
"Wajahmu kenapa murung begitu?" tanya Runi saat Menta dan cucu-cucu perempuan Anderson yang lainnya sedang mengunjungi rumah ibu hamil itu.
"Aku lagi sebal sama papanya Raguel" gerutu Menta.
"Memangnya kau sebal kenapa?" Sera menatap wajah saudara iparnya.
"Dia tidak mau punya anak lagi, padahal aku ingin sekali punya satu lagi anak perempuan" mengadu kepada saudara iparnya.
"Apa alasannya dia tidak mau?" Rach penasaran.
"Katanya dia takut kalau aku nanti kritis lagi seperti saat melahirkan Junior dan Raziel" menjelaskan alasan Raf menolak Menta hamil lagi.
"Hemmm agak sulit ya kalau ini!?" kata Gaby sambil menunjukkan wajah berpikir keras.
__ADS_1
"Kok sulit? kenapa memangnya?" Menta mengernyitkan dahi.
"Disatu sisi kau ingin punya anak itu tidak salah, artinya nalurimu sebagai seorang wanita dan seorang ibu sangat kuat. Sementara disisi lain Raf yang takut kau kritis juga tidak salah, karena artinya dia sangat mencintaimu dan tidak mau kau kenapa-kenapa!" jawab Gaby secara diplomatis.
"Iya sih kak, itu semua memang benar, dia memang bilang alasannya karena tidak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpaku!" jawab Menta.
"Apa kau sudah bicarakan ini baik-baik dengan kak Raf dan mencari solusinya? seperti misalnya mengajak dia berkonsultasi kepada ahli kandungan?" Runi kembali berbicara.
"Belum, setiap kali aku membahasnya dia selalu memasang wajah serius yang belum pernah aku lihat sebelumnya dan ia juga seperti tidak mau dibantah" Meskipun Menta bisa saja membantahnya, namun ia tetap menghargai suaminya dan tidak mau memancing keributan dalam rumah tangganya.
"Benar, dulu dia juga pernah begini waktu bunda melarangnya berpacaran dengan Paula, lalu waktu kau pergi meninggalkannya ke luar negeri untuk kuliah, dia langsung berubah seperti pribadi yang berbeda" Sera yang mengenal karakter kakak kandungnya menjelaskan.
"Lalu aku harus bagaimana dong?" Menta sungguh-sungguh ingin punya anak perempuan.
__ADS_1
"Begini saja, coba beri dia waktu, mungkin saat ini rasa takut karena kau sempat kritis benar-benar masih sangat melekat diingatannya. Kau bisa tunggu dua atau tiga tahun lagi, biarkan Raf pelan-pelan melupakannya, nah baru habis itu bisa dibahas lagi" kata Gaby menasehati.
"Benar, Lagian kau kan juga masih baru melahirkan, Raziel saja masih berusia dua bulan, jadi aku rasa masih terlalu cepat juga untuk punya anak lagi" angguk Sera setuju.
"Iya, sekarang lebih baik kau fokus sama Raguel dan Raziel dulu, sambil pelan-pelan mengobati traumanya kak Raf" Rach juga mendukung.
"Lagi pula apa kau nanti tidak kewalahan kalau harus menyusui tiga bayi kecil dan satu bayi besar dalam waktu yang bersamaan?" Runi menggoda Menta agar suasana mencair.
"Hahahahahahaha" gelak tawa pun pecah mendengar ucapan Runi.
"Bersabarlah sejenak, kau kan juga perlu mempersiapkan fisikmu dulu untuk kehamilan berikutnya" Karena pernah hamil dan melahirkan dalam kondisi yang tidak baik, Gaby pun kemudian memberi penguatan kepada adiknya.
"Aku rasa sesungguhnya kak Raf juga pasti ingin punya anak perempuan, hanya saja dia masih trauma" Rach menunjukkan wajah serius.
__ADS_1
"Iya, sama Diva, Syeba, Cilla dan Chela saja dia sangat sayang, apalagi sama anak kandung sediri coba?" Sera bertestimoni.
"Huffff baiklah" mendengar nasehat dari semua saudara perempuannya membuat Menta berfikir ulang tentang rencananya. Ia akan bersabar sejenak, bahkan jika memang benar-benar tidak bisa, maka dia tidak akan memaksa lagi karena alasan Raf memang sangat masuk akal.