
Sementara itu di dalam kamar rawat Menta masih terbaring tidak sadar. Raguel yang sangat haus dengan lahapnya meminum ASI langsung dari sang mama yang tergolek lemah tak berdaya. Cukup lama bayi mungil itu minum dan bermain-main dengan dada mamanya.
"Raguel, panggil mama nak, bilang cepat bangun ma" Raf yang menjaga istri dan putranya mencoba memprovokasi sang putra agar lebih aktif berkomunikasi dengan Menta.
"Mamamama bobobok" Raguel menunjuk kearah wajah Menta yang terlihat seperti orang tidur pulas.
"Cium mama, panggil mama!" kemudian Raf mengangkat sang putra mendekati wajah istrinya.
"Mamamamamama muahhhhhh" ia mengikuti perintah sang papa untuk mencium pipi mamanya.
"Anak pintar" Raf mengelus kepala putranya.
"Cium mama sekali lagi" kemudian mengarahkan bibir kecil Raguel ke pipi Menta.
"Muahhhhhh muahhhhhh muahhhhhhh" dengan senang hati bayi itu mengecup pipi mamanya lagi lagi dan lagi.
"Mimimimimik" Raguel menatap sang papa sambil menunjuk sumber ASInya.
"Oh Raguel masih haus ya?" ia membantu putranya pindah posisi lagi.
"Cap cap cap cap ahhhhhh" bayi itu mengecap bagian ujungnya dengan gemas.
"Euuugggghhhhh" sementara suara lenguhan kecil terdengar dari mulut sang mama yang merasakan adanya pergerakan dibagian dadanya.
"Mama sudah bangun?" Raf yang mendengar suara lirih sang istri dan gerakan dari matanya langsung terlonjak.
"Paaaaa" suara parau khas orang bangun tidur terdengar dari mulut wanita beranak tiga itu.
"Sayang, akhirnya kau sadar juga" air mata tak bisa terbendung dari wajah tampan Raf.
"Mamamamamama" Raguel tersenyum saat melihat sang mama membuka matanya.
__ADS_1
"Sayang, anak mama" Menta balas tersenyum menatap wajah putranya yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Mama kenapa pa?" Menta yang baru sadar sama sekali tidak ingat apapun.
"Mama pingsan setelah melahirkan" Raf hanya bercerita sekedarnya saja, ia tidak mau membebani pikiran Menta dengan hal-hal yang berat.
"Mana bayi kita pa?" Menta yang hanya melihat Raguel saja, kemudian mencari keberadaan bayi yang baru dilahirkannya, seketika rasa takut kehilangan bayi itu muncul seperti saat ia kehilangan Junior dulu.
"Dia sedang bersama grandma-grandmanya di ruang perawatan bayi ma" Raf yang paham akan ketakutan sang istri kemudian menenangkannya.
"Apa dia baik-baik saja?" Menta belum tenang sepenuhnya.
"Dia baik ma, sehat, sehat sekali malahan" Raf tersenyum untuk meyakinkan sang istri.
"Mama mau melihatnya pa" pinta sang istri.
"Iya ma, sebentar ya, tapi sebelumnya papa panggilkan dokter dulu ya untuk mengecek kondisi mama" Raf kemudian menekan tombol panggilan.
"Dok istri saya sudah sadar" Raf melaporkan kondisi sang istri.
"Coba saya cek dulu ya" kemudian dokter wanita itu mendekat.
"Ayo sayang, sama papa dulu ya" Raf menggendong putranya.
"Nonononono mamamamamama hwaaaaaaaa" Raguel menolak dipisahkan dari mamanya.
"Mama lagi di periksa dulu sama ibu dokter" sang papa mencoba memberi pengertian.
"Nononononono" entah mengapa Raguel menolak Raf, padahal biasanya ia sangat lengket dengan sang papa.
"Tidak apa-apa tuan, biar sama nyonya saja seperti tadi" dokter yang kasihan pun mengijinkan Raguel kembali duduk di sebelah mamanya.
__ADS_1
"Mamamamamama mimimimimik" katanya sambil kembali sibuk dengan dada sang mama.
"Haus ya?" sang dokter memeriksa sambil mengajak Raguel mengobrol.
"Iyahhhh" angguk Raguel menjawab pertanyaan dokternya.
"Pintar sekali sih sudah bisa menjawab" sang dokter pun dibuat gemas.
"Bagaimana dok?" tanya Raf setelah dokter selesai memeriksa.
"Kondisinya sudah stabil, mudah-mudahan bisa segera pulih" kata sang dokter.
"Syukurlah" Raf seperti disiram dengan air es.
"Apa saya bisa bertemu bayi saya dok?" Menta yang ingin sekali melihat bayinya bertanya dengan tidak sabar.
"Tentu saja boleh nyonya" angguk sang dokter.
"Oya, kalau nyonya sudah merasa lebih enakan, nanti bisa pelan-pelan mencoba makan makanan lunak ya supaya ada tenaga, apalagi nyonya kan harus menyusui dua bayi" pesan sang dokter sambil menatap Raguel yang masih sibuk minum ASI.
"Baik dok" angguk Menta yang merasa sudah baik-baik saja.
"Lalu jangan berdiri dulu ya, kalau mau duduk pelan-pelan saja, jangan dipaksa nanti pusing" pesannya lagi.
"Iya" jawab Menta lagi.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu ya tuan, nyonya, nanti kalau ada apa-apa silahkan panggil saya lagi" kata sang dokter.
"Terima kasih dokter" kata Raf mengiringi kepergian sang dokter.
"Sama-sama" kemudian menutup pintu kamarnya.
__ADS_1