Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin

Gadis Penghangat Untuk Tuan Muda Dingin
Gombalam Beni


__ADS_3

Menta masih ingat aku tidak?" tanya seorang pria yang sejak awal duduk bersebelahan dengan posisi kursinya namun menghadap samping ke arah ibu hamil itu karena mereka berdua tepat berada di sudut ruangan.


"Maaf siapa ya? aku lupa!" Menta sungguh tidak enak hati karena ia memang sudah lama tidak melihat wajah saudara-saudara sang mama, sehingga menjadi lupa semua.


"Aku Beni, anaknya tante Asti yang paling tua" katanya memperkenalkan diri.


"Ohhhh iya kak Beni, astaga maaf ya kak, habis sudah belasan tahun tidak ketemu, jadi aku benar-benar tidak ingat!" Menta akhirnya mengenali saudara jauhnya itu.


"Iya tidak apa-apa" angguk Beni dengan senyum sejuta wattnya.


"Kakak apa kabar?" tanyanya kepada pria berwajah rupawan itu.


"Baik, seperti yang kau lihat! Kau sendiri apa kabar?" tanya Beni balik.


"Baik kak" Menta pun mengembangkan senyumnya.


"Dengar-dengar kau sekarang sudah jadi dokter ya?" tanya Beni membuka obrolan panjang mereka.


"Iya kak" angguk Menta dengan senyum manis, membuat hati Beni menjadi bergetar.

__ADS_1


"Sudah lama lulusnya?" tanya pria itu lagi dengan antusias.


"Baru sekitar dua jalan tiga tahunan kak" jawabnya.


"Ohhhh" Beni hanya ber oh ria.


"Oya, kakak sendiri sekarang lagi sibuk apa?" Menta bertanya balik.


"Aku hanya sibuk kerja saja" katanya.


"Kakak kerja apa?" Menta yang sudah lama tidak bertemu dengan keluarga jauhnya ini benar-benar antusias. Karena saat ia kecil, Beni termasuk salah satu anak yang suka mengajaknya bermain bersama.


"Woahhhhh kerennnnn" ia berdecak kagum dengan tulus.


"Ah apanya yang keren, biasa saja kok" Beni berusaha merendah meskipun pada faktanya hatinya sangat senang saat dipuji oleh Menta.


"Ishhh kakak ini merendah sekali, jelas-jelas itu sangat keren! Kakak ini sudah tampan, pintar, jadi pengacara pula, ckckckck pasti banyak gadis yang ngantri deh buat jadi pacaranya kakak heheheheh" Menta memang selalu berbicara apa adanya bila sedang mengobrol dengan orang-orang yang dianggapnya cukup dekat terlebih kepada orang-orang yang dianggapnya sebagai keluarga.


"Enggak ada yang ngantri kok" gelengnya.

__ADS_1


"Ah bohong, moso gak ada yang ngantri? jangan bohong hayoooo!!!" karena saat mereka kecil cukup akrab, maka dengan mudahnya Menta kembali membaur dengan pria itu.


"Hehehehehe ada sih, tapi sejauh ini gak ada yang cocok sama aku!!" kekeh pria itu.


"Masa sih gak ada yang cocok? kan pasti banyak yang cantik dan pintar juga!" mama Raguel itu memicingkan matanya.


"Emmmm soalnya gak ada yang kayak kamu di sana!" jawab Beni sambil tersenyum penuh arti.


"Issshhhh dasar kak Beni ini dari dulu gak pernah berubah, selalu bisa aja ngegombalnya!" Menta memasang ekspresi mencibir namun malah terlihat imut dimata Beni.


"Nah kan, gak ada yang kayak kamu gini nih disana, kamu tuh selalu ngegemesin, gak pernah jaga image dan gak dibuat-buat!" kata Beni menunjuk wajah Menta yang masih mencibirnya.


"Kak Beninya jaim juga kali kalo lagi sama cewek, jadi mereka sungkan deh!" ia malah menyalahkan Beni.


"Iya kali yah, tapi biarin aja deh, kan masih ada kamu ini, biar nanti kamu aja yang jadi pacar aku hehehehe" pria itu terkekeh. Meskipun hanya terkesan candaan namun sesungguhnya Beni cukup memendam rasa kepada Menta. Sejak tadi ia melihat Menta datang untuk pertama kali, hatinya langsung bergetar dan merasakan sesuatu. Bahkan saking fokusnya ia menatap wajah cantik Menta, pria itu sampai tidak sadar jika wanita yang ia sukai sedang hamil anak ketiga.


"Idihhhh emangnya siapa yang mau sama kak Beni? dasar kakak geer!" Menta malah semakin mencibir.


"Ya kali aja kamu mau sama aku, jadinya kan aku gak usah repot-repot cari yang lain!" Kondisinya dan orang tua yang tinggal di luar negeri sejak belasan tahun silam memang membuatnya jadi tidak update tentang keadaan keluarganya yang ada di tanah air, sehingga informasi tentang pernikahan Menta pun tidak pernah ia dengar sebelumnya. Bahkan ia baru tau kalau Runi sudah menikah saat tadi mereka baru kembali bertemu.

__ADS_1


Beberapa saat mereka berdua pun terlibat obrolan. Karena posisi duduk Menta yang cukup jauh dari semua keluarganya, ia pun seolah jadi seperti terasing di sudut ruangan. Ia bahkan tidak tau dimana keberadaan suami dan anaknya yang sejak datang tadi sama sekali tidak masuk ke dalam ruang tamu rumah Asti. Terpaksa ia pun meladeni semua gombalan Beni. Meskipun awalnya ia menganggap itu hanya sebuah candaan, namun lama kelamaan rasanya ia menjadi risih juga.


__ADS_2