Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Bapak Insinyur


__ADS_3

"Selamat siang ibu-ibu" seorang pria menyapa ketiga tenaga medis yang hendak beristirahat makan siang setelah selesai mengobati para pasien yang datang ke puskesmas.


"Selamat siang pak Insinyur" jawab ketiganya serentak.


"Ini saya bawakan sayur matang, kebetulan ada petani yang sedang panen dan memberikan ini kepada saya, karena jumlahnya banyak, jadi pasti saya tidak akan habis sendirian, makanya saya bawa kesini saja supaya bisa dimakan bersama-sama" sang pria yang bernama Bagas dan berprofesi sebagai insinyur pertanian di desa itu meletakkan rantang makanannya di atas meja ruang istirahat.


"Wahh terima kasih" jawab Rini dengan ceria.


"Ibu-ibu belum pada makan kan? bagaimana kalau kita makan bersama sekalian?" Bagas memberi tawaran.


"Boleh kebetulan kami juga bawa bekal lebih, nanti bapak bisa icip-icip" Karina kemudian mengeluarkan bekal mereka bertiga.


"Bu dokter tidak keberatan kan kalau saya numpang makan di sini?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa pak, silahkan saja" angguk Menta sambil tersenyum. Ia sejak tadi memang tidak begitu mendengarkan ucapan Bagas karena sedang fokus berbalas pesan dengan Runi tentang kemunculan Raf di tempat prakteknya.


"Bu dokter sepertinya sedang sibuk ya?" Bagas bertanya lagi kepada Menta.


"Ah tidak pak, ini sahabat saya, kami sedang curhat saja kok heheheheh" Menta kemudian meletakkan ponselnya dan mengambil makan siangnya.


"Ohhhh" pria itu hanya ber oh ria saja.


"Oya, ngomong-ngomong bu dokter sabtu besok ada acara tidak? kalau ibu senggang saya mau ajak ibu pergi ke kota sebelah" Bagas mulai menjurus. Sesungguhnya sejak awal kedatangan Menta di desa, Bagas sudah menaruh hati pada gadis itu. Ia terus saja berusaha mencari celah untuk mendekati sang dokter.


"Ohhhh, kalau hari lain apakah ada yang senggang?" Bagas tetap mencoba berusaha.


"Saya kebetulan selepas praktek di puskesmas memang selalu ada perkejaan yang harus dikerjakan secara online pak, jadi sepertinya agak susah kalau untuk keluar" Menta bertahan dengan alasannya.

__ADS_1


"Hemmm begitu ya?" Bagas kecewa.


"Iya pak" angguk Menta.


"Bu dokter itu orang sibuk pak, dia ada kerjaan sambilan jadi kontributor majalah kesehatan online di luar negeri, jadi setiap hari harus update berita!" Karina yang paham bahwa Menta tidak ingin pergi bersama Bagas akhirnya menceritakan kesibukan Menta di luar puskesmas. Meskipun pada kenyataannya Menta hanya menulis artikel seminggu dua kali, namun demi rasa setia kawannya, ia pun berbohong.


"Wah benarkah? hebat sekali!" Bagas yang awalnya kecewa menjadi kagum.


"Benar pak, dokter Menta ini lumayan terkenal loh di luar negeri, makanya jadi super sibuk!" Rini pun ikut membantu Menta.


"Ohhhh baiklah kalau begitu saya paham" Bagas kemudian memakluminya.


"Sekali lagi maaf ya pak" Menta berusaha menolak dengan cara yang sesopan mungkin.

__ADS_1


"Tidak apa-apa bu dokter, saya paham kok, nanti saja lain kali ya kalau ada waktu luang" jawab pria itu.


Setelah penolakan halus Menta berhasil, mereka pun kemudian makan dengan diselingi obrolan ringan seputar kegiatan sehari-hari dan pekerjaan masing-masing hingga jam istirahat usai dan mereka kembali melanjutkan perkerjaannya.


__ADS_2