Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Drama Ngidam Dimulai


__ADS_3

"Pa bangun, mama lapar" setelah sepanjang pagi hingga siang hari Menta merasakan mual berkepanjangan akibat morning sickness, kini ia merasa sangat lapar dan ingin sekali makan makanan enak dengan ditemani oleh suaminya.


"Emmmhhhhh ada apa ma?" Raf yang sangat lelah karena sepanjang hari melakukan kegiatan lapangan di luar kantor, hanya menggeliat saja tanpa membuka matanya.


"Mama lapar, temenin mama makan yuk pa" kata Menta lagi.


"Ini kan masih malam ma, kok tumben sih mama makan jam segini?" bukannya merespon sesuai harapan sang istri, Raf justru seolah-olah ogah-ogahan.


"Mama juga gak tau pa" mama Raguel jadi sebal dengan reaksi suaminya yang terkesan cuek.


"Zzz.. Zzz.." hanya suara dengkuran yang kemudian terdengar dari Raf. Pria itu memang benar-benar kelelahan setelah beberapa hari bekerja sepanjang waktu di lapangan terbuka yang sangat panas terik dan berpolusi. Ditambah lagi saat ini performa Rich sang adik sepupu yang tidak lain adalah rekan kerjanya sedang menurun drastis dikarenakan masalah pribadinya dimasa lalu, sehingga mau tidak mau Raf lah yang harus mengambil alih tugas Rich tersebut.


"Isshhhh dasar papa nyebelin!" Menta menggerutu karena suaminya malah kembali tertidur nyenyak dan tidak menghiraukannya. Terpaksa ibu hamil itu pun ke dapur seorang diri untuk mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya.


..........


"Ma, kok papa gak dibangunin sih?" Raf yang terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi bertanya kepada sang istri, namun yang ditanya tidak menjawabnya.


"Ma, kok diem aja?" Raf bertanya kembali. Alih-alih menjawab, Menta malah berjalan ke luar kamar dan membanting pintunya.


"Kenapa sih dia?" Raf berpikir keras.

__ADS_1


"Astaga! jangan-jangan yang semalam itu bukan mimpi lagi!" ia baru tersadar jika semalam Menta membangunkannya untuk minta ditemani makan.


"Dasar bodoh kau Raf! habislah kau sekarang!" memaki diri sendiri sambil menepuk dahinya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Raf kemudian bergegas untuk mandi dan berpakaian kerja karena ia sudah sangat terlambat.


"Ma, maafin papa ya" pria yang baru selesai mandi itu memeluk pinggang istrinya dari belakang saat Menta sedang mengganti celana Raguel di meja popoknya.


"Ck, sana pergi!" Menta hanya berdecak sambil menyikut perut suaminya.


"Sayangggg jangan ngambek dong, semalam papa capek banget sampai-sampai gak sadar pas mama bangunin mama" ia mencoba memberi pengertian.


"Tau ah sebel!" kemudian Menta mendorong Raf menjauh.


"Papa janji deh nanti malam akan bangun nemenin mama makan, apa pun yang mama minta papa pasti nurut!" merayu sang istri agar tidak marah lagi.


"Sayangggggg" masih terus mencoba merayu sambil memeluknya lagi, namun kini dari depan.


"Huekkk, huekkkk" Menta mual-mual.


"Mama masih mual ya?" kini wajah Raf menjadi cemas.


"Iya, mama mual lihat muka papa, udah sono papa berangkat kerja aja biar mual mama sembuh!" menjawab dengan ketus.

__ADS_1


"Ya sudah deh, kalau begitu papa berangkat kerja ya ma" dengan berat hati dan rasa bersalah, akhirnya Raf pun berangkat ke kantornya.


..........


"Kau baru saja datang Raf?" Dimas yang hendak masuk ke ruang rapat bersama Gamal dan Gide kemudian bertanya saat melihat Raf berjalan dengan gontai sambil menjinjing tas kerjanya.


"Iya kak" jawabnya lesu.


"Kau kenapa? apa ada masalah?" Gide yang berdiri di samping Dimas mengernyitkan dahinya melihat tampang Raf yang lesu.


"Menta sepertinya mulai drama ngidam lagi nih" Raf kemudian menjelaskan kronologinya.


"Wahhhh kau harus siap mental tuh!" Gamal membayangkan bagaimana dulu dirinya menderita karena ngidam sang istri yang aneh-aneh.


"Bisa tidak sih di skip saja itu acara ngidamnya? langsung lahiran saja deh!" Raf bergidik mengingat kembali bagaimana drama yang pernah ia alami saat istrinya hamil Raguel beberapa bulan lalu.


"Nikmati saja, jangan dibuat beban bro" Gide sok bijaksana, padahal dulu dia juga sangat uring-uringan saat menghadapi istrinya sendiri.


"Anggap saja kau sedang menikmati bunga dari investasi yang sudah kau tanam hehehe" Gamal menggodanya.


"Yang sabar ya, semoga saja dramanya tidak berkepanjangan" Dimas kemudian menepuk bahu saudara iparnya itu untuk memberikan dukungan moral.

__ADS_1


"Huffffffff" sementara Raf hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat.


__ADS_2