sang istri dengan mesra.
"Oh ya sudah sana panggilkan, biar aku yang menemani nona Clara di sini" kata Menta sambil bergelayut manja pada sang suami.
"Baiklah, sebentar ya sayang" Raf sengaja mengelus pipi Menta dengan mesra dihadapan Clara untuk membuat gadis itu kesal.
"Eh tidak usah tuan Raf, aku coba betulkan sendiri saja kalau begitu" kata Clara pada akhirnya.
"Loh tidak jadi dibetulkan?" Menta pura-pura bingung.
"Tidak usah, nanti malah merepotkan semua orang, nanti kalau tidak bisa juga aku mandi di tempat lain saja" karena merasa gagal membujuk Raf datang ke dalam kamarnya, gadis itu kemudian memilih untuk membatalkan niatnya.
"Ya sudah, kalau begitu ayo sayang kita masuk ke dalam kamar saja" Raf pun kemudian mengajak Menta dengan lembut.
__ADS_1
"He em, ayo" ibu hamil itu juga berakting manja kepada sang suami dengan sangat bagus, membuat Clara benar-benar terbakar cemburu olehnya.