
"Dasar sepupu brengsek, bikin repot saja bisanya!" terdengar suara seorang pria menggerutu di teras rumah dinas saat hari sudah sore menjelang malam.
"Raf, Raf, buka pintunya ini kopermu!!" suara pria itu kini memanggil Raf.
"Berisik sekali sih kau ini" Raf yang sedang berada di dalam rumah dinas langsung keluar.
"Bagaimana aku tidak berisik, kau selalu saja membuat aku repot sepanjang waktu!" omel Rich.
"Tapi aku kan tidak menyuruh kau untuk membawakannya" jawab Raf.
"Kau memang tidak menyuruhku, tapi nyonya-nyonya Anderson itu yang menyuruhku, mereka semua selalu menjadikan aku tumbal untuk memantau keberadaanmu!" Rich yang dimintai tolong oleh Ananda, Ayu dan Maya benar-benar emosi karena selalu disuruh untuk menjaga sang kakak sepupu, terlebih dulu saat kondisinya masih frustasi.
"Kau kan bisa menolaknya, lagian aku juga punya baju ganti kok di sini, Menta yang menyiapkannya setiap hari!" Raf menjawab dengan enteng. Selama beberapa hari di desa, Raf memang memakai 2 pasang baju secara bergantian dengan sistem cuci kering pakai.
"Enak sekali kau bilang menolak, memang kau pikir aku punya berapa nyawa untuk menolak permintaan mereka hah!?" meskipun Rich adalah seorang playboy yang sikapnya acuh tak acuh, namun ia tetaplah anak yang selalu patuh kepada perintah orang tuanya.
"Hahahahah, plaboy cak kampret sepertimu ternyata punya rasa takut juga ya?" Raf malah mengejek.
"Berisik kau, awas ah aku mau masuk!" Rich kemudian menyerobot begitu saja.
"Kak Rich?" Menta yang sedang duduk di ruang TV bersama Karina, Rini dan Runi menoleh ke arah suara Rich.
"Hai kakak ipar, wah ramai sekali di sini! hai Karina, Rini!" Rich menatap kedua rekan kerja Menta secara bergantian.
"Hai kak Rich" keduanya pun membalas sapaan Rich.
"Ada tamu ya? siapa nona cantik ini? sepertinya aku belum pernah bertemu sebelumnya? hai nona, perkenalkan aku Richard Anderson!" sapanya sambil mengulurkan tangan dengan gaya sok coolnya.
"Hai kak Rich apa kabar, lama tidak berjumpa!" Runi membalas uluran tangan Rich dengan gaya yang elegan dan berkelas.
"Nona mengenalku?" Rich yang merasa belum pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya merasa heran.
"Kak apa kau tidak ingat sama sekali? ini Runi!" Menta yang melihat wajah Rich bingung bercampur kagum dengan wajah cantik di depannya pun ikut bicara.
"Sayang, playboy seperti dia mana mungkin mengingat satu persatu gadis yang pernah ia jumpai sebelumnya!" Raf berkata sambil merangkul posesif pinggang sang istri.
"Tunggu, kau Runi? Arunika!?" Rich seperti tersambar petir.
__ADS_1
"Ka,, kau sangat berubah!" pria itu tergagap menatap wajah cantik Runi yang berkilau, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Runi yang ia kenal lima tahun silam.
"Waktu bisa mengubah seseorang, seperti halnya Menta dan kak Raf, aku pun juga bisa berubah, mungkin juga kak Rich!" jawab Runi dengan nada dingin.
"Runi aku,," Rich seperti kehilangan kata-katanya.
"Sudah-sudah ayo duduk kak" Menta yang melihat kondisi sudah tidak lagi kondusif kemudian menetralisir keadaan.
"Oya, kak Rich kesini sengaja mau mengantarkan ini ya?" tanya Menta sambil nenunjuk koper besar yang dibawa sepupu suaminya itu untuk mengalihkan perhatian.
"Aku disuruh oleh Bunda, Mom dan Tante" Rich kembali menggerutu mengingat alasan kedatangannya.
"Ohhhhh" Menta hanya ber oh ria saja.
"Tapi kenapa banyak sekali? seperti mau pindahan saja!" tanya Menta lagi.
"Tentu saja, aku kan memang mau pindah ke sini agar bisa dekat denganmu terus!" jawab Raf sambil dusel-dusel leher sang istri.
"Ck, gara-gara kau, aku pun jadi kena imbas disuruh tinggal disini juga!" Rich kembali mengomel.
