Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Klarifikasi


__ADS_3

"Sayang" Raf menarik tubuh polos sang istri ke dalam dekapannya setelah pertempuran mereka selesai.


"Hemmm?" Menta yang sudah kelelahan hanya bisa pasrah merangsek dipelukan sang suami.


"Kalau aku mau dengar cerita tentang anak kita, kau keberatan tidak?" Raf bertanya dengan ragu-ragu, ia takut melukai hati sang istri lagi.


"Hemmmm gimana ya!?" Menta menjawab sambil berpura-pura berfikir.


"Ya sudah tidak apa-apa, tidak usah saja" kata Raf, ia tidak mau memaksa Menta untuk mengingat-ingat masa kelamnya lagi.


"Aku mau cerita tentang anak kita kalau kakak mau lebih dahulu menceritakan kisah hidup kakak setelah kita berpisah dulu, kenapa kakak sampai putus dengan kak Paula dan memilih menyendiri hidup di penthouse?" sesungguhnya sudah sejak lama Menta ingin bertanya kepada sang suami alasan sesungguhnya kenapa pada akhirnya Raf lebih memilih memutuskan Paula dan hidup melajang hingga mereka bertemu kembali.


"Memangnya perlu aku jelaskan lagi? kan sudah jelas karena aku sangat mencintaimu!" Raf menarik dagu sang istri agar wajah mereka saling berhadapan.


"Iya aku tau itu, tapi kenapa kau jadi berubah pikiran? bukankah sebelumnya kau sangat cinta mati pada kak Paula?" jawaban Raf sama sekali tidak membuatnya puas.


"Bukankah dulu aku sudah pernah cerita padamu kalau sesungguhnya aku mendekati Paula karena secara fisik ia sangat mirip dengan kak Gaby!?" Raf mengecup bibir Menta.


"Iya, lalu?" Menta tidak sabaran.


"Jadi setelah aku lebih mengenalmu dan kita banyak mengobrol malam itu setelah kita berhubungan, aku baru sadar kalau ternyata rasa sukaku pada Paula hanyalah sebuah obsesi, aku tidak benar-benar mencintainya, karena yang aku lihat pada dirinya hanyalah wajah kak Gaby saja. Justru saat aku berada didekatmu aku merasa nyaman, apalagi setelah kita melakukannya untuk yang pertama kalinya, aku merasa bahwa hatiku sudah benar-benar menjadi milikmu. Hanya saja waktu itu aku sangat bodoh karena gengsiku terlalu besar, aku malu mengakui cintaku padamu, dan yang lebih parahnya kau malah memergoki aku dan Paula sedang bermesraan, jadi aku memutuskan untuk hidup sendiri dan membiarkanmu pergi mengejar mimpimu itu!" jelas Raf dengan jujur dan apa adanya.

__ADS_1


"Hemmmm begitu ya?" Menta memutar bola matanya sejenak.


"Iya, sekarang ceritakan tentang anak kita!?" Raf penasaran.


"Tunggu, aku kan belum selesai bertanya!" kata Menta lagi.


"Mau tanya apa lagi?" kecupan demi kecupan mendarat di bibir Menta.


"Kenapa kakak waktu itu pindah ke penthouse?" Menta seperti seorang wartawan gosip yang mengorek info dari narasumbernya langsung.


"Karena terlalu banyak kenangan tentang dirimu di rumah ayah dan bunda, apalagi di kamar kita, aku merasa sangat kesepian jika harus tidur seorang diri di tempat tidur kita" pria itu memang sudah kecanduan dengan istrinya.


"Benarkah?" Menta menatap wajah sang suami untuk menyelidikinya.


"Uhhhh kasihan sekali sih suamiku ini" kini Menta yang mengecup bibir sang suami secara bertubi-tubi.


"Tapi sekarang aku sudah bahagia kok, kan istriku sudah kembali dan mengakui cintanya padaku heheheheh" Raf terkekeh.


"Ishhhh geer sekali, memangnya siapa yang mengakuinya?" Menta sok jual mahal.


"Ya istriku tercinta lahhhhh, siapa lagi memangnya?" tuan muda dingin itu kini benar-benar sudah berubah drastis.

__ADS_1


"Sekarang ceritakan padaku bagaimana denganmu selama kita berpisah?" Raf kemudian melanjutkan pertanyaannya yang tertunda.


"Hemmmm, jadi sebenarnya waktu aku pergi ke luar negeri aku belum tau kalau sedang mengandung, aku baru tau saat usia kehamilannya mencapai tiga bulan. Saat itu hampir setiap pagi aku selalu morning sickness, aku pikir mungkin karena cuaca dingin dan sedang musim salju, jadi aku hanya meminum obat flu saja. Namun setelah aku menghitung periode datang bulanku, aku baru menyadari kalau aku sudah terlambat beberapa bulan, kemudian aku memeriksakan diri ke rumah sakit, dan benar saja ternyata aku hamil" tatapan Menta menerawang.


"Dokter bilang bahwa kandunganku sangat lemah, ditambah lagi usiaku masih sangat muda, ada kemungkinan resiko melahirkan prematur atau bahkan anaknya bisa cacat. Waktu itu sang dokter menyarankan aku untuk bed rest beberapa saat sampai bayinya kuat. Aku mengikuti semua saran dokter demi bisa menyelamatkan nyawanya, namun takdir berkata lain, Junior meninggal seminggu setelah dilahirkan secara prematur dengan cara operasi. Ia memiliki kelainan bawaan yang membuatnya tidak bertahan" Menta menjelaskan dengan wajah sedih.


"Lalu bagaimana dengan kondisimu sendiri saat melahirkan?" Raf penasaran dengan keadaan Menta yang dikatakan sempat kritis.


"Aku sempat kritis selama dua hari, kata dokter tubuhku belum siap untuk hamil mengingat usiaku yang masih muda" jawabnya lagi.


"Kenapa kau tidka mengabari aku?" Rasa bersalah menghinggapi Raf.


"Aku pikir saat itu kakak sudah menikah dan hidup bahagia dengan kak Paula, jadi aku memang sengaja tidak membiarkan siapapun untuk memberitahu kakak" katanya.


"Memangnya mama dan papa tidak menceritakan kondisiku kepadamu?" Raf sangat menyesal.


"Tidak, aku memang sengaja menutup semua akses informasi tentang kakak, jadi aku selalu menolak mendengar apapun kabar tentang kakak" geleng Menta.


"Maaf ya, aku jadi membuatmu berjuang sendiri" Raf meneteskan kembali air matanya.


"Kak, sudah ya, jangan dibahas lagi, sekarang kita tatap masa depan saja ya" kata Menta untuk menghilangkan rasa bersalah dihati suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, i love you so much" Raf memeluk erat tubuh Menta.


"I love you too kak" jawabnya sambil membalas pelukan sang suami.


__ADS_2