
"Kakak sudah pulang?" Tata yang melihat putri sulungnya baru turun dari mobil menyapanya.
"Iya ma" jawab gadis itu sambil tersenyum untuk menutupi rasa sedihnya.
"Apa tadi ketemu dengan Raf?" tanya sang mama.
"He em, tadi setelah memberikan dokumennya kakak langsung pulang" angguknya sambil menjelaskan.
"Oh" Tata hanya ber oh ria saja.
"Kakak masuk ke kamar dulu ya ma" tanpa menunggu jawaban dari sang mama, Menta pun langsung berjalan menuju tangga lantai dua.
"Sepertinya ada yang aneh" Tata yang sudah paham dengan sikap sang putri mengernyitkan dahi lalu mengikutinya dari belakang.
Tok Tok Tok,,,
"Kak, mama boleh masuk tidak?" Tata bertanya dulu sebelum masuk.
"Iya ma, boleh silahkan" jawab gadis itu.
"Kakak sedang apa?" sang mama duduk di sebelah Menta yang sudah memegang buku latihan ujian masuk pergurun tinggi.
"Belajar ma" katanya sambil menunjukkan buku latihannya.
"Apa mama bisa bicara sebentar sama kakak?" Tata sangat berhati-hati.
"Boleh dong, masa enggak heheheh" ia berusaha senormal mungkin.
__ADS_1
"Kakak sedang ada masalah ya?" tatapan sang mama seperti bisa menembus hati dan pikiran Menta.
"Enggak kok ma, kata siapa?" namun gadis itu berusaha berkilah.
"Kak, mama ini yang melahirkan kakak, mama juga yang membesarkan kakak, jadi mama sedikit banyak tau apa yang sedang kakak rasakan" kata mama sambil menggenggam tangan sang putri.
"Ma,," Menta tidak bisa berbohong dari sang mama lagi.
"Hiks hiks hiks" tangisnya pun pecah dipelukan Tata.
"Sayang, anak mama" Tata berusaha menenangkannya dengan mengelus kepala gadis itu dengan lembut. Cukup lama Tata membiarkan Menta menangis hingga puas.
"Ma, apa kakak boleh hidup normal lagi?" pertanyaan meluncur dari bibir Menta.
"Maksud kakak?" Tata belum mengerti arah pembicaraan sang putri.
"Memangnya kakak mau hidup yang seperti apa?" tanya Tata dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Kakak mau fokus kuliah di luar negeri jurusan kedokteran tanpa terikat status apapun dengan siapapun ma" Menta merengek layaknya anak kecil di pelukan sang mama.
"Bukannya sekarang mama dan papa sudah kembali, artinya kakak sudah bisa kan berpisah sama kak Raf? kakak bisa kan mengejar cita-cita kakak lagi seperti harapan kakak dulu?" tatapan memelas gadis itu membuat hati sang mama hancur.
"Apa kakak yakin mau berpisah dari Raf? memangnya kakak tidak menyukainya?" sang mama mencoba menelisik kejujuran hati gadis itu.
"Pernikahan kami kan terjadi bukan berdasarkan saling cinta ma, kak Raf kan menikahi kakak hanya untuk membantu melawan paman Tyo saja, lagi pula kak Raf sudah punya kekasih yang sangat dia cintai, jadi kakak tidak mau menghalangi mereka. Bagi kakak, bisa melihat mama dan papa kembali dengan selamat saja itu sudah lebih dari cukup!" Meskipun sesungguhnya ia berat untuk melepaskan Raf, namun dengan tetap menahannya tanpa ada rasa cinta di hati Raf untuk dirinya pun sama saja tidak akan membuat hidupnya bahagia. Cara yang paling baik adalah dengan berpisah dan pergi jauh dari pria itu. Dengan berjalannya waktu Menta berharap akan bisa menemukan sesorang yang mampu menggantikan Raf di hatinya.
"Baiklah, kalau itu memang keputusan kakak, mama akan bicarakan dengan papa ya" Tata mengecup kening sang putri.
__ADS_1
"Terima kasih ma" Menta tersenyum lega.
..........
"Pa" Tata yang sudah keluar dari kamar sang putri kemudian menghampiri suaminya yang duduk di taman belakang sambil membaca berkas laporan dari anak buahnya.
"Ya ma" Surya menoleh ke arah sang istri.
"Mama mau bicara sama papa sebentar" Tata menatap mata suaminya dengan dalam.
"Ada apa ma, kok sepertinya serius sekali?" pria itu kemudian meletakkan berkasnya.
"Ini tentang kakak, tadi mama ngobrol sama kakak, lalu dia bilang kalau ingin melanjutkan kuliahnya di luar negeri jurusan kedokteran. Kakak juga bilang kalau dia ingin berpisah dari Raf karena kita sudah kembali!" Tata kemudian menceritakan secara detail semua isi hati sang putri kepada suaminya itu.
"Hemmmm" Surya masih mencerna semuanya.
"Apa tidak sebaiknya kita ikuti maunya kakak pa? selama ini dia sudah cukup menderita dan banyak berkorban demi kita, kasihan jika kita terus memaksakan kehendak kita kepadanya, mama khawatir psikisnya akan terguncang!" Tata berusaha membujuk Surya.
"Tapi bagaimana dengan nasib perusahaan kita nanti kalau kakak tidak meneruskannya ma?" Surya masih merasa berat.
"Kita masih punya Bas pa, papa kan tau sendiri bagaimana Bas begitu antusias dengan bisnis papa, kita bisa mengandalkannya kelak!" jawab sang istri.
"Benar pa, kasihan kakak, selama ini kakak sudah sangat menderita dan sedih karena kehilangan mama dan papa, ditambah ulah paman Tyo yang membuat kakak terpaksa harus menikah tanpa rasa cinta!" Bas yang secara tidak sengaja pernah mendengar obrolan Menta dan Runi tentang kisah cinta Raf dan Paula merasa kasihan dengan nasib sang kakak.
"Biarkan kakak meraih cita-citanya pa, Bas janji, kelak Bas akan belajar dengan tekun dan menjadi penerus papa di perusahaan!" bocah itu berkata dengan sungguh-sungguh.
"Hufffff baiklah kalau begitu!" Meskipun dengan berat hati, namun Surya pada akhirnya membiarkan Menta melakukan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
"Terima kasih pa" Tata dan Bas memeluk Surya sebagai ungkapan rasa bahagia mereka untuk Menta.