"Tapi kan seharusnya bukan sekarang, itu masih bulan depan!" Rich juga tidak terima.
"Siapa yang peduli!" Raf hanya sibuk memeluk dan mengendusi Menta, bahkan ia sama sekali tidak merasa malu dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"Kak jangan begini ahhhhh" Menta merasa malu melihat kelakuan suaminya yang sudah bucin akut dengannya.
"Memangnya kenapa? kita kan pasangan sah sayang!" bukannya melepaskan pelukannya, Raf malah semakin posesif.
"Iya aku tau, tapi tetap saja tidak baik di depan banyak orang" Menta masih berusaha memberi pengertian kepada Raf.
"Baiklahhhh" dengan berat hati Raf pun kemudian melepaskan pelukannya, namun demikian ia tetap saja tidak mau jauh-jauh dari sang istri dan terus saja menempel bak perangko.
"Oya, jadi kak Rich juga akan tinggal di sini?" Menta memperjelas lagi.
"Iya, aku dan Raf akan tinggal di rumah yang kemarin kami tempati saat sedang survey lokasi, sampai proyek ini selesai nantinya" angguk pria itu.
"No way, aku tidak mau tinggal di sana, aku mau disini saja sama istriku tersayang!" Raf menolak.
__ADS_1
"Apa-apaan kau ini hah?" kau yang menjerumuskan aku tinggal di sini, lalu kau mau membiarkan aku hidup sendiri? tidak bisa, kalau kau tinggal di sini maka aku juga akan tinggal di sini bersamamu!" Rich tidak mau sendirian.
"Apa kau sudah gila? disini isinya para gadis semua selain istriku, kalau kau disini, bisa habis mereka semua nanti kau lahap hidup-hidup! tidak ada, tidak ada, kau tidak punya tempat lagi di sini!" Raf tidak terima.
"Bodo amat, pilihan ada ditanganmu, kau mau aku di sini, atau kau yang ke sana!?" Rich memang licik.
"Ck, dasar playboy cap rubah!" sang kakak sepupu berdecak kesal.
"Sudah-sudah jangan ribut, kakak mengalah saja ya, kakak saja yang tidur di sana sama kak Rich ya?" Menta menengahi.
"Tapi bagaimana dengan kita sayang? aku tidak mau tidur terpisah darimu lagi!" Raf merengek.
"Ya sudah biar adil Menta ikut kesana saja, toh tidak jauh ini jaraknya" Karina yang melihat mereka ribut mencari jalan keluar.
"Benar, lagi pula kan disini masih ada Runi, jadi kami masih punya teman juga" Rini mengangguk setuju.
"Nah benar, kakak ipar saja yang pindah bersama kami, anggap saja kakak ipar sedang berbakti kepada suami heheheh" Rich menang.
"Sayang bagaimana?" mendengar usul tersebut Raf cukup setuju.
"Baiklah, tapi apa Runi tidak apa-apa kalau tidur terpisah rumah denganku?" Menta menatap Runi.
"Kau pikir aku gadis pengecut apa? aku sudah terbiasa hidup mandiri, jadi jangan pikirkan aku!" jawab Runi dengan santai namun tetap elegan.
"Terima kasih ya" Menta merasa senang memiliki sahabat rasa saudara kandung seperti Runi.
"Iya sama-sama" angguk Runi dengan senyum manisnya.
"Oya, bagaimana kalau kita lanjutkan mengobrolnya sambil makan malam? nanti setelah makan malam barulah kalian pergi ke rumah yang satu lagi untuk istirahat!" Rini mengingatkan mereka untuk makan malam.
"Benar, aku juga sudah lapar" angguk Karina.
"Ayo kalau begitu kita siapkan" Menta kemudian berdiri.
"Biar aku bantu" Runi pun beranjak mengikuti yang lainnya menuju dapur, meninggalkan Raf dan Rich yang masih duduk di ruang TV.
Malam itu mereka semua menikmati kebersamaan diakhir pekan dengan suasana yang cukup ramai. Kedatangan Runi dan Rich dalam waktu yang hampir bersamaan membuat rumah dinas menjadi ramai. Mereka mengobrol tentang banyak hal hingga waktu menunjukkan tengah malam dan memaksa mereka untuk istirahat. Sesuai dengan kesepakatan, akhirnya Raf dan Rich pun tinggal di rumah yang disediakan oleh perusahaan Anderson untuk mereka berdua selama proyek berlangsung ditemani oleh Menta. Sementara Karina, Rini dan Runi tetap tinggal di rumah dinas.
__ADS_1