
"Hwaaaaaaaaa hwaaaaaaaa hwaaaaaaaaa" tangisan Raguel terdengar membahana di seluruh penjuru rumah Asti.
"Kak Menta, Raguel nangis tuh" Bas memberi kode kepada sang kakak yang duduk terpisah di ujung ruangan.
"Sama siapa dia?" tanya Menta.
"Sama papanya, lagi jalan kesini" Adit menimpali.
Hwaaaa mamamamamama" bayi yang sedang di gendong papanya itu langsung menunjuk sang mama yang ada di dalam ruangan.
"Kenapa Raguel menangis?" Menta bertanya dengan lembut kepada sang putra sambil meletakkan tas besar yang sejak tadi dipangkunya agar bisa menggendong bayi lucunya itu.
"Mimimimimik" meskipun belum bisa bicara, namun bayi itu sudah bisa menyebutkan keinginannya.
"Raguel haus? mau minum susu?" kemudian Menta pun mengambil sang putra dari suaminya.
"Mimimimimik" kata Raguel lagi sambil menunjuk dada sang mama.
"Sebentar ya, mama pasang apronnya dulu" dengan cekatan Menta mengambil apron menyusui dari dalam tas besar miliknya yang berisi barang-barang keperluan sang putra.
"Hwaaaaaaa papapapapapapa" Raguel kembali menangis saat melihat Raf yang hendak berjalan keluar ruangan.
"Loh tadi katanya mau minum susu sama mama?" Raf berhenti dan berkata kepada sang putra.
"Papapapapapa" Raguel tidak mau ditinggal oleh Raf.
__ADS_1
"Raguel mau sama mama atau sama papa?" Menta bertanya kepada sang putra.
"Mimimimimimik papapapapa" jawab putranya.
"Raguel minum susu dulu sama mama ya, nanti kalau sudah selesai baru papa gendong lagi oke?" Raf menasehati putranya yang sudah sangat pintar itu.
"Hwaaaaaaaa nonononono" tangisnya sambil memberontak-berontak dipangkuan Menta.
"Iya, ya sudah ayo sama papa lagi, tapi jangan tendang-tendang perut mama ya, kasihan dedeknya tuh!" Raf pada akhirnya kembali menggendong Raguel lagi.
"Mimimimimik papapapapa" kata bayi itu.
"Gimana caranya sama papa? kan mama yang punya!" Raf selalu saja dibuat gemas oleh ulah jagoan ciliknya itu.
"Bas, Adit, kalian pindah gih, biar kak Menta dan kak Raf bisa duduk bareng, Raguel mau minum tuh!" Runi yang paham tabiat Raguel langsung meminta dua ABG itu pindah duduk. Akhirnya setelah tukar posisi pun, Menta dan Raf kemudian bisa duduk bersama dan Raguel bisa minum ASI mamanya dengan tetap didampingi oleh sang papa.
"Ya ampun, gemes banget sih Raguel, mau nyusu aja harus sama papanya segala!" Asti yang sejak tadi mengamati interaksi ketiga orang ini langsung berkomentar.
"Raguel tuh anak papanya, dia inget sama mamanya cuma kalau haus doang!" jawab Runi yang sangat akrab dengan ibu dan anak itu.
"Deket banget ya sama papanya?" tanya Asti lagi.
"Banget tante, makanya kalau papanya baru pulang kerja tuh gak bisa langsung ketemu, harus ngumpet-ngumpet dulu masuk rumahnya, soalnya kalau langsung ngeliat papanya sudah gak bisa ngapa-ngapain lagi, harus gendong dan main terus sampai nanti waktunya tidur malam, jadi papanya gak bisa mandi, kalau ditinggal mandi tuh nangis kayak orang kesurupan, makanya sebelum ketemu sama Raguel, papanya harus sudah bersih-bersih dulu" jelas sang ibu hamil.
"Ya ampunnn sebegitu sayang sama papa ya Raguel?" Asti semakin dibuat gemas.
__ADS_1
"Kalau pagi juga gitu, papanya harus berangkat sebelum dia bangun, atau kalau sudah bangun harus ngumpet-ngumpet berangkatnya, kalo enggak bisa nangis sepanjang pagi dia ditinggal papanya ke kantor" imbuh Menta lagi.
"Uhhh so sweet banget ya Raguel sama papanya" Asti geleng-geleng kepala.
"Sekarang Raguel sudah berapa bulan sih umurnya?" Asti sangat antusias.
"Aku sudah sepuluh bulan grandma" jawab mama Raguel mewakili anaknya.
"Kalau adiknya?" sambil menunjuk perut Menta.
"Delapan bulan" kembali menjawab.
"Jadi jaraknya hanya kosong dua bulan ya?" Asti menghitung waktu kehamilan Menta.
"Iya" angguk ibu hamil itu.
"Tokcer juga ya kalian hehehehe" Asti terkekeh.
"Biasalah tante, gaspol terus mereka" Runi nyeletuk menggoda Menta.
"Ishhh sok tau banget!" Menta jadi malu karena digoda oleh sahabat yang sudah dianggap saudara sendiri itu.
"Gapapa gaspol, biar capeknya sekalian, nanti kalau sudah besar kan jadi enak" kata Asti.
"Iya tante, mudah-mudahan" angguk sang ibu hamil.
__ADS_1
Obrolan seputar Raguel dan kehamilan Menta pun terus berlanjut sambil menunggu kedatangan calon pengantin pria. Sementara itu Beni yang baru tau bahwa ternyata Menta sudah menikah dan punya anak pun hanya bisa diam tertegun dalam kekecewaan menyaksikan adegan keluarga bahagia didepan matanya. Ia tidak mengira bahwa wanita yang baru saja mencuri hatinya itu ternyata sedang berbadan dua, karena sejak tadi perut Menta terhalang oleh tas besar yang ada dipangkuannya, plus ibu hamil tersebut juga mengenakan selendang yang menutup seluruh tubuhnya dengan sempurna.
"Andaikan aku mencari informasi tentang Menta sejak dulu dimedia sosial, mungkin sekarang dia sudah menjadi milikku" tak ayal rasa sesal itu pun begitu kian membuncah di hati Beni, karena sejak kecil ia tau bahwa karakter Menta memang sangat manis, sementara itu karakternya sendiri terkenal sangat cuek serta terkesan jauh dan menarik diri dari keluarga besar. Biasanya ia hanya akan mau berkomunikasi dengan orang-orang tertentu saja yang dianggapnya dekat dan penting, sementara orang yang jarang ditemuinya sering kali diabaikan, termasuk salah satunya adalah Menta yang baru saja ia sapa kembali hari ini setelah belasan tahun silam mereka berpisah.