
"Selamat pagi" Menta yang baru saja keluar dari kamarnya bersama sang suami dan putra mereka, menyapa seluruh anggota keluarganya yang sedang duduk mengitari meja makan untuk sarapan.
"Selamat pagi" jawab semuanya dengan serentak.
"Sini Raguel sama grandma, biar papanya sarapan dulu" Tata mengulurkan tangan hendak mengambil sang cucu yang sedang berada digendongan Raf.
"Nonononono papapapapapa" meskipun cara berkomunikasi Raguel masih dalam tahap babbling dengan hanya mengulangi suku kata dalam jumlah yang cukup panjang, namun ia sudah paham jika diajak berbicara oleh orang lain serta dapat meresponnya dengan tepat.
"Papanya Raguel kan mau makan dulu, nanti kalau papa sudah selesai baru main sama Raguel lagi ya!?" Tata yang cukup paham dengan kedekatan cucunya dan sang papa merasa kasihan melihat Raf yang tidak leluasa makan karena harus sambil menggendong sang putra.
"Nononononononono" gelengan kepala bayi itu sangat kencang, tanda menolak sang grandma.
"Sama grandpa deh sini?" Surya mencoba membujuk.
"Nononononononono" lagi-lagi menolak.
"Ya sudah iya, sama papa saja" akhirnya Raf mengalah dengan makan sambil memangku sang putra.
"Ck, kau ini mirip sekali dengan om Bas ya, keras kepala!" Surya geleng-geleng melihat ulah cucunya yang menggemaskan.
"Kok aku sih pa!?" yang disebut namanya protes.
"Ya iyalah, kamu kan keras kepala, jadi nurun tuh sama keponakannya!" Surya menatap putra bungsunya.
"Issshhhhh papa bisanya fitnah anak sendiri!" Bas menggerutu karena perkataan sang papa.
"Papa salah, Bas itu baik kok, nurut lagi, iya kan Bas? tapi kalo ada maunya doang hihihihi" Menta terkekeh.
"Kakkkk!" Bas membulatkan matanya karena sang kakak menggodanya.
"Hahahahahaha" suasana hangat begitu terasa saat keluarga inti Putra Angkasa itu berkumpul bersama dalam formasi yang lengkap, ditambah pula dengan kehadiran Tia sang keponakan yang baru mereka ketahui keberadaannya beberapa waktu lalu.
"Oya, Tia hari ini jadi ke tempat paman?" Menta bertanya.
"Iya jadi, nanti habis sarapan" angguk Tia.
"Mama dan papa juga ikut?" Menta kemudian bertanya kepada kedua orang tuanya.
"Hanya mama saja sayang, papa kan harus ke kantor, sudah beberapa hari tidak masuk, kasihan kerjaannya menumpuk" Tata pun menjawab.
"Kalau begitu aku ikut juga ya, mobilnya mama muat kan kalau tambah aku? kan papa gak ikut!" kata Menta dengan semangat.
"Loh lalu Raf dan Raguel bagaimana?" Tata menatap cucunya.
__ADS_1
"Kak Raf juga habis ini mau pulang ke rumah untuk ganti baju dan siap-siap berangkat ke kantor. Kalau Raguel biar sama mbaknya saja di sini, ada Bas juga kan yang bisa bantu mengawasi?" Menta tersenyum penuh arti kepada sang adik.
"Berani bayar berapa kakak?!" Bas layaknya orang penting yang jasanya sangat dibutuhkan.
"Nanti kakak bayar pakai kecupan yang banyak deh hehehehe" ibu hamil itu terkekeh.
"Ihhhhh ogahhhh!!!!" Bas langsung bergidik.
"Atau sama kak Tia deh kalau gak mau sama kak Menta!" kata mama Raguel lagi.
"Sama aja!!!" kata Bas lagi.
"Hahahahahaha" semua tertawa melihat reaksi Bas, tak terkecuali Tia yang merasa terhibur dan diterima ditengah-tengah mereka.
..........
"Tia habis ini rencananya mau apa?" tanya Menta saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju ke pemakaman Tyo.
"Tia semalam sudah setuju untuk tinggal sama mama dan papa di rumah" Tata yang duduk di kursi depan bersama sang supir membantu menjawab pertanyaan putrinya.
"Benarkah? wahhh senang sekali aku mendengarnya!" spontan ibu hamil itu memeluk sepupunya yang duduk sejajar dengannya di kursi belakang.
Sementara yang dipeluk hanya bisa tersenyum karena bingung harus merespon seperti apa. Ia merasa keluarga sang tante begitu baik menerimanya meskipun pada kenyataannya sikap sang ayah semasa hidup selalu membuat mereka susah dan menderita.
"Oya, katanya Tia jago masak masakan tradisional ya?" Menta kemudian menggenggam tangan Tia.
"Wahhhh aku mau dong icip-icip masakannya Tia" berkata dengan antusias.
"Boleh, Menta bilang saja mau dimasakin apa, nanti biar Tia siapkan" meskipun anggota Putra Angkasa menganggapnya keluarga, namun Tia tetap berusaha memposisikan dirinya sebagai orang luar yang hanya menumpang di rumah mereka, sehingga ia tetap berusaha menjaga jarak.
