
Setelah mendengar kabar kehamilan Menta, baik keluarg besar Anderson maupun Putra Angkasa langsung berbondong-bondong untuk datang ke desa menengok calon cucu baru mereka.
"Mama, bunda?" Menta terkejut ketika kedua ibunya berdiri di depan pintu rumah.
"Sayang" Tata yang sangat bahagia mendengar kabar bahwa sang putri sedang mengandung langsung memeluknya.
"Maaaa" Menta selalu bahagia bila bisa melihat orang yang ia sayangi berada di dekatnya.
"Bagaimana kabarmu?" sang mama membelai kepala putrinya dengan lembut.
"Baik ma" jawab Menta sambil tersenyum.
"Sayang" kini giliran Ananda yang memeluk menantunya.
"Bunda" balas Menta.
"Cucu grandma nakal tidak?" Ananda mengelus perut Menta.
"Tidak grandma" jawab ibu hamil itu dengan suara anak kecil yang mengundang gelak tawa seluruh keluarga.
Setelah temu kangen dengan cara berpelukan, mereka semua kemudian berkumpul di ruang TV yang besarnya seperti aula serba guna. Karena rumah yang ditempati Raf dan Menta adalah sebuah paviliun desa dengan bangunan sederhana namun luas dan besar, maka seluruh keluarga besar dari dua kerajaan bisnis itu cukup bisa tertampung.
"Sayang kau tidak makan? itu sayurnya sudah dingin loh!" Raf mengingatkan istrinya.
"Tidak, aku tidak suka sayurnya!" Menta langsung mual membayangkan aroma dan bentuk sayur sup yang dimaksud.
"Kok tumben sih? biasanya kan kau paling suka makan sayuran seperti itu!" Raf sangat heran.
"Aku mual mau muntah kalau mencium aromanya!" Menta merengek kepada sang suami.
"Lalu kalau kau tidak makan nanti adiknya Junior makan apa? nanti kau juga bisa sakit sayang!" bujuk Raf.
"Aku mau makan pakai ikan bakar, tapi ikannya harus hasil mancing sendiri di danau depan balai desa!" Menta menatap sang suami.
__ADS_1
"Sayang, kau tau kan kalau suamimu ini tidak jago memancing? kalau nanti aku mancing tapi tidak dapat-dapat juga bagaimana?" pria tampan itu secara tidak langsung menolak halus permintaan istrinya.
"Ya sudah kalau kau tidak ikhlas, aku tidak usah makan saja!" ibu hamil merajuk kepada sang suami.
"Bukan begitu sayang, tapi aku kan memang tidak jago memancing, aku hanya khawatir saja kalau sampai tidak dapat" Raf mulai takut-takut sang istri murka.
"Raf, kau itu sebagai suami harus menuruti semua kemauan istrimu saat ia sedang hamil!" Ananda menasehati putranya.
"Tapi aku tidak bisa mancing bun" Raf menatap sang bunda dengan memohon.
"Mommy punya akal, bagaimana kalau kau memancingnya dibantu para grandpa dan om-om semua?" Ayu memberi usul.
"Ide yang bagus, kenapa tidak sekalian saja kita bikin lomba memancing? jadi semua laki-laki kita suruh untuk ikut, pasti seru deh!" Maya berbinar-binar.
"Wahhh keren, aku setuju!" Tata yang selama ini hanya mendengar ngidam anehnya para wanita di keluarga Anderson yang mengerjai para suami mereka, kini merasa antusias melihat kejadian langka para suami itu dijahili oleh istri-istrinya.
"Papa ikutan juga ya!?" Dini menatap suaminya.
"Harus, semua laki-laki tanpa terkecuali!" Sekar juga ikut ikutan.
"Benar, nanti kita lihat siapa yang paling jago!" timpal grandma Merlyn.
"Tapi kita kan tidak ada alat pancingnya" kata Sera.
"Tenang kak, pak kepala desa pasti bisa membantu kita meminjam dari warga. Kalau begitu aku ke rumah pak kepala desa dulu deh buat pinjam alat pancing dari warga sekitar!" Runi juga tidak kalah semangatnya.
"Aku ikut dong Runi" Rach berdiri dengan semangat.
"Tunggu, aku juga ikut!" Gaby yang tidak sabar melihat para pria itu memancing juga bersemangat.
Tanpa menunggu lama kemudian Runi, Rach, Gaby dan Sera pun berangkat ke rumah kepala desa untuk meminjam alat pancing. Sementara para suami hanya bisa saling tatap satu sama lain sambil menelan saliva mereka karena tidak berani melawan kemauan sang istri. Meskipun di perusaan pria-pria itu adalah pemimpin dan petinggi yang selalu disegani oleh para bawahannya karena sangat berwibawa dan berkharisma, namun dimata istri masing-masing mereka layaknya anak kucing lucu yang siap mengikuti semua permainan istrinya itu.
..........
__ADS_1
"Ahhhhh kenapa sih umpanku hilang terus!" gerutu Ron saat mata pancingnya diangkat kepermukaan.
"Karena ikannya tau kalau kau bodoh!" ejek Mike.
"Brisik sekali sih kalian, ikannya jadi takut tau!" George menghardik kedua besannya.
"Ini bagaimana sih Hendro?" Surya yang bingung menarik pancingannya yang termakan oleh ikan bertanya kepada bawahan sekaligus sahabatnya itu.
"Adhi tolong bantu, aku juga tidak tau tuan!" Hendro malah minta bantuan Adhi.
"Aku juga tidak tau" Adhi yang sama tidak mengertinya hanya mengangkat bahu.
"Woyyyyy kalau mau angkat ikannya bilang-bilang dong, nyiprat semua nih airnya kewajahku!" gerutu Gamal kepada Gide sang adik.
"Maaf aku tidak sengaja heheheheh" kekeh Gide yang berhasil mendapatkan ikan perdana mereka.
"Heyyy jangan berkelahi, lihat itu umpanmu dimakan!" Dimas menegur Gamal.
"Ck ini kenapa jadi heboh begini sih? yang menanam saham kan kau, kenapa jadi kami semua yang kena imbasnya!?" Rich menggerutu kepada kakak sepupunya.
"Ya mana aku tau, ini kan bukan kemauanku, aku pun menjadi korban juga!" Raf merasa bahwa beberapa bulan kedepan hidupnya pasti akan naik turun seperti roller coaster.
Sepanjang waktu memancing, kegaduhan pun terjadi diantara para petinggi perusahaan itu. Tidak adanya pengalaman memancing membuat mereka semua dibuat kewalahan oleh sang ibu hamil.
"Demi putra mahkota dua kerajaan bisnis!" begitulah yang selalu dikatakan oleh duo grandma agar para pria tetap bersemangat tanpa mengeluh, meskipun cuaca sangat panas menyengat dan mereka menjadi tontonan para warga yang antusias.
....................
Yuhuuuuuuu... yukkkkkk komen, habis ini mau ngidam apa lagi???? untuk novel yang ini karena personilnya benar-benar lengkap, maka mari kita kerjain bapak-bapak kece itu biar jadi anggota DKI alias dibawah ketiak istri... heheheheheh...
Jangan lupa juga buat like, komen, hadiah, favorit, vote, share, dan follow Rosi Lombe.. Trus buat yang ada ide visualnya Menta, Raf, Runi, dan Rich juga boleh kasih saran ya..
Last but not least,,,
__ADS_1
Happy reading ya guyssss...
Luv luv...