Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Sudah Cukup Terlatih


__ADS_3

"Sayang, apa kau yakin tidak mau ikut denganku ke ibukota? nanti biar aku yang mencarikan dokter pengganti untukmu dan bilang ke kepala desa untuk perijinannya!" setelah pertempuran sengit mereka selesai di malam kedua Raf menginap, pria itu pun kemudian membujuk sang istri agar mau kembali tinggal bersamanya seperti dulu saat awal mereka baru menikah.


"Kak, kau tau kan kalau aku datang ke desa ini hanya dengan membawa namaku sendiri tanpa ada bantuan dari siapa pun? aku ingin semuanya berjalan dengan alami, kalau kakak bilang sama kepala desa dan mencarikan ganti untukku, maka itu sama saja dengan nepotisme, aku tidak mau seperti itu kak!" meskipun terlahir dari keluarga yang kaya raya, namun Menta tidak pernah memanfaatkan semua kekuasaan dan harta benda milik orang tuanya untuk meluruskan segala usahanya guna meraih cita-cita yang dia dambakan selama ini.


"Tapi sampai kapan kita akan seperti ini sayang? kau tau kan kalau aku sudah tersiksa hidup tanpamu selama lima tahun belakangan ini? rasanya aku tidak akan sanggup lagi jika harus berpisah jauh seperti kemarin!" Raf benar-benar sudah ketergantungan dengan sang istri.


"Pengabdianku di sinikan hanya satu tahun kak" jelas Menta.


"Tapi janji ya kau tidak memperpanjang pengabdianmu nanti kalau sudah selesai?" Raf menuntut.


"Iya" angguknya.

__ADS_1


"Hufffff baiklah, aku pegang janjimu, tapi kau jangan nakal ya di sini, kalau aku tidak ada kau tidak boleh melirik pria manapun!" pada akhirnya Raf memilih untuk mengalah. Ia tidak ingin memaksa Menta mengikuti kemauannya. Baginya, bisa dimaafkan dan diterima kembali seperti sekarang saja rasanya sudah lebih dari cukup. Terlebih lagi dahulu ia selalu menyakiti hati gadis itu dengan segala ulahnya dan juga Paula. Bagi Raf hal yang paling penting didalam hidupnya kini adalah membuat hidup Menta bahagia. Ia ingin mencurahkan semua hal yang dimilikinya demi membuat sang belahan jiwa merasa nyaman disisinya.


"Memangnya di sini ada siapa sih? sampai aku tidak boleh lirik-lirik segala?" Menta merasa sang suami mulai posesif.


"Itu pak Bagas, memangnya kau pikir dia siapa!?" Raf menggerutu.


"Ciyeeee kakak cemburu ya?" Menta menggoda suaminya.


"Tentu saja, memang kau pikir suami mana yang tidak cemburu kalau melihat istrinya bersama dengan pria lain! memangnya kau tidak cemburu kalau aku bersama wanita lain?" membayangkan Bagas datang menemui Menta saja sudah membuat otak Raf berasap tebal.


"Kau sungguh-sungguh tidak cemburu sama aku?" Raf protes karena wajah Menta datar-datar saja.

__ADS_1


"Aku sudah cukup terlatih, dulu kan aku sudah sering melihat suamiku sama wanita lain, malah sampai sangat mesra, jadi sekarang bagiku itu biasa saja, tidak ada yang perlu dibesar-besarkan!" Menta menjawab dengan santai.


"Sayang maafff" mendengar perkataan sang istri membuat hati Raf seperti ditusuk sebilah pedang. Ia bisa membayangkan bagaimana dulu Menta sangat tersiksa melihat ulah dirinya dan Paula. Meskipun belum ada cinta dihati gadis itu, tapi sebagai seorang istri pastilah hati Menta merasa sedih karena tidak dianggap oleh suaminya sendiri.


"Hehehehehe aku bercanda kok" gadis itu mengembangkan senyumnya.


"Sayang maafkan aku ya, dulu aku memang sangat bodoh!" dengan sikap Menta yang seperti ini sesungguhnya Raf menjadi lebih takut lagi jika harus tinggal berjauhan dari wanita yang sudah memenuhi hati dan pikirannya itu. Selain Raf belum pernah mendengar pernyataan cinta untuknya dari mulut sang istri, tidak adanya rasa cemburu di hati Menta juga mengindikasikan bahwa sang istri belum yakin sepenuhnya terhadap hubungan mereka.


"Sudah malam, tidur yuk, besok kan kakak harus kembali ke ibukota untuk bekerja!" Menta mengalihkan topik pembicaraan mereka. Gadis itu seolah masih membatasi diri dan menjaga supaya hatinya tidak terluka kembali seperti dulu.


"Sayangggg" Raf masih merasa bersalah.

__ADS_1


"Good night kak" Menta menarik selimutnya lebih tinggi lagi untuk menutupi dadanya yang masih polos.


"Good night baby" Raf kemudian meraih tubuh sang istri untuk didekap dengan erat. Meskipun rasa bersalah masih menghantuinya, namun ia tidak mau memaksa Menta untuk memaafkannya dengan segera. Ia lebih memilih memberikan waktu bagi sang istri sambil terus berusaha membuktikan bahwa dirinya sungguh-sungguh serius membangun rumah tangga mereka.


__ADS_2