"Benar ya? uhhh senangnya punya saudara yang jago masak!" meskipun masakannya juga enak, namun Menta begitu menghargai Tia dan mencoba mendekatkan diri dari hal-hal sederhana disekitar mereka.
"Iya" angguk gadis yang sudah menjadi yatim piatu itu.
..........
"Ini" Menta menyodorkan sekotak susu kepada sepupunya yang sedang duduk termenung di depan kolam ikan di samping rumah mewah milik Surya.
"Terima kasih" Tia menerima sambil tersenyum.
"Tia lagi ngapain disini?" ibu hamil yang hendak melahirkan dalam hitungan minggu tersebut bertanya.
"Tidak ngapa-ngapain kok, hanya sedang memandangi keindahan kolam ini saja" katanya.
__ADS_1
"Tia, kalau ada sesuatu yang dibutuhkan atau ingin dibicarakan, jangan sungkan ya, bilang saja sama aku, nanti pasti aku atau yang lainnya bantu!" Menta menatap tajam kedalam mata gadis itu.
"Iya" hanya mengangguk.
"Jangan hanya iya iya saja, tapi harus! kita ini kan keluarga, jadi sudah sewajarnya saling membantu!" mama Raguel meraih tangan Tia.
"Aku tau pasti Tia sungkan kan? dengar ya, kami disini semua menerima Tia dengan tangan terbuka, jadi aku mohon jangan sungkan-sungkan ya?!" kata Menta lagi.
"Menta, maaf ya hiks hiks hiks" gadis itu kemudian tidak bisa menahan perasaannya lagi.
"Maaf kalau selama ini bapak selalu menyusahkan keluarga disini hiks hiks" katanya dengan sesenggukan.
"Heiiii, kenapa mesti minta maaf segala, kan yang salah itu paman, bukannya Tia!" Menta langsung memeluknya.
"Tapikan dia bapaknya Tia!" katanya lagi. dibandingkan dengan Tata dan Surya, Tia memang sepertinya lebih nyaman berbicara kepada Menta.
"Tapi Tia kan juga baru mengenalnya beberapa waktu belakangan ini kan? jadi Tia tidak terlibat dan tidak bersalah sama sekali!" ia mengelus punggungnya untuk menenangkan.
"Pokoknya mulai sekarang Tia jangan terlalu berfikir yang berlebihan, masalah paman itu bukan masalah Tia, kalian berbeda!" mencoba memberi penguatan.
"Kalau ibu tau, pasti ibu akan sangat senang melihat keluarga bapak ternyata tidak sejahat bapak!" Tia berandai-andai.
"Menta tau tidak kenapa aku baru bertemu dengan bapak baru-baru saja?" Tia menyelidik sejauh mana sang sepupu mengetahui riwayat hidupnya.
"Iya tau, tante Desi sengaja melarang Tia bertemu paman Tyo karena tidak mau Tia dipengaruhi hal-hal yang burukkan?" tidak mungkin Menta bilang karena sang ibu membenci bapaknya yang bejat.
"Ibu itu sangat benci sama bapak, setiap kali Tia tanya soal bapak, ibu selalu marah dan menghindar, bahkan sampai meninggal ibu tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun tentang bapak!" jelas Tia.
"Tia justru tau tentang bapak dari tetangga dekat yang kasihan melihat Tia sebatang kara!" imbuhnya.
"Tia harus tetap semangat ya, jangan bersedih lagi, sekarang kan Tia sudah punya keluarga, jadi Tia harus hidup dengan bahagia!" ia memghapus air mata sepupunya.
"Oya, Tia tau tidak? aku mau cerita satu hal unik tentang paman Tyo dan pernikahanku!" Menta kemudian menceritakan secara detail bagaimana Tyo berperan dalam hubungannya dengan sang suami.
"Benar kah!?" Tia sampai melongo mendengar kisah cinta Menta dan Raf.
"He em, lucu ya, jadi sebenarnya paman itu tidak salah seratus persen sih, karena dia juga pahlawan bagi kami, kalau tidak ada paman, maka tidak akan ada Raguel dan dia hehehehe" Menta berkata sambil mengelus perutnya yang sudah sangat buncit.
"Bapakkkkkk" entah apa yang ada dipikiran Tia, tapi sepertinya gadis itu kini lebih sedikit sedikit mencair dan mau membuka diri.
"Nah makanya Tia jangan sungkan lagi, anggap saja ini adalah karma baik karena paman sudah mempersatukan aku dan kak Raf!" ia meyakinkan Tia.
"Iya baiklah!" meskipun masih malu-malu, tapi kini Tia lebih bisa mengekspresikan perasaannya di depan sang sepupu.
__ADS_1
"Ya sudah yuk masuk, disini kan banyak nyamuk" sambil meraih tangan Tia.
"He em" kemudian mengikuti Menta jalan ke dalam ruang keluarga. Mereka kemudian menghabiskan waktu sepanjang siang hingga sore dengan mengobrol seputar kehidupan masing-masing.